Bab 9 : Hampa (Bagian 1)

1.7K 160 9
                                    

"Connor, pergilah untuk menghirup udara. Kelsey baik-baik saja. Aku akan menemaninya...."

Bujukan Jess itu tetap tidak membuat Connor bergerak dari tempatnya. Mobil itu tidak benar-benar menabrak Kelsey karena Hunter berhasil menarik Kelsey di waktu yang tepat. Namun gaya dari tarikan itu membuat Kelsey terjatuh dan membenturkan kepalanya cukup keras ke trotoar.

Dokter berkata kondisi Kelsey stabil dan cedera kepalanya tidak mengkhawatirkan. Mungkin efek syok yang saat ini membuat Kelsey tidak sadarkan diri. Tetap saja, selama Kelsey masih belum membuka matanya, Connor tidak akan pernah pergi dari sisinya.

"Connor...."

"Aku baik-baik saja," tukas Connor. Tangannya bergetar dan Connor tahu Jess bisa melihatnya, namun Jess tidak mengatakan apa-apa.

Jess menghela napas, lalu menyentuh bahu Connor sebelum akhirnya pergi.

"Syukurlah sahabatmu itu tidak keras kepala sepertimu," bisik Connor. Tangannya menggenggam tangan Kelsey lembut. "Bangunlah, Kels...."

Tidak ada jawaban, tentu saja. Namun Connor tidak peduli. Ia hanya ingin kakaknya tahu bahwa ia akan selalu ada, apa pun kondisinya.

"Kau tahu, aku tidak pernah benar-benar marah padamu. Aku ... terlalu menyayangimu. Yah, kau selalu menyebalkan, tapi kau kakakku. Setelah kepergian Ayah dan Daniel ... aku tahu kau juga terluka. Tapi kau tetap tegar. Untukku. Kau alasanku tetap bertahan, Kels. Bahkan setelah kau pergi, aku tahu kau masih hidup di luar sana. Karena kau melakukan itu untukku, bukan? Kau tidak pernah meninggalkanku," lanjut Connor. "Dan aku tidak akan meninggalkanmu...."

Setelah itu hanya ada keheningan. Connor membiarkan waktu berlalu. Dalam hati memanjatkan doa-doa penuh permohonan, agar kakaknya itu kembali padanya. Karena sungguh, hanya Kelsey yang ia miliki di dunia ini.

"Connor?"

Panggilan itu membuat Connor terpaku. Perlahan, ia menoleh. Hunter berdiri di ambang pintu. Tanpa berpikir panjang Connor menghampirinya dan mendorongnya keluar dari kamar rawat Kelsey. Connor tidak peduli jika pelatih yang sangat dihormatinya itu terlihat berantakan. Connor menyalahkannya untuk semua penderitaan yang Kelsey alami.

"Pergi sebelum aku membuat keributan," desis Connor.

Hunter menggeleng.

"Aku hanya perlu melihatnya...."

"Dan perbedaan apa yang akan terjadi setelah kau melihatnya?" potong Connor. "Kau meninggalkannya ketika ia membutuhkanmu! Kau membiarkannya menanggung luka itu! Dan sekarang ... kau yang membuatnya seperti ini! Apa belum cukup? Apa semua itu masih tidak cukup untukmu?!"

"Connor, dengar—"

"Aku tidak mau mendengar apa pun. Kau sudah menghancurkan kakakku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu berada di dekatnya lagi," sela Connor tajam. "Dan haruskah kukatakan padamu? Kakakku tidak akan pernah memaafkanmu."

Setelah itu Connor meninggalkan Hunter yang terhenyak di lorong rumah sakit.

***

Kelsey membuka matanya.

Selama beberapa saat ia hanya bisa mengerjap. Bingung dengan sekitarnya. Kelsey menolehkan kepala, melihat adiknya sedang menunduk dengan kedua tangan saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih. Satu senyum mengembang di bibir Kelsey.

"Connor...."

Tersentak, Connor segera mendongakkan kepalanya. Matanya terbelalak ketika melihat Kelsey sudah sadarkan diri.

"Kels...."

"Untuk apa kau menangis seperti itu?" tanya Kelsey lemah.

"Oh, Kelsey, kau sudah bangun! Kau membuka matamu!" seru Connor tertahan. Tangannya langsung bergerak menuju tombol di samping tempat tidur Kelsey.

