Jangan lupa vote dan komen, ya! 🪐
𔔁 H A P P Y R E A D I N G 𔔁
"Thorn ..." Halilintar bergumam pelan saat melihat Duri yang bermain dengan kucing di halaman rumah. Adiknya itu sesekali tertawa saat si kucing mengejar-ngejar dirinya.
Jika dilihat dari kejauhan seperti ini, Duri tidak ada bedanya dengan adik manisnya yang selalu tertawa setiap kali ada kesempatan, anak yang selalu Halilintar rindukan disetiap langkahnya. Tak ayal bahwasanya Halilintar menyayangi Duri, bahkan melebihi Halilintar mencintai dirinya sendiri.
Dulu saat pulang ke rumah dalam kondisi lelah, Duri selalu menjadi orang yang Halilintar cari untuk menghilangkan rasa penat. Senyum indah serta mata jernihnya seakan menjadi obat terbaik untuk mengusir semua beban di dada yang telah menumpuk terlalu banyak.
Namun tindakan Duri sebulan lalu membuat pandangannya pada Duri berubah. Halilintar tidak membencinya, hanya saja ia kecewa, dan kekecewaan itu seolah mencekiknya setiap kali berpandangan dengan iris zamrud Duri. Tatapan tanpa rasa bersalah Duri selalu berhasil membuat Halilintar mencelos.
Halilintar menjauhkan dirinya dari jendela saat suara ribut menyapa rungunya dari luar kamar.
"Kak! Kita keluar dulu ya!" teriakan Blaze menggema ke seluruh lingkup rumah. Halilintar bahkan dapat mendengar suara gedebuk yang entah apa, seperti seseorang batu saja terjatuh.
"Sa ... kit!" suara Ice menyusul dan dibalas oleh ringisan dari Blaze.
"Ya Ice jangan sambil di seret juga dong! Plenger banget sih abang!" sungut Gempa. Halilintar tidak tahu apa yang terjadi di luar kamarnya, tetapi Gempa sepertinya marah.
"Dianya aja yang lemot. Kenapa lo yang sewot sih, Kak?"
"Berisik!"
"Heh, tuli! Lo diem ya! Gak bisa denger juga banyak omong!"
"Blaze!"
Halilintar menghela napas kasar. Selalu seperti itu. Sejak dulu tidak pernah ada hari tenang di rumah ini, selalu saja ada pertengkaran karena ulah Blaze. Namun akan lebih baik begitu karena sunyi selalu berhasil mencoba untuk membunuhnya.
Perhatian Halilintar kembali pada Duri yang masih bermain dengan kucing di luar. Kucing berbulu oranye itu bukan Cattus, tetapi kucing yang dua minggu lalu Duri adopsi.
Halilintar tidak tahu kenapa, tetapi Duri suka sekali membawa pulang kucing setelah pergi dari tempat jauh.
Sejurus kemudian, Halilintar bisa melihat dengan jelas bahwa wajah sumringah Duri lenyap seketika begitu Blaze dan Ice melaluinya. Duri bahkan menunduk seolah mencoba untuk menghindari tatapan kedua kakaknya.
Bibir Blaze bergerak, terlihat seperti mengatakan sesuatu, dan setelahnya Blaze melengos di ikuti oleh Ice. Di sana Duri masih membisu, bahkan abai sepenuhnya kala kucingnya menghampiri.
Jelas sekali jika Blaze membenci Duri secara terang-terangan semenjak insiden yang menimpa Halilintar dan Ice sebulan lalu. Halilintar meletakkan tangannya di jendela sehingga ia bisa merasakan dinginnya permukaan kaca yang bersentuhan dengan epidermis.
Aku harus mastiin soal Thorn dulu.
Akankah Thorn benar-benar ada atau tidak, ia tidak boleh berpikir sepintas. Halilintar akan malu dengan piala-piala yang terpajang di kamarnya jika bertindak tanpa menggunakan otak,
𔔁𖤐𔔁
Ice menggenggam pasir putih yang baru saja dipijakinya. Pandangannya lantas tertuju pada Blaze, kakaknya itu malah asyik main air setelah mengajaknya ke pantai untuk healing, katanya.
YOU ARE READING
Ketujuh Pilar : Tanpa Biru
FanfictionBagian kedua Ketujuh Pilar ────────────── Bunda bilang dia menyesal telah menyeretku ke jalan itu. Namun, kenapa sekarang Bunda semakin menenggelamkan aku ke jalanan yang bahkan tak bisa kulewati seorang diri? Bunda bilang menyayangiku, tetapi kena...
