Prolog

94 6 3
                                        

Gemuruh tepuk tangan dan sorakan dari seluruh siswa baru menggema di dalam gedung serbaguna. Semua mata terpaku ke satu sosok yang tengah berdiri tegap di atas podium sambil menerima tiga sertifikat penghargaan sekaligus dari Kepala Sekolah.

Kanzla Herel Arveon, satu-satunya siswa yang nyaris tampak sempurna di mata semua orang. Bukan hanya itu, SMA Elite Cakrawala yang dulunya tertinggal dari sekolah lain, kini justru memasuki era keemasan di bawah kendalinya.

Juara demi juara yang diraihnya membuat Kepala Sekolah memberi kesempatan kepada Herel, seorang siswa kelas XI, untuk menyampaikan sambutan langsung kepada para siswa baru. Bagi Herel, sebenarnya melakukan hal seperti ini adalah bagian yang paling memuakkan. Prestasi, penghargaan, dan juara hanya membuat dirinya merasa dimanfaatkan untuk kepentingan sekolah.

Maka dari itu, kesepakatan mutualisme telah dikunci sejak ia kelas X. Kebebasan mutlak untuk Herel, dengan syarat mutlak pula bagi sekolah agar ia terus membawa pulang piala kemenangan. Dan sejauh ini, Herel selalu menepati bagian perjanjiannya, lalu mendapatkan imbalannya.

Seperti detik ini, layar monitor raksasa dibelakangnya mendadak menyala tepat saat sambutannya usai. Tanpa aba-aba, pria itu mengangkat kedua tangannya membentuk huruf V, bersamaan dengan reff lagu We Are The Champions milik Queen yang mulai menggelegar menembus tiap sudut gedung.

We are the champions, my friends

And we'll keep on fighting till the end

We are the champions

We are the champions...

Di barisan depan, para guru hanya bisa menepuk jidat. Dan apa yang pria sialan itu lakukan? Ia justru asyik mengayunkan tangannya, yang sudah diikuti oleh lautan massa siswa baru.

Sialan.

Para guru ingin sekali menegur, namun layar monitor itu membungkam mereka. Terpampang tiga puluh prestasi Herel sejak kelas X. Mulai dari olimpiade sains, kompetisi debat, hingga turnamen olahraga.

Tak heran kenapa si jenius sialan itu memakai lagu... ah, sudahlah.

"Aaaa... ganteng banget, ya?" ucap salah satu siswi, menghentak-hentakkan kakinya seperti cacing kepanasan.

"Ganteng, sih, ganteng, tapi plenger," sahut siswi di sebelahnya.

"Bukan cuma plenger, tapi mata keranjang." Seorang panitia yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka ikut menimpung.

Ucapan dari si panitia membuat keduanya saling pandang, lalu menatap lurus ke bagian nametag di dada kiri panitia. Alena. Ya, bisa dibilang ia salah satu korban dari tingkah Herel, sampai-sampai sukses menjulukinya si Mata Keranjang.

Mungkin bagi para guru, prestasi Herel adalah kejeniusan. Tapi bagi kalangan siswa, prestasi Herel yang sebenarnya adalah seperti ucapan Alena. Julukan itu sudah diakui secara resmi oleh seluruh angkatan di sekolah.

"Maksudnya, Kak?" Siswi di depan Alena penasaran.

"Lihat mading depan setelah acara ini selesai!" Alena sengaja membiarkan dua siswi itu mengetahuinya sendiri.

Tidak butuh waktu lama, ucapan dari Alena langsung bekerja layaknya parasit yang menyebar ke seluruh barisan. Wajah-wajah yang tadinya fokus ke panggung, kini berubah saling pandang dan berbisik-bisik penasaran. Fokus mereka buyar total, yang tersisa hanyalah insting membara untuk segera meninggalkan GSG. Satu per satu siswa mulai menghentakkan kaki, disusul satu, dua, hingga gelombang massa nekat bergerak mengikuti arah ucapan Alena.

Sound system dan layar monitor terpaksa dimatikan secara sepihak. Para guru segera menghadang arus siswa baru yang mulai bubar, namun sia-sia. Acara konser yang dirancang matang oleh Herel benar-benar hancur berantakan hanya karena satu kalimat hasutan.

Sialan, Alena. Herel menatapnya dari atas podium.

Alena tersenyum tipis, mengedipkan satu matanya tepat di depan Herel dengan jarak sekitar lima langkah kaki.

Di luar gedung, papan mading yang menjadi tujuan utama pelarian itu terpampang jelas. Di sana, sebuah kertas manila putih besar tertempel, menyajikan arsip Herel yang ditulis menggunakan spidol hitam pekat. 

 

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Hello, Crush Part 13Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora