📢PROLOG 1

77 24 5
                                        

PROLOG 1 – Ulan Tahun Alana

Di ruang kantor yang sunyi, Kolonel Rizal Maddison menatap layar dokumen dengan mata yang tajam. Di depannya, berkas kasus besar sedang terbuka: penyelundupan narkoba dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh rekan militernya, Kolonel Rahmat.

Sudah lama ia mewanti-wanti hal ini, akhirnya hari ini semua bangkai yang disembunyikan terungkap pula.

“Ini akan mengakhiri semua kebohonganmu, Rahmat,” gumam Rizal, penuh tekad.

Tak lama kemudian, Kolonel Rahmat di-skors dari militer, dan ketika penyelidikan semakin mendesak, ia melarikan diri, meninggalkan dendam yang membara pada Rizal dan bertekad akan membalas semuanya.

***

Di rumah Maddison, suasana begitu berbeda. Hiasan warna-warni menutupi dinding, balon-balon melayang, dan aroma kue ulang tahun memenuhi ruangan.

Hari itu adalah ulang tahun Alana yang ke-12.

Di lorong rumah, langkah kecil Aldi terdengar ringan. Senyum polosnya menyebar saat ia memegang sepuncuk mawar putih di tangannya.

Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu kamar Alana berkali-kali.

Di balik pintu, Alana kecil sedang menari-nari di depan cermin. Gaun putih ulang tahun yang diberikan ayahnya mengikuti gerakan tubuhnya, rambut terurai anggun kesana kemari mengikuti irama tarian.

Alana membuka pintu dan langsung melihat Aldi.

“Kamu nyembunyiin apa itu?” tanyanya sambil tersenyum lebar.

“Bukan apa-apa,” jawab Aldi, wajahnya memerah. Ia cepat-cepat menyembunyikan mawar putih di belakangnya.

“Tapi aku udah liat, Aldi,” kata Alana dengan tawa polos.

Aldi mundur satu langkah, tapi Alana sigap mengejarnya. Dengan gesit, ia mengambil mawar itu dari tangan Aldi.

“Ahahaha, kamu nyembunyiin ini dari aku? Emang buat siapa?” tanya Alana riang.

“Bu… buat kamu, Al,” Aldi menjawab dengan gugup.

Alana tersipu malu. “Makasih yah…”

Aldi hanya mengangguk berkali-kali, wajahnya masih merah.

Alana kemudian memutar ujung gaunnya dan menatap Aldi dengan polos,

“Aku cantik gak?”

“Cantik…” Aldi menjawab pelan, malu-malu.

Tiba-tiba, suara ibunya terdengar dari luar kamar.
“Alana, Aldi! Cepat ke taman, teman-teman sudah menunggu!”

Dengan tangan Alana yang masih menggenggam mawar, mereka berdua berlari ke taman.

Anak-anak sudah berkumpul, menunggu untuk menyanyikan lagu ulang tahun. Suasana riang memenuhi taman, tawa dan sorak sorai menyatu dengan langit cerah yang Alana cintai.

***

Hujan Memelukku Stories to obsess over. Discover now