prologue

46 19 8
                                        

Happy Reading

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Happy Reading.

****

Senja menyelimuti kota Palembang dengan hangat, seakan bertukar sapa pada manusia yang bahkan tak menghiraukan sapaannya. Rintik sisa hujan masih menetes di atas tanah kota Palembang yang sudah basah karenanya. Genangan air bertebaran dimana-mana tanpa sengaja membuat sepatu hak Laras basah.

Laras memperhatikan sepatu hak nya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tatapan nya datar, dipenuhi ketelitian. Ia membetulkan kacamatanya lalu kembali memusatkan perhatian pada buku di pangkuannya. Remang cahaya senja memantulkan kepada dunia siluet bulu mata lentiknya yang anggun.

Angin sepoi-sepoi berhembus pelan menyentuh surai hitam lebat miliknya. Laras duduk dengan tenang di bangku belakang stadion yang sepi. Seakan menunggu kehadiran seseorang yang ia biasakan untuk tetap hadir dalam hidupnya.

"Hai, maaf nunggu lama ya?"

Laras mendongak.

Seorang lelaki jangkung berdiri di hadapannya. Wajahnya terlihat penat, napasnya sedikit terengah. Seragam taekwondo masih terbalut ditubuh kekarnya, belum sempat ia ganti.

Laras tak tersenyum, ia hanya menggeser sedikit ruang di bangku itu.

"Gimana tadi?"

Zidan mengusap rambut nya yang basah oleh keringat, lalu mengeluarkan medali emas dari tas yang tersampir di pundaknya.

"Menang, dong, " Ujarnya riang dengan senyum merekah diwajah letihnya.

Laras tak bergeming sejenak.

Ia hanya memperhatikan wajah Zidan yang tampak kelelahan dengan keringat mengucur deras dari dahinya.

Tak lama kemudian Laras mengeluarkan sapu tangan, "Wait, kamu kelihatan lelah," Ucap Laras sembari mengusap keringat di dahi Zidan.

Zidan terkekeh pelan, "Biasa, ah. Habis tanding, Ra."

"Kali ini cedera dimana? Kenapa kamu kesini dulu? Seharusnya kamu istirahat, bukan kesini nyusulin aku, lagipula aku mau pulang."

Laras berceloteh dengan nada khawatir yang samar. Namun, tanpa disadarinya yang dibutuhkan Zidan bukan hanya itu.

"Gaada apresiasi, nih? Ucapnya sembari menggoyangkan medali emas itu. "Aku menang, lho."

Laras menghela napas pendek. "Bagus."

Zidan terdiam mendengar respon singkat itu. Senyum meredup seperkian detik.

Zidan perlahan mengalihkan pandangannya, "Oh.. Iya makasih, ya.." senyum getir lolos dari bibirnya.

Hening seketika menyelimuti dua insan yang tengah beristirahat dari huru hara kota.

Tak berselang lama, Laras mengangkat tangannya lalu mengelus pelan surai lebat milik lelaki yang duduk disamping nya itu.

"Good boy."

Zidan langsung menoleh. Senyum itu kembali-cerah dan tulus meskipun wajah nya dibuat babak belur oleh penatnya dunia.

Dada Zidan dipenuhi kehangatan sehingga semburat merah timbul dari kedua pipi tirusnya.

"Sosweet, haha," Ucap Zidan dengan nada jenakanya.

Laras ikut tersenyum kecil, "Kamu udah ga mondok lagi?" Tanya Laras mengubah topik.

"Iya, aku udah keluar dari sana."

Laras mengangkat satu alisnya, "Kenapa?"

"Karena apa, hayo?" Jawab Zidan humoris seraya menaik-turunkan alisnya melucu. Senyum hangat tak luput dari wajah teduhnya.

"Zidan..." Tegur Laras dengan lembut.

