Bagian 1

10 1 0
                                        

Panas matahari sangat terik

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Panas matahari sangat terik. Siapa pun yang berdiri di bawahnya pasti akan mengeluh, karena merasakan kulit seperti rasa terbakar.

Di antara deretan pohon-pohon sawit, seorang ibu dan anak gadisnya tampak sibuk menyisik daun sawit. Jika di daerah lain daun sawit mungkin tak bernilai, lain halnya di kampung ini.

Daun-daun itu diambil, lalu diraut hingga hanya menyisakan lidinya saja. Setelah terkumpul banyak, orang-orang di kampung tersebut akan menjualnya untuk menambah penghasilan.

Di tengah kesibukan itu, Umaiza diam-diam sedang berusaha mengumpulkan keberanian. Ia menarik napas perlahan, mencoba menguatkan hati untuk menyampaikan lagi niat yang ia pendam—keinginannya untuk melanjutkan kuliah.

Sudah hampir setahun sejak ia lulus SMA. Selama itu pula ia hanya membantu ibunya di rumah untuk mencari lidi sawit, merautnya. Selain itu juga ikut berdagang.

“Mmm… Bu,” panggil Umaiza pelan, suaranya sedikit ragu.

“Hm?” jawab ibunya singkat tanpa menghentikan pekerjaannya.

Umaiza menggenggam ujung bajunya, lalu memberanikan diri.

“Ija mau kuliah… boleh nggak, Bu?”

Sang ibu akhirnya berhenti meraut. Tangannya terdiam, lalu ia menoleh menatap putrinya dengan wajah penuh tanya.

“Jangan nyinyir, Ja,” katanya datar. “Udah berapa kali Ibu bilang, terserah kamu mau kuliah atau mau ngapain. Kalau kamu mau kuliah, silakan. Ibu nggak melarang.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat.

“Tapi jangan pernah minta biaya sama Ibu. Ibu nggak punya uang buat kamu kuliah. Buat makan aja kadang susah.”

Umaiza terdiam.

Ia menghela napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang terasa menyesak di dadanya.

Sebenarnya ia tidak pernah benar-benar berharap ibunya akan membiayai kuliahnya. Ia hanya ingin mendengar satu kalimat yang bisa menguatkan langkahnya.

Namun jawaban itu tetap terasa seperti pisau kecil yang menusuk perlahan di hatinya.
Bukan karena larangan. Melainkan karena tak ada sedikit pun kata yang mampu menenangkan perasaannya.

Umaiza tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Namun pertanyaannya barusan seolah menjadi pemantik bagi sang ibu untuk meluapkan semua yang selama ini tersimpan di dalam pikirannya.

“Ayah kamu itu, nggak ada tanggung jawab sedikit pun,” ucap ibunya tiba-tiba, nada suaranya mulai meninggi.

“Minimal apa kek, ngasih biaya tiap bulan. Ini nggak ada sama sekali. Sejak kamu kelas enam SD, dia lepas tangan. Ayah macam apa itu?”

Umaiza hanya menunduk. Tangannya masih memegang lidi sawit, tetapi gerakannya melambat. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Dia ninggalin anak-anaknya yang masih kecil,” lanjut ibunya. “Adik kamu masih butuh kasih sayang ayah. Untung ada abang kamu yang bantu biaya buat kita… dan ayah baru kamu.”

“Paman Rudi, bukan ayah,” sela Umaiza pelan.

Ibunya mendengus kecil. “Kamu panggil aja dia ayah. Mau sampai kapan manggil dia paman?”

Umaiza mengangkat wajahnya sedikit, sorot matanya tegas meski suaranya tetap tertahan.

“Sampai kapan pun Ija nggak akan manggil paman itu ayah.”

Ibunya tersenyum miring, seakan mengejek. “Ayah kandung kamu aja nggak pernah datang lihat kamu. Nggak pernah ngasih biaya.”

Kata-kata itu terasa seperti batu yang dijatuhkan ke dalam dada Umaiza. Ia sadar… mungkin ia salah. Seharusnya ia tidak mengungkit soal kuliah itu lagi di hadapan ibunya. Namun apa daya, ia hanyalah seorang anak yang diam-diam berharap mendapatkan sedikit dukungan.

