"Terus gue harus apa? Lo tahu sendiri kalau gue masih sekolah, 'kan, Kanaya?!"
Kanaya yang sedari tadi menunduk perlahan menaikkan kepalanya. "Saya nggak mau tahu, Mas. Pokoknya Mas Raven harus bertanggungjawab."
Laki-laki bernama Ravendra Putra tersebut menjambak rambut Kanaya. Pembantunya sudah berani menentang dirinya. Melanggar semua batas yang sudah Ravendra tetapkan.
"Lo siapa berani ngatur gue, hah?!"
Kanaya meringis merasakan rambutnya ditarik. Rasanya semua rambutnya bisa lepas dari kulitnya saat ini juga.
"Saya memang bukan siapa-siapa di sini. Ta-tapi-"
"Nah, itu lo tahu!"
"Ta-tapi ... ini anak-"
"Kanaya, gue nggak pernah nganggep dia anak! Nggak usah ngomong soal anak ke gue!"
"Mas Raven-"
"Gugurin! Nggak usah ribet jadi orang. Lagipula, gue juga nggak sudi nikah sama pembantu kayak lo. Gue punya tipe sendiri! Dan itu nggak ada semua di lo! Jadi nggak usah ngarep ketinggian!"
Teriakan Ravendra yang terlalu keras mengundang ayah serta kakaknya keluar dari ruang pribadi milik Jonathan.
"Ada apa ini?" tanya Jonathan bingung. Hari minggu seharusnya tenang, kini dibuat gaduh oleh anaknya. Entah karena perkara apa.
"Aku-"
"Mas Raven udah menghamili saya, Pak," potong Kanaya cepat.
"Jaga mulut lo, ya!"
"Saya bicara fakta, Mas. Kalau Mas Raven nggak terima, silakan."
"Sialan lo, Kanaya!" Tubuh Raven langsung ditahan Rakhsan begitu tangannya hendak melayangkan pukulan.
"Raven, jangan kasar," peringat Jonathan.
"Dia udah berani ngelawan aku, Pa! Orang kayak dia itu dibunuh aja! Nggak bener hidupnya!" teriak Ravendra masih tidak terima.
Mengabaikan ucapan Raven, Jonathan memilih fokus pada Kanaya. "Ada buktinya?"
"Ada." Kanaya mengeluarkan ponsel miliknya. Memperlihatkan sebuah video yang tampak begitu jelas wajah mabuk Ravendra, sementara Kanaya tampak mengenakan daster berwarna merah bermotif bunga tengah membelakangi kamera. "Video ini memang bukan hari pertama dia mengambil mahkota saya. Ini saya ambil ketika dia melakukannya berkali-kali."
"Kanaya! Lo-" Wajah Ravendra merah padam. Antara malu dan takut karena ucapan Kanaya.
"Saya bicara fakta, Mas." Dia pergi menuju kamarnya dan membawa sesuatu. "Ini hasil tespek saya beserta bukti usgnya."
Jonathan mengambil itu. Matanya memandang tak percaya pada bukti yang ia pegang ini.
"Sialan lo, Kanaya! Lo minta gue hajar, ya!" Sewaktu tubuhnya mendekat dengan tangan siap melayangkan pukulan, Rakhsan langsung menahannya.
"Jangan."
"Kenapa, Kak? Pembantu kayak dia itu pantasnya dia hajar! Dia udah malu-maluin gue!"
"Aku bilang jangan."
"Enggak, gue nggak terima!"
"Raven!" teriak Jonathan yang seketika membuat dirinya berhenti. "Jangan kekanakan. Panggil mamamu."
"Untuk apa?"
"Kita perlu berdiskusi."
"Nggak usah! Langsung bunuh dia aja!"
"Raven," panggil Kanaya yang berhasil mencuri atensi semua orang. "Kamu yakin mau bunuh aku? Aku memang bisa mati detik ini juga. Tapi siapa yang menjamin kalau video ini nggak bakal kesebar?"
Karena ancaman itulah, keluarga Jonathan terpaksa berkumpul di ruang pribadinya.
"Mama nggak mau! Masa depan Raven masih panjang!" tolak Saras mentah-mentah. Dirinya memang sudah membenci Kanaya sejak gadis itu bekerja di sini. Dan sekarang, kini dia harus jadi menantunya?
Tidak sudi!
"Tapi dia harus bertanggungjawab, Ma."
"Aku nggak mau, Pa!"
Jonathan menghela napasnya panjang. Sudah banyak masalahnya di kantor, kini datang masalah baru lagi yang mengancam nama baiknya.
"Lagipula kenapa nggak digugurin aja? Ribet banget kamu!"
Kanaya tersenyum tipis. Mengusap perutnya dengan lembut. "Setiap manusia berhak hidup. Begitu juga dengan janin ini. Meskipun kehadirannya dengan cara yang salah."
"Apa-apaan kamu ini? Sok idealis! Belum mapan masih bisa ngomong kayak gitu! Nanti kalau anaknya udah besar, bingung susunya, bingung pendidikannya, dan segala macam! Kalau saya jadi kamu, udah saya gugurin!"
Pemikiran dangkal Saras memang tidak patut dicontoh. Saras lupa, bahwa setiap yang bernyawa juga berhak hidup. Hanya karena dia terlahir dari keluarga miskin, bukan berarti dia tidak bisa membesarkan anaknya.
Selagi fisiknya sehat, dia akan berjuang demi anaknya.
"Sudah-sudah! Jangan diperpanjang, Ma!"
"Tapi, Pa-"
"Nama perusahaan kita lebih penting. Kalau video itu sampai kesebar, Papa udah nggak tahu lagi harus kayak gimana. Nama perusahaan bakal terancam meski udah ditutupi pakai uang."
Memang tidak bisa dipungkiri, zaman sekarang memang seperti itulah faktanya. Tidak peduli seberapa besar perusahaan itu.
Saras mengepalkan kedua tangannya. Menatap Kanaya dengan tajam. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Semua keputusan sudah berada di tangan Jonathan.
Entah bagaimana masa depan Ravendra, dia sudah tidak bisa menebak lagi.
"Kanaya, saya memang tidak bisa bertanggungjawab sepenuhnya sesuai permintaan kamu."
Mata Saras melebar mendengar itu, begitu juga dengan semua orang.
"Masa depan Ravendra masih panjang. Saya nggak bisa melepas Ravendra begitu saja."
Huh! Saras lega! Akhirnya Ravendra bisa bebas dari pembantu itu!
"Tapi sebagai gantinya, Rakhsan yang akan menikahi kamu."
A-apa?
tbc.
YOU ARE READING
Queen of Justice
Romance"Mantan pembantu bukan berarti pembantumu terus, sekarang aku ini istrimu!"
