pagi seperti bajingan

564 33 1
                                        

"Susunan proposal kamu berantakan. Perencanannya ngga sistematis, anggaran yang kebesaran, dan urutan kegiatan yang ngga terlalu bermanfaat." Bu Vera di hadapannya sibuk mencoret pengajuan proposal kegiatannya dengan tinta merah. Renjana bisa melihat sorot remeh dan cebik ejekan yang terlukis jelas pada wajahnya.

Tidak cukup memberikan koreksi dengan bumbu kritikan, Bu Vera lanjut bersuara sembari melempar hinaan. "Lagian, tema feminisme kayak gini dinilai usang dan cenderung overhyped. No one really cares about it," jeda sebentar selagi Bi Vera memperhatikan lembaran proposal tanpa kesungguhan. "Oh iya, ini bukan acara memupuk empati, melainkan selebrasi. Ngga perlu lah kita mendatangi panti jompo wanita dengan dalih menyejahterakan perempuan. Kegiatan pendidikan, imbauan kesehatan, relawan lingkungan, dan acara sosial kemanusiaan kayak gini siapa juga yang mau membiayai dan berpartisipasi."

"Ide kamu terlalu idealis tanpa mempertimbangkan oportunis," pungkas Bu Vera dengan suara tegas.

Rangkaian perencanaan dalam proposal kegitaan acara ulang tahun sekolahnya yang ke-21 telah Renjana susun satu minggu lamanya dengan segala titik keringat yang tercurah habis di dalamnya. Riset lapangan, susunan anggaran penuh perhitungan, perencanaan kegiatan yang sistematis, serta rangkaian manfaat yang melibatkan pihak bersangkutan tidak membuat Renjana mendapat satu kalimat pujian.

"Sementara ini, kita simpan proposal Sadewa sebagai pertimbangan utama. Tema acara yang diusung cukup bagus dan berimplikasi terhadap pengembangan kreativitas dan solidaritas para siswa-siswi lewat pagelaran festival teater musik dengan taburan penampilan penuh bakat. Saya juga setuju dengan rancangan ide berupa lelang barang sebagai inti acara yang merupakan ciri khas dari pesta jamuan acara ulang tahun sekolah."

Sadewa tersenyum puas selagi Renjana berwajah pias. Semua pasang nata menatap Renjana penuh keprihatinan selagi Sadewa tersenyum penuh kemenangan. Setumpuk harapan dengan timbunan kelelahan bersatu padu mendesak bahunya menjadi beban. Remasan tangannya bahkan tak mampu melampiaskan keinginannya untuk menepis wajah bengis milik pria sinis yang kini menatapnya dengan senyuman manis.

"Jadi, kesimpulan rapat sudah jelas. Proposal Sadewa yang akan pihak sekolah pertimbangkan dengan
pengajuan proposal Renjana yang kita siapkan sebagai cadangan," pungkas Bu Vera selagi menutup buku catatan sebagai tanda akhir pertemuan tanpa perdebatan. Terdengar riuh tepuk tangan disusul semua orang yang bergerak pergi meninggalkan ruangan.

Tepat di hadapannya, Renjana bisa melihat Sadewa menatapnya. "Aku ngga tau kalau ternyata kamu ngajuin proposal untuk acara tahunan." Sadewa memulai pembicaraan sembari menumpuk buku catatan. Sorot matanya mendominasi. Sayangnya, tidak ada yang Renjana perlu takuti.

Renjana mendecih. "Terbalik, harusnya aku yang keliru karena ngga tau kalau ternyata kamu berniat jadi ketua panitia acara tahunan sekolah," cetus Renjana dengan nada ketus.

"Do i need to say sorry? Renjana ini bukan salah aku karena terlihat lebih capable di mata Bu Vera untuk dipertimbangkan sebagai ketua acara tahunan sekolah," ucapnya tanpa sesal teramat sebagai lelaki gila hormat.

Mata Renjana memicing tajam. Meskipun pandai menyimpan emosi, Sadewa mengetahui Renjana tengah menahan kesal setengah mati. "Sadewa, aku udah bilang berulang kali kalau jabatan sebagai pemimpin acara tahunan berperan penting untuk portofolio beasiswaku. Asal kamu tahu, tingkah laku kamu bukan hanya sekadar ancaman, tapi bisa mengundang kehancuran!" Renjana berteriak tegas dengan wajah mengeras.

Renjana mengenal Sadewa sebagai seonggok manusia penuh kerakusan. Dengan otak cerdas dan tumpukan harta yang bergelimang, Sadewa tidak pernah mempertimbangkan untuk menjabat sebagai ketua panita acara tahunan sekolah yang tidak berbuah manis bagi manusia oportunis bermulut manis seperti dirinya. Lelaki rupawan ini selalu menginginkan segala sesuatu yang Renjana harapkan. Sialnya, Sadewa tahu kalau Renjana bersikeras untuk mengajukan proposal kegiatan sebagai prasyarat menguntungkan bagi beasiswa kedokteran. Setan.

"You know how much i've tried so fucking hard  for my scholarship, Dewa. I'll do anything for it and you saw my determination. So, please stop." Renjana menghela nafas selagi menghiraukan hatinya yang kian kebas diperlakukan  sebagai lawan persaingan daripada seorang pasangan. 

Sadewa melangkah mendekat dengan angkuh sembari menampilkan ekspresi wajah keruh. "Kamu ngga seharusnya emosi karena ngga mampu untuk membuktikan kemampuan diri. Ketidakberhasilan ini seharusnya jadi kesadaran untuk menerima kekalahan dan menyadari kelemahan. Sadar, Renjana. Aku ngga bertanggung jawab untuk mengemban seluruh kekecewaan dan kegagalan cara berpikir kamu yang menilai dunia sebagai poros dari angan-anganmu."

"Lima belas menit setelah istirahat aku tunggu di perpustakaan. Aku udah buat catatan untuk ujian minggu depan. Jangan lupa jaga kesehatan karena sebentar lagi kita mau ujian," Renjana membenci suaranya, eksistensinya, senyum manisnya. Semua tentangnya. Apa pun yang berhubungan dengan Sadewa.

"Jangan terlambat. Aku sayang kamu." Setelah mengecup pipinya buru-buru, Sadewa melenggang pergi secepat angin berlalu menyisakan Renjana yang balas tersenyum sedu. Air mata jatuh membanjiri pipinya. Melunturkan riasan wajahnya. Meninggalkan ruang hati penuh sumpah serapah dan caci maki.

Renjana berdecih sebelum meremat laporan proposal penuh kekesalan. Paginya berjalan seperti bajingan. Ia melewatkan sarapan setelah malamnya direpotkan membuat tugas harian. Ia juga hampir dijemput keterlambatan setelah sebelumnya terpakasa berdamai dengan kemacetan. Begitu juga dengan seragam sekolahnya yang nampak tak serasi dengan kardigan. Tali sepatunya yang salah ikatan dan bandana merahnya yang terasa kesempitan.

"Setan," racaunya kesal sebelum pergi meninggalkan ruangan.

RenjanaStories to obsess over. Discover now