Rora's Note : Hai semuanya, ini adalah karya terbaru dan pertama aku. Ceritanya mainstream banget dan aku terinspirasi dari salah satu kejadian nyata yang aku baca di Line. Jadi, jika ada kesamaan cerita dengan kehidupan nyata 'itu' harap maklum. Juga, ini benar-benar karya aku, jadi jika ada kesamaan dan lain-lain, itu adalah ketidaksengajaan. Kritik dan saran kalian sangat aku tunggu. Terima kasih...
***
Menyebalkan, keluh Jena yang kini tengah bersungut menatap riuhnya air hujan melalui kaca jendela tempat kerjanya. Jam dinding dan jam tangannya menunjukkan pukul setengah enam sore dan hanya dia yang posisinya sebagai karyawan, masih setia berada di surganya belanja ini. Butik. Ya, Jenahara Putri adalah salah seorang pegawai di butik kenamaan yang letaknya berada disalah satu sudut pusat kota Yogyakarta.
"Jena, tidak pulang?" tanya seorang wanita bergaya elegan dengan rambut berwarna pirang khas campur tangan dari tangan-tangan andal orang salon.
Jenahara menoleh dan segera beranjak dari duduknya. Ia juga tak lupa mengubah ekspresi kesal menjadi seramah mungkin. "Belum, Bu. Saya lupa membawa jas hujan. Jadi, saya minta izin untuk berteduh di butik sedikit lebih lama ya, Bu?"
"Wah kebetulan sekali. Aku juga lagi butuh teman sharing." Wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu segera duduk di samping Jena. "Jadi begini Jen, tadi ada pelanggan yang memesan gaun malam ke butik ini. Dia sih sudah aku sodorin koleksi yang sekiranya pas untuk wanita seusianya. Tapi katanya nggak ada yang cocok."
Jena masih diam sembari mendengarkan penjelasan atasannya itu. Jika dalam kondisi seperti ini, Jena dan atasannya akan terlihat seperti sahabat baik. Pembawaan Jena yang sopan dan fleksibel, sangat cocok dengan atasannya yang sangat supel kepada semua orang, tak terkecuali pegawai-pegawainya. Namun, hal itu tidak berlaku di luar tempat kerja. Sebenarnya, Jena memiliki sifat yang sangat khas dan unik yang hanya ia munculkan di tengah keluarga dan orang-orang terdekatnya.
"Dia tuh yah.... Aku bingung mau cerita detailnya bagaimana."
"Lha?" Jena ikut bingung dan mulai menegapkan posisi duduknya. "Memangnya beliau tidak menyampaikan model atau setidaknya detail-detail seperti apa yang beliau inginkan, Bu?"
"Cerita sih cerita. Bukan hanya cerita, ibu itu minta kertas dan desain sendiri gaunnya. Sebentar." Atasan Jena yang memiliki mata sipit itu beranjak dari sofa dan berjalan memasuki ruangan kantornya.
Jena kemudian mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Tidak ada pesan masuk, membuat Jena menyimpan ponselnya kembali.
Tak lama, atasan Jena datang dan segera duduk di sofa sembari memberikan secarik kertas. "Lihatlah!" ujar wanita itu dan segera menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Jena menerima kertas darinya dan memperhatikan obyek yang tergambar dalam kertas itu dengan saksama. "Apa itu masuk akal?" tanya atasan Jena sembari memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.
Jena menahan senyumnya. Coretan pensil di kertas HVS itu menurutnya cukup berhasil menghibur orang-orang.
"Beliau orang yang mewah," ucap Jena masih menahan senyumnya; mencoba menghargai karya pelanggan baru yang sukses membuat atasannya pusing.
YOU ARE READING
His Wife 🔚
Romance(TERBIT, sebagian cerita dihapus) Kevin Pradikta Hoffman tidak menyangka jika kehidupan damainya akan berubah dengan sekejap. Pembawaannya yang dingin dan ambisinya untuk terlihat tanpa cela, nyatanya segera runtuh dengan berita yang berkembang di s...