Sedikit saja.

Tanpa ingin melanjutkan percakapan yang semakin menusuk hatinya, Umaiza berdiri. Ia mengambil ikatan daun sawit yang sudah tersusun rapi, lalu mengangkatnya ke atas pundak dengan gerakan yang sudah sangat ia hafal.

“Ija antarin ini pulang dulu, Bu,” katanya pelan.

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi.
Hatinya terasa kacau. Sementara di belakangnya, sang ibu kembali sibuk memisahkan daun dan lidi, seolah percakapan barusan hanyalah hal biasa yang cepat berlalu.

Namun bagi Umaiza, kata-kata itu masih tertinggal dan terasa berat di dadanya.

Ketika sampai di rumah, Umaiza mendapati adiknya yang baru saja pulang sekolah. Tasnya masih tergantung di pundak, wajahnya terlihat lelah setelah seharian belajar.

Adik laki-lakinya itu melihat Umaiza baru saja menurunkan ikatan daun-daun sawit dari pundaknya.

“Ibu di mana, Kak?” tanya Dhafin sambil mendekat.

“Di lubang ee' kawan,” jawab Umaiza sambil tersenyum mengejek.

“Serius, Kak,” sahut Dhafin mengeluh, wajahnya langsung cemberut.

“Lah, nggak lihat kakak dari kebun sawit? Udah pasti ibu juga di sana,” jawab Umaiza. Ia lalu duduk di bangku kayu samping rumah. “Udah, ambilin kakak minum sana.”

Ia kemudian melirik ke arah adik perempuannya yang baru saja keluar dari kamar setelah mengganti baju sekolah.

“Faira, ambilin kakak minum.”

Faira langsung menggeleng.

“Kakak nyuruh kamu, Dhafin!”

Dhafin menghela napas malas, tapi tetap berjalan ke dapur. Tak lama kemudian ia kembali membawa segelas air dan menyerahkannya pada Umaiza.

Umaiza menerima gelas itu dan meminumnya perlahan.

Beberapa saat kemudian ia menatap Dhafin. “Fin… kalau kakak kuliah nanti, kamu jagain Faira ya. Jagain ibu juga.”

Dhafin mengerutkan kening.

“Emang kakak jadi kuliah?”

Umaiza tersenyum tipis, meski hatinya masih terasa berat oleh percakapannya dengan sang ibu tadi.

“Jadi. Kakak percaya, kalau kita yakin dan terus berusaha, Allah pasti bantu kita.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Lagipula kakak sudah bilang sama abang. Kata abang dia akan bantu.”

Dhafin mengangguk pelan, wajahnya langsung terlihat lebih cerah.

“Bagus dong, Kak. Kakak jadi kuliah. Afin ikut senang.”

Umaiza tersenyum kecil mendengar itu.

Di tengah segala keraguan dan kesulitan yang ada, setidaknya masih ada satu hal yang membuat hatinya terasa sedikit ringan yaitu
dukungan sederhana dari adiknya.

Ia masuk ke dalam rumah dan melihat Faira yang sudah siap-siap hendak pergi bermain.

“Fairaa, makan dulu,” cegatnya.

Faira menggeleng pelan. “Nanti, Kak. Faira belum lapar.”

“Kalau belum makan, nggak boleh main,” jawab Umaiza tegas.

Tanpa membantah lagi, Faira menghela napas kecil. Ia melepas sandal yang sudah terpasang di kakinya, lalu berbalik masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju dapur.

Umaiza memperhatikannya sebentar, memastikan adiknya benar-benar pergi untuk makan.

Lalu ia menoleh pada Dhafin. “Afin, makan dulu. Habis itu pergi ke tempat ibu, bawain daun yang masih tersisa.”

Dhafin mengangguk.

“Kakak mau tidur bentar,” lanjut Umaiza pelan.

Tubuhnya terasa lelah setelah seharian membantu sang ibu mencari lidi sawit. Namun yang lebih melelahkan dari itu adalah pikirannya sendiri—tentang kuliah, tentang biaya, dan tentang masa depan yang masih terasa jauh dan samar.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 15 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Harga Dari Sebuah GelarStories to obsess over. Discover now