1.

317 19 4
                                        


"UNTUK JUNIOR PMR YANG BARU DATANG PIMPINAN SAYA AMBIL ALIH, SIAP GRAK!"

"CEPAT DEK, SUDAH DIAMBIL ALIH" teriak senior yang lainnya dari dekat pintu masuk aula. "LARI!"

Aldana Angela Aurum..

Cewek cantik berambut hitam legam terkucir rapi di belakang yang baru saja meletakkan tasnya diatas meja itu sontak berlari secepat-cepatnya setelah mendengar aba-aba diambil alih ditambah teriakan itu.

Hari ini adalah hari pertama ekstra PMR dimulai. Namun, Alda terlambat hampir dua puluh menit. Bukan waktu yang sebentar. "Ck" dia berdecak kesal. Baru pertama kali masuk udah terlambat pasti namanya akan jelek di depan seniornya.

Dia berdiri seorang diri. Dari hampir seratus anak yang ikut ekstra ini hanya dia yang datang terlambat dengan waktu yang terhitung lama.

"Instruksinya apa?"

Alda yang semula terengah-engah dengan posisi tubuh agak menunduk dan tangannya yang memegangi dada karena sesak sekarang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi berdiri tegak dengan kedua tangan mengepal tepat berimpitan dengan jahitan celana serta pandangan lurus ke depan-sikap sempurna-setelah mendengar pertanyaan dengan nada tenang tapi mematikan.

"Kenapa baru datang?"

"Sori, tadi masih-"

"Eh, maaf ya kak? Tadi masih kerja kelompok di rumah temen" jawab Alda ragu. Dia segera meralat kalimatnya setelah menyadari sesuatu yang teramat sangat penting dalam organisasi.

Adik-kakak. Salah satu peraturan diekstra ini hanya ada panggilan 'adik-kakak'. Padahal waktu SMP, dia langsung memanggil nama seniornya tanpa embel-embel 'kakak', dan mulai sekarang dia harus terbiasa memanggil seniornya dengan embel-embel 'kakak' kalau tidak mau dicap sebagai junior yang nggak punya sopan santun sekaligus junior yang kurang ajar sama senior.

Dia memperhatikan wajah seniornya itu. Datar. Sangat datar. Matanya menatap tajam lurus ke depan.

"Hadap serong kiri, grakk!"

"Lakukan sepuluh kali konsekuensi..." senior itu menahan kalimatnya sejenak, "hitungan dari saya"

Sepuluh kali? Alda ternganga.

"Lima kali aja ya, kak? Masih capek nih habis lari. Biasanya juga cuma dua atau tiga kali" dia memasang wajah memelas. Berharap agar cowok di depannya itu iba melihatnya.

"Kamu telat berapa lama?"

"Dua puluh menit, kak"

"Oke! Dua puluh kali konsekuensi, mulai dari seka-"

"Yaudah, sepuluh nggak apa-apa deh," tanpa sadar dia memotong instruksi seniornya. Wajah senior itu memerah.

"Tiga puluh kali konsekuensi!" kata senior itu dengan nada khas senioritas yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.

"Satu.."

"Dua.."

"Tiga.."

"Empat.."

"Lima......"
.
.
.
.
.
.

"Tiga puluh!"

Seketika itu muka Alda ikut memerah. Mengalahkan merahnya muka senior didepannya. Bahkan terasa kepalanya ingin meledak dan seluruh isinya ingin keluar. Sorot permusuhan terlihat jelas di sepasang mata sipitnya.

Dia mengatur napasnya sejenak lalu kembali ke sikap sempurna sebelum mendapat pertanyaan mematikan lagi.

"Serong kanan, grakk!" setelah dia kembali ke posisi semula, dilihatnya dada kanan senior itu.

Ajkw.

Nama senior itu Ajkw.

Pantesan galak amat, namanya aja aneh gitu. Gue yakin guru Bahasa Indonesia nggak bisa meng-eja itu nama. Batinnya.

Dia tersenyum meremehkan.

Entah itu hipotesa darimana. Nama sama galak, hubungannya dimana coba? Temen? Bukan. Sodara? Jauh. Orang tua? Apalagi. Mungkin dari semua orang di dunia cuma dia yang mempunyai pemikiran kalo nama yang aneh menyebabkan seseorang menjadi galak.

"Ada yang lucu?"

Ternyata Ajkw memperhatikannya. Dia melihat senyum meremehkan diwajah cewek itu. Wajahnya semakin memerah. Matanya melebar dan menatap Alda tajam membuatnya mengerjapkan matanya dan agak menundukkan kepala.

"E-enggak, kak" jawabnya terbata-bata. Dan dia pun masih menundukkan kepalanya.

"Tolong jaga sikap kamu, ini baru hari pertama masuk. Jaga sopan santun kamu"

Dia hanya mengangguk pelan.

"Punya mulut, kan?"

Alda menghela napas. "Iyaa, kak" beberapa detik kemudian dia menjawab masih sambil menundukkan kepalanya.

"Posisinya apa?"

"Siap, kak"

"Kenapa menunduk?"

Oh, Tuhan!!! Makhluk macam apa iniii? Kenapa gue selalu salahhh ?

Kalimat itu bukan hanya ingin dia katakan. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya, biar semua orang tau kalau dihadapannya ada makhluk aneh yang telah membuat tensinya dari 100/70 menjadi tak hingga.

"CK" entah ini decakan keberapa kalinya di beberapa menit terakhir ini.

Setelah dia mendongakan kepalanya, dia menatap tajam Ajkw tepat di manik matanya. Bisa dipastikan senior itu melihat dengan jelas muka kesal Alda. Namun, sepertinya dia tak menghiraukan sama sekali.

"Setelah ini silakan bergabung dengan teman-teman kamu di depan aula. Dan jangan ulangi kesalahan seperti ini. Mengerti?"

"Mengerti, kak!"

"Tanpa penghormatan umum bubar barisan, jalan!"

Alda segera balik kanan. Kedua alisnnya saling bertaut. Bibirnya meruncing. Dia berjalan dengan hentakan yang keras untuk meluapkan kekesalannya.

Kalo gue punya power, udah gue kutuk makhluk kaya gitu jadi semut sekarang. Biar bisa gue injak-injak.

***

Hallo semua!! Ini cerita pertama aku, maaf kalo ngebosenin. Happy readings yaa?? Jangan lupa vote +comment..!!

Secret kadoOnde histórias criam vida. Descubra agora