1. Don't Forget Me

357 33 9
                                        

Malam itu...

Udara begitu dingin, namun terasa menenangkan.

Ariana duduk diam di taman depan rumah, ditemani gemintang yang berserakan di langit malam. Hening yang semula menenangkan, perlahan berubah menjadi sunyi yang menyesakkan. Sebuah notifikasi Line berbunyi, memecah ketenangan itu.

Bani
"Ri, kamu sedang apa?"
Ariana
"Sedang duduk di taman, memandangi langit."
Bani
"Sudah makan belum?"
Ariana
"Sudah. Kamu?"
Bani
"Sudah. Ri, aku ingin mengatakan sesuatu."
Ariana
"Hm? Mengatakan apa?"
Bani
"Hubungan kita... cukup sampai di sini, ya."

Dadanya seolah diremuk perlahan.
Hatinya retak, jatuh menjadi serpihan tak bernama.
Pertanyaan pun berloncatan di benaknya:
Apa salahku? Pernahkah aku melukainya? Kurangkah cintaku?

Air matanya mengalir, membasahi pipi yang mulai dingin.
Angin malam tak lagi menyejukkan, seolah berubah menjadi luka yang menggigilkan.
Ariana masuk ke kamarnya, lalu terisak tanpa suara.
Menulis pesan terakhir:

Ariana
"Kenapa kamu memutuskan aku?"
Bani
"Maaf, Ri... Mungkin kamu akan lebih bahagia dengan orang lain. Bukan aku."

Seketika hatinya mengeras. Logika tak sanggup menerima alasan yang digantung di udara.
Tak masuk akal. Terlalu mudah... terlalu dingin.

Ariana
"Oh... kamu sudah punya yang baru, ya?
Maaf kalau aku pernah berbuat salah.
Don't forget me, Bani."

Genggaman terakhir itu ditutup dengan sunyi.
Ia menutup ponselnya dan merunduk di sudut kamar, menyandarkan tubuh lelahnya pada lemari.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.

"Ariana?!"
Suara yang begitu familiar.
Deon. Wajahnya tampak cemas. Ia menghampiri dan menghapus air mata Ariana. Sebagai teman sejak kecil, Deon selalu bisa menjaga boudaries pertemanan antara dirinya dengan Ariana.

"Kamu kenapa? Kok menangis, Ri?" Deon menghampiri Ariana dan duduk disampingnya.

Ariana menatap Deon dengan mata sembabnya, "Kamu sendiri kenapa tiba-tiba datang?"

Deon dengan sungkan namun perlahan mengusap air mata Ariana yang mengalir di pipinya, "Entahlah, tiba-tiba saja merasa harus ke sini... Kakakmu bilang kamu belum keluar kamar dari tadi." Ucapnya dengan lembut. Ia  ikut bersandar pada lemari. "Kamu habis putus, ya?"

Tak ada jawaban. Hanya tangisan lirih.
Deon menghela napas, lalu menggenggam tangan Ariana.

"Jangan bilang... kamu diputuskan hanya melalui call?"

Ariana mengiyakan pertanyaan Deon hanya dengan tersenyum pahit.

Deon menghela nafas kesal. "Pengecut. Tidak pantas untuk kamu tangisi. Sayang air mata kamu." Deon menatap mata Ariana dengan sendu, kemudian ia mengusap jari-jari Ariana dengan lembut.

"Kenapa dia memutuskan aku saat aku sedang benar-benar mencintainya?" Suara Ariana rendah sambil sesekali terisak, ia kemudian bersandar di bahu Deon.

Deon melirik ponsel yang masih digenggam Ariana, membuka layar kuncinya, membaca isi percakapan.

"Alasan klasik. Ri, kamu juga tahu sendiri seperti apa Bani itu." Deon meletakkan ke lantai ponsel Ariana. "Mungkin... dia memang bukan jodohmu. Kalian hanya dipertemukan, bukan untuk disatukan. Lagi pula kamu cantik, baik, tidak pernah aneh-aneh, percaya deh jodoh kemungkinan jodohmu juga sama seperti mu, jadi gak usah takut single untuk sementara ya, nanti cepat atau lambat pasti ada laki-laki yang pantas dan setara denganmu." Ucap Deon dengan lembut dan tersenyum berusaha menenangkan Ariana.

Kini, malam itu tinggal kenangan.
Malam yang tak pernah Ariana lupakan.
Kata terakhirnya pada Bani, "Don't forget me," justru menjadi jerat yang membuatnya tak mampu melupakan.

Namun di sisi lain, ada Deon.
Sahabat. Pelindung.
Satu-satunya yang selalu hadir—dalam tawa dan luka.

Deon bukan sembarang laki-laki. Ia mandiri, berprestasi, dan... sedikit slengean.
Tapi ada satu hal yang tak dimiliki semua orang:
Hatinya—yang diam-diam selalu menjaga.

Meski banyak yang mencoba mendekatinya,
Deon tak pernah benar-benar membuka hati.

Mungkin... tanpa Ariana sadari,
Hatinya sudah lama menetap—tepat di sisinya.


Same Old LoveWhere stories live. Discover now