Seorang gadis tengah memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya yang telah dioleskan selai stroberi. Mulutnya sibuk mengunyah pelan.
Kepalanya tiba-tiba menoleh ketika merasa ada orang lain yang duduk selain dirinya di sofa panjang.
"Adara,"
"Ada apa?"
Adara bertanya dengan alis kanan terangkat.
"Hari ini kamu nggak ke sekolah?"
Adara menelan sisa roti terakhir yang dikunyahnya kemudian ia mengambil segelas air putih lalu meneguknya.
Sembari menaruh gelas Adara menjawab, "Memangnya kenapa?"
"Hari ini, hari pertama kamu ke sekolah baru kamu. Harusnya kamu masuk supaya dapat teman baru."
"Punya teman satu itu lebih baik daripada punya teman banyak tapi cuman mau dimanfaatin aja," ucapnya lalu beranjak pergi.
Helaan napas berat diembuskan Andira, kakak perempuannya. Sikap Adara yang tiba-tiba tertutup membuat dirinya terkadang bingung, apa yang sebenarnya telah terjadi sampai-sampai adiknya tidak mau bergaul dengan teman sebayanya sekarang selain sahabatnya di Bandung.
Sejak Adara masuk SMA pun sikapnya semakin parah saja. Dan anehnya, tiba-tiba adiknya ingin melanjutkan kelas sebelasnya di sekolah baru saja, di Jakarta.
•••
Hari ini saatnya Adara masuk ke sekolah barunya, SMA Pelita Jaya. Dengan seragam yang telah rapi serta rambut yang dibiarkan tergerai panjang, ditambah polesan bedak tipis dan lipbalm kini Adara terlihat cantik secara natural.
Adara menatap dirinya dari pantulan cermin, senyum manisnya terlihat dengan jelas.
"Semoga hari pertama menyenangkan," gumamnya.
Adara kemudian berbalik dan turun.
"Pagi Umi, Kak."
Tentunya sapaan itu dibalas dengan hangat.
"Makan dulu, Ra," kata Aisyah, Uminya Adara yang sedang menaruh piring di meja bundar.
Adara mengangguk pelan. Ia lalu menaruh tasnya dan mengambil nasi goreng buatan Aisyah.
Setelah selesai makan Adara berpamitan.
Adara memilih pergi sendiri di hari pertama ia sekolah. Padahal Abinya telah bilang dari semalam bahwa Adara akan diantar olehnya. Namun dengan halus Adara menolak. Katanya ingin menikmati udara segar di pagi hari dengan naik sepeda.
Suasana sekolah pertama bagi Adara terasa sangat asing. Biasanya ia akan selalu disapa hangat oleh orang-orang. Namun sekarang itu tidak akan pernah terjadi lagi, bahkan Adara tidak ingin terjadi hal semacam itu.
Adara memarkirkan sepedanya di parkiran motor paling ujung.
Adara berjalan menelusuri koridor. Lima menit lagi bell akan berbunyi dan ia masih sibuk mencari kelas barunya.
"Ah, benci banget! Harusnya datang lebih awal," gerutunya.
"Eh cewek!"
Adara berhenti sejenak.
Soalnya ia tidak merasa namanya dipanggil jadi Adara melanjutkan langkahnya.
"Aduh! Eh cewek yang lagi jalan, yang pake jam tangan warna putih," serunya lagi.
Beneran deh, Adara kesal. Ia lalu berhenti lagi karena merasa sedang memakai jam tangan putih.
"Iya kamu!"
YOU ARE READING
One Day (You love me)
Roman pour Adolescents"Gue tanya sekali lagi. Lo ada rasa sama gue?" Saat diajukan pertanyaan semacam itu. Adara enggan menjawab tidak, tetapi menjawab iya pun tidak bisa. "Suatu hari nanti. Lo akan tau jawabannya beserta alasannya. Tunggu kita sudah memahami keadaan ini...
