[Best Friend's Brother]
Tinggal di pedesaan adalah satu-satunya cara bagi Thalia untuk kabur dari skandalnya. Masalahnya, ia harus menumpang di rumah kakak laki-laki sahabatnya sendiri, Chandra. Satu-satunya tempat yang bisa ia tinggali tanpa perlu...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Trigger Warnings This story contains mature themes including: • Public scandal and media scrutiny • Age gap relationship (26 y/o x 32 y/o) • Forced proximity • Emotional manipulation • Grief, trauma, and psychological instability • Abuse (non-romantic; past and/or external characters) • Use of firearms and bladed weapons • Explicit language and sexual content (18+)
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
[This story is a work of fiction. All characters are fictional, and some places, like Oakridge, are invented for the story. Any resemblance to real people, locations, or events is coincidental]
ꫂ❁
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
[THALIA]
London, England
Di dunia ini, ada orang yang malang dan ada yang beruntung. Entah kenapa, aku termasuk yang tidak terlalu beruntung, tapi juga tidak terlalu sial. Di tengah-tengah. Selalu menebak, selalu berharap. Selalu menyiapkan diri untuk yang terburuk, supaya tidak terlalu kecewa.
Tapi malam ini... ini malam yang bahkan dalam bayangan terburukku pun tidak pernah terpikirkan.
Aku terkena skandal.
Karena apa? Karena, dengan bodohnya, aku kenalan dengan seorang laki-laki di klub, tanpa sedikit pun ngecek latar belakangnya. Sialnya, dia ternyata seorang aktor.
Oke.
Seorang aktor gay! Masuk akal, kan, kalau aku sama sekali tidak tahu?
"Banyak banget," gumamku, mengintip dari balik kaca apartemen kecil ini, di mana di sisi jalan banyak reporter media menunggu.
"Mending you tinggal sama kakak I aja," Renata berucap dari seberang telepon, menghela napas mengetahui keadaanku saat ini.
Dan jangan tanya soal komplain dari pemilik apartemen, dia udah pernah ngamuk karena aku telat bayar sewa bulan lalu, dan sekarang pasti tambah bete karena laporan tetangga. Oh god.
"Funny," ucapku, berpikir kalau Renata sedang bercanda. Dia sahabatku dari SMA, tapi jujur deh, humor dia kadang tidak bisa ditebak.
"I'm not kidding, Lia!" Renata mendengus sebal. "You tahu rumah yang sering keluarga I pakai waktu liburan di Oakridge, kan? Sekarang ditempati Mas Chandra, bebas sewa deh, sampai berita skandal ini reda."
Sejujurnya, untuk orang sepertiku yang hidup serba pas-pasan, yang beberapa kali telat bayar sewa, tawaran bebas biaya sewa itu sungguh menggiurkan. Tapi, masa iya harus tinggal satu rumah sama kakak laki-laki Renata?
"Emang enggak ada rumah liburan yang enggak ada Mas Chandra-nya gitu? Kamu kan kaya raya, Ren. Rumah yang lain dong."
"Take it or leave it." Ucapan Renata bikin aku meringis. Satu hal soal sahabatku ini, dia benar-benar akan justtake it or leave it. Dengan cara didiknya yang menuntut dia untuk mengambil keputusan secara tepat dan cepat, dia juga menuntut orang lain berlaku sama.
"Besides, apa masalahnya sih tinggal sama kakak I? You kan sudah kenal dia sejak lama, enggak bakal awkward kok," lanjutnya santai, seolah semua itu cuma urusan biasa.
Duh... masalahnya, dari yang selama ini aku tahu, which is dari cerita Renata, Mas Chandra tuh terdengar mustahil diajak bertetangga, apalagi tinggal bersama satu atap. Hell no.
Tapi aku mengintip lagi, menyibak tirai sedikit, dan teringat sekali lagi. Saat ini pilihanku semakin menyempit. Uangku menipis. Kalau aku diusir, yang ada aku jadi salah satu gelandangan di stasiun bawah tanah London.
"Oke, as long as jauh dari mata media dan cukup untuk bikin skandal sialan ini reda."
"Nice! I'm going to call him today. Will update you when you can move in! But soon as possible, bye babe!" Renata memutus panggilan sepihak bahkan sebelum aku sempat merespon.
Menghela napas, aku menatap ponselku dan sekali lagi dihadapkan dengan pertanyaan yang terus-menerus menghantui hidupku.
Apakah ini keputusan yang tepat?
✦✦✦
Don't be a silent reader, darling. Tap that star, leave a thought. With love, MISS K
✦✦✦
AN: Hii, I'm back! Maaf banget ya kemarin Tanpa Tinta Hitam terpaksa aku unpublish. Jujur, aku sempat kehilangan alurnya karena lagi hectic, dan ceritanya juga terasa terlalu berat buat aku lanjutkan dengan maksimal. Daripada diterusin setengah-setengah, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dulu.
Daaann sekarang aku balik dengan cerita baru yang I promise jauh lebih ringan, romcom! Semoga kalian bisa menikmati cerita ini dengan santai dan ikut senyum-senyum sendiri.