01

94 14 5
                                        

"DARIN AYOO BANGUN SAYANGG!!!" "DARIN AYOO BANGUN, INI SUDAH PAGI" "DARIN AYOO BANGUN SAYANGG" "DARIN AY–"

Darin segera mematikan alarm yang sedari tadi memekakkan kedua telinganya. Darin bangkit dari zona ternyamannya. Sambil menguap lebar, ia segera keluar kamar tak lupa mengambil handuk birunya. Pikirannya kembali ke alarm itu, memang benar benar ibunya itu, sangat keterlaluan, pikirnya. Setelah selesai siap siap, ia segera turun dan menuju meja makan.

Di sana sudah ada secarik kertas memo, Darin mengambil dan membaca dengan teliti. 'Kalau kamu sedang membaca memo ini pasti anak mama sudah bangun dan tampan' Darin langsung memutar bola matanya malas, "memang dari dulu anak mama ini tampan" Ia lanjut membaca lagi. 'hari ini mama harus pergi ke luar kota, mungkin sekitar dua minggu? Mungkin juga lebih, tolong kamu jaga rumah baik baik, jangan bawa teman, apalagi anjing atau kucing dari jalan, makanan sudah ada di lemari pendingin kamu tinggal panaskan, jangan sering sering makan diluar.
Tertanda, mama.'

Darin menghela nafas panjang. Selalu begitu. Mamanya selalu over padanya, padahal ia laki laki dan sudah kelas 2 SMA. Kadang ia malu kalau ada temannya yang tau sikap mamanya yang seperti itu padanya. Tapi ia tidak akan marah, karena ia tau itulah kasih sayang mamanya, dan hanya Darinlah yang mamanya punya. Papanya sudah lama berpulang, karena kecelakaan pesawat.

Darin masih ingat betul, kalau bukan ia yang memaksa papanya pulang waktu itu pasti ia masih di sini, masih bisa tertawa bersamanya. Mamanya sangat berkabung, dan mungkin sampai detik ini, ia masih mengingat ingat tentang papanya. Kadang saat malam tiba, Darin mendengar isak tangis mamanya disusul memanggil nama papanya.

TING!

Darin segera menepis pemikiran itu, ia segera mengambil makanannya yang tadi ia panaskan di microwave. Setelah selesai makan dan mencuci piring, ia menuju ke garasi, mengambil motornya. Baru sekitar 2 minggu ia mengendarai motor ini.

Setibanya di sekolah, ia langsung memakirkan motornya dan memasuki lapangan sekolah. "Pagi Rin!" tanpa menoleh ia sudah tau siapa itu. "Rin-chan!!! Kenapa ga nengok sih?! Ga kangen apa? Ini pertama kali sekolah lohh setelah kita libur panjang, Rin!!!! Nengok dong ke aku" Lagi lagi Darin menghela nafas. "Pagi vin, maaf gue ga kangen sama orang macam lo! And please jangan panggil gue rin-chan, kayak anak cewek tau ga? Gue ini cowo vin! Cowo!! Astagaa, lo kalo mau homoan jangan sama gue deh" Kevin langsung cemberut mendengar perkataan Darin. "Iya sayang iya, ya udah aku ga bawel lagi, jangan marah yaa, maaf Darin" Darin langsung meninggalkan Kevin cepat cepat. "Dasar homo gila!"

"Gis, lo udah tau nanti mau nongkrong dimana? Nyokap pergi ga nih ngomong ngomong?" Darin segera menaruh tasnya di bangku dan kembali menemui anak tadi. "Ayo, nyokap pergi, nongkrong ya? Gue hampir lupa anjirr, tempat biasa aja deh, emang lo ada rekomendasi cell?" Marcello menggeleng setelah itu langsung pergi ke luar kelas. "Algisss, bisa bantuin gue kerjain soal yang ini engga? Gue ga ngerti! tolong dong"

Darin segera mengambil pensilnya. Inilah rutinitas dia tiap pagi, selalu diganggu oleh teman temannya, entah itu minta tolong kerjain tugas, nerangin apa yang mereka kurang ngerti, ngobrolin hal yang engga ada faedah sama sekali, atau mungkin dengerin curhatannya si homo gila itu. Tapi satu hal yang Darin engga pernah lupa, yaitu bersyukur. Seengganya nasibnya engga seburuk anak anak yang lain.

Darin cukup populer dikalangan seangkatan, kakak kelas, mungkin sehabis ini adik kelasnya? Sampai saat ini Darin belum tertarik untuk pacaran, alasannya belum ada yang srek, kalau kalau dia ditanya atau pun dituding homo kayak Kevin.

Tentang Kevin, sebenernya dia bukan bener bener homo kok. Dia cuma akting kayak homo, soalnya dulu pernah putus cinta sama seorang cewek. Katanya sih, dia udah cinta mati sama cewe itu, tapi malah berakhir bangsat. Si cewek ini, malah main dibelakang dia, iya tepat di belakang dia! Gila ga tuh?! Engga deng, ga gitu juga HEHEH. Intinya Kevin rada trauma pacaran sama cewek apalagi kalau yang cantik banget. Menurut dia, cewek kayak gitu peluang selingkuhnya lebih besar daripada yang biasa biasa aja. Oke cukup bahas tentang Kevin, soalnya nanti kita bakal bahas dia lagi kapan kapan.

Hari pertama sekolah, diisi dengan tugas menulis liburan sekolah kemana aja. Darin paling malas dengan tugas yang seperti ini. Ia lebih memilih mengerjakan tugas bimbel teman temannya daripada disuruh mengarang bebas begitu.

"Rin, cerita dong!" Tuh kan bener aja, baru juga ngomongin si homo. Eh tiba tiba dia dateng sambil merengek rengek kayak minta dibelai gitu. "Apaan si vin? Gue sibuk nih ngerjain soal, lo jangan ganggu gue deh. Gue ga ada waktu buat lo" jawab Darin sarkas. "Oh rin-can gitu sekarang sama vin-vin? Eh inget ya siapa yang waktu itu nolong lo jam 2 pagi cuma buat bikin makanan yang sulit sulit hah?! Siapa yang benerin ac bangsat lo itu ditengah malem?! Siapa juga yang waktu itu beraniin lo ngasih coklat pas valentine buat–" "Oke cukup, lo mai cerita apa? Cerita aja gue pasti dengerin" Buru buru Darin menutup mulut Kevin.

Beberapa menit anak anak lain memperhatikan mereka berdua, penasaran dengan ucapan Kevin barusan. Siapa yang tidak penasaran coba? Seorang Darin yang sempat dikabarkan belum mau pacaran itu ternyata pernah memberi coklat ke seorang cewek, setidaknya itu yang mereka pikirkan.

"Tau ga? Hari ini ada murid baru rin! Gue belum liat pasti sih anaknya kayak apa cuma denger denger cantik sih, kali kali aja lo mau sama dia?" Darin menatap Kevin malas, ia kira anak tu mau curhat perihal yang lain. Kalau ini sih ujung ujungnya pasti Darin ingin dijodohkan sama anak baru itu. "Udahlah vin, gue ga tertarik, mending kalo lo ngusulin ke gue dimana tempat bimbel bagus nah itu gue lebih tertarik. Lo tau sendiri kan gue mau fokus SMA dulu, benerin nilai nilai gue lagi" jelas Darin.

Maaf kalau masih ada typo maklum masih pemula😁
Jangan lupa voment yaa😊😊

KAMALAStories to obsess over. Discover now