Svarga Ardikara tidak pernah membiarkan ada satu pun celah kesalahan di dalam hidupnya, termasuk dalam memimpin gurita bisnis properti raksasa, Ardikara Land. Di matanya, semua orang bisa dibaca melalui kalkulasi bisnis dan logika yang presisi.
Samp...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pagi itu, Jakarta sedang berada di puncak kesibukannya yang gila. Deru mesin sepeda motor yang saling berkejaran dan lengkingan klakson mobil yang bersahutan menciptakan simfoni bising yang siap merusak suasana hati siapa saja sejak awal hari. Polusi tipis berwarna keabu-abuan menggantung rendah di udara, mengaburkan pandangan ke langit biru, walau belum sepekat saat tengah hari nanti. Di pelataran sebuah minimarket yang ramai oleh orang orang berlalu lalang, dua pria berstelan jas tampak berdiri kontras.
"Bapak, tolong pegang sebentar! Aduh, Pak, perut saya sudah di ujung tanduk!"
Belum sempat Svarga merespons atau sekadar mencerna kalimat itu, sang asisten sudah menyodorkan beberapa bungkus kerupuk putih dalam kemasan plastik besar ke pelukannya. Svarga, yang pagi itu tampil necis dengan setelan jas navy, dasi sutra yang lurus sempurna, serta sepatu kulit Italia yang mengkilat tanpa cela, hanya bisa mematung. Kedua tangannya kini penuh dengan tumpukan kerupuk, sementara asistennya sudah melesat masuk ke dalam minimarket dengan langkah terbirit-birit memegangi perutnya.
Svarga mengembuskan napas gusar. Ia berdiri kaku di depan pintu kaca minimarket, memandangi bungkusan kerupuk yang terasa sangat tidak tahu diri berada di genggaman seorang CEO muda sepertinya. Harga dirinya seolah merosot tajam dalam hitungan detik. Saat ia sedang sibuk merutuki nasib dan mengutuk asistennya di dalam hati, sebuah hantaman keras tiba-tiba mengenai bahu kanannya.
Sret! Krosak!
Beberapa lembar kertas yang dibawa oleh si penabrak terbang tak tentu arah, berserakan di atas aspal kering yang berdebu. Satu lembar lembaran penuh tulisan itu bahkan meluncur mulus dan mendarat tepat di atas ujung sepatu mahal Svarga.
Seorang gadis langsung membungkuk panik, bergerak gesit memunguti kertas-kertasnya yang mulai terancam ditiup angin jalanan. Saat gadis itu mendongak untuk meminta maaf secara langsung, matanya membentur tatapan dingin Svarga yang lurus menusuk. Gadis itu mengerjap, memandangi setelan mewah Svarga, lalu beralih pada tumpukan kerupuk di pelukan pria itu.
"Maaf Mas... eh, Pak, atau... Om?" tanyanya ragu.
"Svarga," potong pria itu singkat dengan suara bariton yang sedingin es di kutub utara.
"Ah, iya, hehe. Maaf ya, Om eh Pak Svarga. Saya benar-benar enggak lihat jalan tadi, buru-buru soalnya," ujar gadis itu kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Svarga mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. "Kurang jelas nama yang baru saja saya sebutkan? Jangan panggil bapak apalagi om." Matanya kemudian beralih ke ujung sepatu kulitnya yang kini ternoda garis hitam akibat gesekan kertas.
"Lain kali jalannya diperhatikan, pakai matanya. Sepatu saya kotor karena kertas kamu."
Sebelum gadis itu sempat meraih lembaran terakhir yang berada di atas sepatunya, Svarga sudah membungkuk lebih dulu karena tidak tahan melihat kertas itu berlama-lama di sana. Dengan gerakan kaku, ia menyodorkan lembaran itu. Gadis tersebut menerimanya dengan agak menyentak, merasa tersindir dengan ketus murni pria di hadapannya.