Zidan refleks mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "Haha, oke-oke! Hm.. Menurut kamu kenapa di do'a sapu jagat dunia disebut dahulu daripada akhirat?"

Laras menutup bukunya dan fokus sepenuh nya kepada Zidan. Laras suka setiap kali lelaki ini mulai menceritakan hal yang tak ia ketahui.

"Kenapa?" Tanya Laras.

"Apa guna nya belajar dunia akhirat namun tak menyeimbangkannya dengan dunia? Pernah lihat ga.. ada tuh suami yang agamanya mantep banget tapi, dia sengaja ga kerja dengan embel-embel rezeki itu datang dari Tuhan. Dia terus berdoa, tapi gamau usaha."

Laras mengangguk pelan tanda mengerti, "Do'a selalu diiringi dengan usaha. Ilmu akhirat juga perlu diimbangi dengan ilmu dunia." Gumam Laras yang langsung di sahuti Zidan.

"Pinter," sahutnya memuji.

"Makanya dari itu, Ra. Aku mutusin buat keluar dari pondok. Aku gamau jadi pria yang buta agama."

Laras terdiam. Mencerna. Lalu mengangguk.

"Aku paham."

Senyum Zidan melebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih, "Good. Anyway, aku bakal tetep dikota ini sampai beberapa hari kedepan."

"Kenapa? Pertandingan kamu kan sudah selesai, tuh."

Zidan bersiul menggelitik, "Seseorang bakal bertambah umur besok malam," Ujarnya santai.

"Sayang kalo ga dirayain. Soalnya dari tahun belakangan dia gapernah ngerayain ulang tahunnya sendiri, kasian."

Mendengar hal itu Laras spontan menyikut Zidan, "Shut up, emang jarang ada orang yang tau tanggal lahir ku. Lagipula gaperlu dirayain,"

Zidan tiba-tiba berdiri dan mengangkut tas nya ke pundak.

Zidan terkekeh pelan, "Santai, kaya sama siapa aja," Ucapnya mengedipkan satu matanya genit seraya meregangkan otot-ototnya yang terasa tegang.

Laras mendongak keatas lalu menyungging senyum miring, "Itu kalimat ku,"

"Pinjem bentar, ah. Pelit banget," Ucap Zidan. "Yaudah nih, aku cabut nanti aku jemput ditempat ini, kamu kan gamau ngasih tau alamat rumah kamu," Tambahnya.

Laras pun ikut berdiri, "Hati-hati di jalan, Zidan. Keras boleh tapi jangan lupa sama diri sendiri, understood?"

Zidan mengangkat tangan membuat gerakan salam hormat layaknya seorang prajurit, "Siap, paham bu!" Ucapnya sembari menjauh perlahan.

Laras menggelengkan kepalanya, "Haha, dasar."

Zidan berjalan menuju kuda besi nya yang selalu setia menemani. Ia melambaikan tangan nya kearah Laras sebagai tanda perpisahan, "See you, ma'am!"

Laras tersenyum tipis dan melambaikan tangannya juga kearah Zidan.

Iris nya yang tajam memperhatikan punggung Zidan yang mulai mengecil, sampai akhirnya larut dalam hiruk pikuk keramaian kota.

Senyum tipis masih terukir diwajah Laras.

Namun kali ini sesuatu terasa berbeda.

Senyum itu mencerminkan rasa bersalah.

Laras beranjak, meninggalkan bangku itu kembali sendiri.

Bangku itu masih berada disitu. Menyimpan sisa obrolan hangat yang perlahan ditenggelamkan sunyinya temaram Bumi Sriwijaya.

****

CONTINUED
- Elevasi dalam Tenggelam -

Funfact :

kota Palembang disebut juga Bumi Sriwijaya, dikarenakan pada masa itu, Kedatuan Sriwijaya yang mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9 membuat kota ini dikenal dengan julukan "Bumi Sriwijaya."

Elevasi dalam TenggelamWhere stories live. Discover now