Bab 1: Perguruan Tua di Ujung Tanduk

355 44 31
                                        

        "The quietest rooms are the ones that used to be loud

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

        "The quietest rooms are the ones that used to be loud."

Depok siang ini sedang berada di level maksimal untuk urusan simulasi neraka bocor

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Depok siang ini sedang berada di level maksimal untuk urusan simulasi neraka bocor. Matahari seolah punya dendam pribadi pada siapa pun yang nekat naik motor tanpa sarung tangan atau kaus kaki. Angka 34 derajat celcius meyakinkan keringat untuk tidak lagi malu-malu keluar berjamaah melalui pori-pori.

Namun, ada seorang perempuan yang seolah mengabaikan itu semua. Tubuh jangkungnya dengan tenang memarkirkan motor di depan pagar besi yang cat birunya sudah mengelupas. Hana Azzahra Kusuma mengembuskan napas panjang ketika ia melihat sebaran karat yang menghias. Kalau dikerok lagi, Hana yakin bisa menemukan lebih banyak kerusakan di baliknya.

Ini adalah rumah peninggalan Bapak. Pekarangannya luas dengan dua pohon mangga besar masih kukuh berdiri. Namun, saking sepinya, tempat ini lebih mirip set film horor daripada tempat latihan silat yang pernah berjaya di masanya.

"Assalamu'alaikum, Pak Rudi!" teriak Hana sambil melepas helm. Rambut yang dikucir di tengkuk sudah acak-acakan persis habis kena badai, tetapi estetika jelas bukan prioritasnya saat ini.

Seorang pria paruh baya dengan kaus oblong putih yang mulai menguning muncul dari pintu samping. Pak Rudi, pelatih senior yang setia mendampingi almarhum Bapak sejak zaman Hana masih hobi pakai popok.

"Wa'alaikumsalam. Tumben hari ini panas banget, ya?" sahut Pak Rudi.

Di telinga Hana, suara Pak Rudi terdengar ... lelah.

Hana menoleh ke arah lapangan latihan yang beralaskan semen retak-retak. Di sana, cuma ada tiga murid pemula yang sedang lari-lari melakukan pemanasan. Salah satunya Dafa, bocah tujuh tahun yang semangatnya jauh lebih besar daripada ukuran badannya.

"Kak Hanaaa!" Dafa berlari ke arahnya, nyaris menabrak kaki Hana kalau gadis itu tidak sigap menghindar. "Lihat, Kak! Aku sudah hafal jurus yang kemarin!"

Hana mengacak rambut Dafa sambil berusaha tetap tersenyum ceria. "Hebat! Nanti tunjukin ke Kakak, ya? Masuk aja dulu ke dalam. Sepuluh menit lagi kita mulai, ya."

Sabuk Merah JambuStories to obsess over. Discover now