Seumur hidupnya, Kania tidak pernah memiliki tempat tinggal yang utuh. Ia hanya berusaha melarikan diri dan bersembunyi. Bagi Hazana Kania, kebahagiaan adalah hal paling mahal yang tidak sanggup ia beli.
Lalu, Rajash Kalingga Pangestu datang, memba...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Saya akan menikahi kamu."
Rajash Kalingga Pangestu mengatakannya dengan tegas kepada seorang wanita yang sejak tadi menunduk, seolah tidak berani menatap matanya. Helaan napas panjang terdengar dari pria itu sebelum ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
Atas kebodohannya sendiri, Rajash terpaksa harus menikahi seorang wanita yang bahkan tidak ia kenal. Wanita yang ditemuinya dalam sebuah insiden satu malam. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi tanggung jawab membuat Rajash terbiasa mempertanggungjawabkan setiap hal yang ia lakukan. Termasuk insiden buruk semalam.
Dengan bodohnya, ia tidur dengan seorang wanita yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Dan wanita itu menjadi yang pertama baginya. Tiga puluh tahun Rajash hidup, baru kali ini ia melakukan kesalahan yang benar-benar fatal, kesalahan yang berpotensi mengubah jalan hidupnya.
"Enggak perlu." Jawaban wanita itu terdengar dingin.
Hazana Kania mengangkat wajahnya, menatap laki-laki di hadapannya dengan ekspresi datar. Ia sudah kehilangan terlalu banyak hal dalam hidupnya. Jadi, kehilangan satu hal lagi dari dirinya tidak lagi terasa berarti.
Meskipun hal itu adalah sesuatu yang pertama kali ia berikan kepada seseorang.
Tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk menikah dengan siapa pun. Dan prinsip itu masih berlaku sampai sekarang.
"Anggap saja enggak pernah terjadi," lanjut Kania.
Ia meraih tasnya dan hendak bangkit, tetapi suara Rajash lebih dulu menghentikannya.
"Kalau kamu hamil, bagaimana?" Rajash menahan tangan wanita itu. Tatapannya tampak resah. Ia tidak ingin masalah ini melebar ke mana-mana. Sebelum semuanya menjadi lebih rumit, ia harus menyelesaikannya.
"Enggak akan."
Kania menjawab dengan yakin.
Meski sebenarnya ia sendiri tidak tahu apakah dirinya akan hamil atau tidak. Hanya saja, di dunia ini ada begitu banyak orang yang kesulitan memiliki keturunan.
Rasanya tidak masuk akal jika dirinya langsung hamil hanya karena satu kali melakukannya.
Tuhan memang sering kali terasa begitu kejam kepadanya, tetapi kali ini... tidak mungkin sejahat itu, bukan?
"Bagaimana kamu bisa yakin?"
Kania bungkam. Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan.