1. Gempa Untuk Mahadeswa

918 41 3
                                        

Hujan sore itu turun dengan derasnya di Jakarta, memecah keheningan dalam mobil mewah yang melaju pelan di tengah kemacetan. Mahadeswa Kairanu, pria berusia 30 tahun itu menatap jalan di depan dengan ekspresi datar. Matanya yang tajam sesekali melirik jam di dashboard. Pria dengan postur tinggi tegap dan wajah bersudut tajam itu mengenakan kemeja putih sederhana yang masih rapi meski hari sudah larut. Hujan yang mengguyur kaca depan seperti mencerminkan kekacauan dalam pikirannya.

Teleponnya berdering lagi untuk ketiga kalinya dalam sejam terakhir. Tanpa melihat siapa penelponnya, ia langsung mengangkat. "Ma, Deswa lagi di jalan. Macet. Iya, pasti Deswa jemput," suaranya terdengar datar, hampir tanpa emosi, tapi ada urat kecil yang berdenyut di pelipisnya.

"Jangan kasar sama Lava ya, Mas. Dia kan baru pertama kali tinggal di Jakarta," suara Sita, ibunya, terdengar khawatir di seberang telepon.

"Dia anak satu-satunya Tomo, sahabat almarhum Papa. Ingat, keluarga mereka sudah banyak membantu kita dulu. Dan sejak ibunya meninggal, Tomo sangat memanjakan Lava. Dia mungkin agak... berbeda."

"Iya, Ma. Deswa tahu. Dia anak sahabat almarhum Papa. Deswa akan bersikap baik," jawab Deswa singkat sebelum menutup telepon, berusaha menahan gusar. 'Bersikap baik' dalam kamus Deswa berarti tidak mengusirnya langsung dari mobil atau apartemen. Titik.

Lelaki itu menghela napas panjang, menatap derasnya hujan yang seolah tak ingin berhenti. Dalam pikirannya berputar berbagai pertanyaan mengganggu. Kenapa harus dia yang menjemput? Kenapa harus magang di perusahaannya yang masih merintis, start-up teknologi yang sedang dalam fase kritis dan membutuhkan konsentrasi penuh? Dan yang paling membuatnya tak nyaman: kenapa dia harus tinggal bersamanya di apartemennya yang hanya dua kamar, yang selama ini menjadi ruang kesendirian dan ketenangannya? Sebuah pengorbanan untuk membayar utang budi orang tua, katanya. Utang budi yang terasa sangat mahal saat ini.

***

Di terminal kedatangan bandara Soekarno-Hatta, seorang gadis dengan rambut panjang ikal cokelat sedang berdiri sambil memegang koper besar berwarna pink cerah, persis seperti warna sunset di pantai. Lavanina Putri Admaja, gadis berusia 22 tahun, matanya berbinar-binar memandangi keramaian bandara, seperti anak kecil di taman hiburan. Gadis yang mengenakan dress kuning mentega dengan sepatu kets putih bertatahkan glitter itu terlihat seperti sinar matahari yang tersesat di tengah hujan dan kerumunan orang yang lelah. Cantiknya mencolok, dengan mata besar berwarna hazel, bibir penuh alami, dan senyum yang begitu lebar hingga seolah mampu mengusir mendung. Posturnya ramping namun berlekuk, dan dress pendeknya yang sederhana justru memperlihatkan kaki yang jenjang. Dia polos, namun tanpa disadari, ia sempurna dimata lelaki.

"Wah, Jakarta besar juga ya," gumamnya sambil memainkan anting-antingnya yang berbentuk kupu-kupu perak. Tas ransel kecil di punggungnya penuh dengan gantungan kunci karakter penyanyi pria kesukaannya, berdesing-desing setiap dia bergerak.

Dua jam sudah ia menunggu. Tapi wajahnya tak menunjukkan kekecewaan sedikitpun. Justru, ia sibuk mengamati setiap orang yang lewat, tersenyum pada bayi yang menangis, dan sesekali berdecak kagum melihat kemegahan bandara. Sebagai putri tunggal Tomo Admaja, pengusaha properti ternama di Malang, Lava terbiasa dimanja dan segala keinginannya dituruti. Tapi kematian ibunya lima tahun lalu meninggalkan lubang yang coba diisi sang ayah dengan segala materi dan kebebasan, menjadikannya manja, centil, tetapi juga haus akan perhatian tulus yang kini ia cari dengan caranya sendiri dengan menjadi cahaya yang terlalu-terang.

***

Deswa akhirnya tiba di bandara setelah perjalanan dua jam lebih karena hujan dan macet. Wajahnya semakin masam, seperti langit Jakarta. Ia langsung menuju area kedatangan domestik, matanya yang awas mencari-cari gadis yang hanya ia kenal dari satu foto yang dikirim ibunya-foto di mana Lava memakai topi jerami lebar dan terlihat seperti model iklan minuman ringan.

LAVANINA [On Going]Wo Geschichten leben. Entdecke jetzt