Tak lama, dokter dan suster masuk ke dalam ruangan dan memeriksa Kelsey. Setelah itu mereka membawa Kelsey untuk melakukan CT Scan. Setengah jam kemudian, dokter kembali untuk mengatakan bahwa Kelsey akan baik-baik saja. Ia pun tersenyum dan meminta agar Kelsey meminum obatnya secara teratur juga beristirahat yang banyak.

"Apa ... yang terjadi?" tanya Kelsey setelah dokter pergi.

Connor kembali duduk di sisi Kelsey.

"Kau mengalami kecelakaan," jawab Connor pelan. "Sebuah mobil hampir menabrakmu. Kau membentur kepalamu cukup keras. Dan kau tidak sadarkan diri selama satu jam."

"Oh," gumam Kelsey.

Lalu seluruh kilasan dari hari itu membanjiri Kelsey. Membuat gadis itu mengernyit, seperti menahan sakit.

"Kels, kau baik-baik saja?" tanya Connor panik.

"Aku hanya membutuhkan istirahat," jawab Kelsey menenangkan adiknya. Di tengah rasa sakit juga pedih di hati, Kelsey merasa hangat karena Connor mencemaskannya. Kelsey memiliki Connor, dan hanya itu yang penting untuk saat ini.

Connor menggenggam tangan Kelsey, lalu tersenyum.

"Tidurlah. Aku akan menjagamu, Kels...."

Sebelum Kelsey sempat memejamkan mata, seseorang masuk ke dalam ruangan dan membuat napasnya tercekat.

Hunter.

Connor segera bangkit berdiri. Menghalangi Hunter sepenuhnya.

"Apa yang kau lakukan? Apa kau masih tidak mengerti? Kakakku tidak membutuhkanmu!"

Hunter menatap Connor dengan sungguh-sungguh. Bahkan ada sirat permohonan di kedua mata hijaunya. Siapa pun yang melihat Hunter akan tahu betapa kacau dirinya. Pikirannya bercabang dan tidak henti berdebat, sementara hatinya masih terus disiksa oleh rasa bersalah. Dan kini, melihat Kelsey yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit hanya membuat Hunter semakin tertekan.

"Biarkan aku bicara dengannya," ucap Hunter. "Ada yang harus—"

"Tidak ada," sela Kelsey. Matanya menatap Hunter lurus, tanpa menyembunyikan luka menganga di dalamnya.

"Kau harus—"

"Aku tidak harus melakukan apa pun yang tidak kuinginkan," sela Kelsey lagi. "Dan aku tidak ingin melihatmu. Pergi."

Hunter melewati Connor dengan paksa, lalu meraih tangan Kelsey. Saat itulah, sikap dingin Kelsey lenyap. Gadis itu menepis tangan Hunter dengan cepat, lalu sebuah jeritan tersuarakan dari bibirnya yang pucat.

"Pergi dari hadapanku! Aku tidak ingin melihatmu!"

"Kelsey, aku menyesal. Aku sungguh menyesal. Tidak ada satu hari yang terlalui tanpa aku memikirkanmu! Tanpa hatiku yang tersiksa karena sudah gagal menyelamatkanmu!"

"Aku tidak peduli!!!" Kelsey berteriak semakin keras. Meski kepalanya mulai berdenyut, Kelsey tidak bisa menahan dirinya. "Aku tidak membutuhkanmu! Aku muak pada seluruh kebohonganmu! Aku membencimu!!!"

Hunter membeku di tempatnya. Melihat air mata yang meleleh di wajah Kelsey membuatnya lebih terluka. Karena ia adalah penyebab tangis itu.

"Pergi dari hadapanku! Pergi!!!"

Hunter masih membeku. Tidak percaya bahwa sekali lagi, ia telah gagal. Ia menyakiti satu-satunya gadis yang paling berarti baginya. Ia melukai gadis itu hingga titik di mana kata mengerikan saja sudah tidak cukup untuknya.

Kelsey masih terus terisak, sementara Connor bergerak cepat untuk menyingkirkan Hunter. Selama proses penarikan paksa yang dilakukan Connor, Hunter masih bisa mendengar isakan Kelsey dengan jelas.

"Aku membencimu, Hunter Barthram.... Aku membencimu...."

***

Yuhuuuu~ siap-siap buat kejutan di minggu depan! ^^

P.S : Memories of Love akan tayang setelah Lost Girl selesai ;)

Lost Girl (Lost #2)Where stories live. Discover now