Umurnya belum 30. Tapi sorot matanya dingin seperti sumur tua. Rambut pirang panjang diikat asal dengan tali kulit, beberapa helai jatuh ke pipi dan lehernya. Warnanya kontras dengan beskap hitam lusuh yang dia pakai. Lengannya penuh rajah tinta yan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
---
Kerumunan orang-orang di dalam rumahnya belum juga surut. Di tengah rumah yang megah, bersama barang-barang mahal hasil uang haram, mereka berkerumun memandangi mayat yang sudah hampir kaku. Wajah pucat itu ditutup kain kafan.
"Padahal kemarin masih main bola di lapangan."
"Sakitnya mendadak banget ya."
Bisik-bisik itu masuk ke telinga seorang pria yang duduk di anak tangga. Tangannya saling meremas. Tatapannya kosong ke depan. Sudah tidak ada lagi air mata yang bisa ia tumpahkan.
Hari ini, tepat tanggal 24 April. Hujan mengguyur kota begitu deras. Denting rintiknya menyatu dengan dingin yang menusuk tulang. Dingin itu merayap, seolah membekukan hati yang sudah lama mati. Ia duduk terkulai sendirian, kepala kacau memikirkan apa yang ia lihat dan dengar tadi malam. Saat kedua orang tuanya berdebat di dalam kamar, mengabaikan adiknya yang tengah sekarat. Membicarakan tumbal.
"Lalu harus bagaimana? Andi sekarat!"
"Ya gimana? Itu keputusan kita bersama, Mas! Aku buat perjanjian sama dukun itu demi bisnis kamu biar lancar! Mana aku tahu kalau tumbalnya dari ayam jadi anak-anak!"
"Lalu siapa yang jadi tumbal setelah Andi? Arka? Terus aku?"
"Aku nggak tahu, Mas! Jangan pojokin aku gitu!"
Percakapan itu terus terngiang. Saat namanya disebut, kakinya gemetar. Tumbal. Tumbal demi uang. Kedua orang tuanya bahkan tidak merasa bersalah melihat Andi sudah kaku tak bernyawa di tengah rumah.
Pria itu adalah Arka Mahendra Pradipta.
Umurnya 21 tahun, anak pertama. Dulu Arka yang paling bangga punya rumah megah ini. Dulu Arka yang paling sering foto bersama Andi di depan mobil baru hasil "usaha" orang tuanya. Sekarang rumah itu rasanya seperti kuburan.
Tangan Arka masih gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena nama "Arka" semalam disebut dari dalam kamar, bersamaan dengan kata "tumbal".
"Lalu siapa yang jadi tumbal setelah Andi? Arka?"
Andi. Adiknya. Umurnya bahkan baru 9 tahun. Yang kemarin masih narik-narik tangannya minta ditemenin main bola. Yang hari ini terbujur kaku, ditutup kain kafan, sementara orang tuanya semalam bertengkar soal siapa yang salah.
Arka menunduk. Hujan di luar makin deras, menetes ketanah di pekarangan rumahnya yang luas. Telapak tangannya terasa dingin. Tapi tidak sedingin dadanya sekarang.
Selama ini dia pikir ayahnya kerja keras. Ibunya lembur terus demi keluarga. Ternyata... demi ini. Demi perjanjian dengan dukun. Demi uang haram yang sekarang nempel di tiap sudut rumah.
"Arka?"
Suara sahabatnya memanggilnya pelan, sosok yang sejak dulu memang selalu berada di sisinya. Di saat Arka rapuh pun, teman terbaiknya ini akan selalu datang, seperti hari ini.