Kafi tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya kembali dengan seseorang dari masa lalu akan membangkitkan luka yang selama ini ia coba kubur. Bertahun-tahun ia hidup dengan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang, meyakinkan dirinya bahwa a...
Ruang tamu yang biasanya riuh rendah oleh suara sinetron dari siaran televisi ikan terbang-kini sunyi senyap. Mungkin sang Mamah sudah tidur. Ia menggantungkan kunci motor di tempatnya. Dengan langkah ringan, Kafi berjalan menuju tangga, merasa aman karena tak melihat keberadaan sang Mamah setelah mengamati ruang tamu yang benar-benar hening.
Tapi tanpa ia sadari, dari arah dapur yang agak tersembunyi, sepasang mata sudah mengawasinya sejak tadi. Sintya berdiri dengan tangan terlipat di dada, nyaris tak terlihat dari pintu depan.
"Tadi pas izin katanya pulang sore," suara Sintya tiba-tiba terdengar, memecah keheningan. "Kok ini baru pulang abis adzan isya, ya? Aa Kafi ganteng kalem dari mana aja?" Nadanya lembut, tapi jelas mengandung sarkas.
Mendengar kalimat sarkas dari belakang tubuhnya, langkah Kafi langsung berhenti. Ia menegakkan badan dengan perlahan, lalu menoleh dengan kaku ke arah suara. Sintya berdiri di sana-berkacak pinggang, menatapnya tanpa berkedip.
Dengan cengiran garing, Kafi menyapa, "Eh, Mamah... Aa kira udah tidur."
Sintya tidak menjawab. Tatapannya tetap menusuk, dan Kafi bisa merasakan udara di sekitarnya ikut menegang.
"Kafi cuma main ke rumah Rakha kok, Mah. Sumpah deh!" Ia buru-buru mengangkat dua jarinya seperti bersumpah di sidang pengadilan. Tapi melihat mamahnya tetap diam, Kafi menurunkan jarinya pelan-pelan. Wajahnya mulai kelimpungan.
Sintya masih menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas kecil dan tersenyum geli.
"Santai aja kali, gak segitunya juga," ucapnya ringan.
Kafi, yang tadinya sudah siap pasang tameng untuk adu argumen, justru jadi bingung sendiri. Alisnya berkerut. Ini mamahnya kenapa tiba-tiba jadi tenang banget?
"Terus... ini Kafi boleh langsung ke kamar?" tanyanya hati-hati, masih curiga dengan perubahan sikap Sintya yang terlampau tenang.
Sintya mengangguk pelan, senyumnya masih tersungging tipis. "Boleh. Tapi hari Senin Aa anterin mamah, ya? Mamah mau ke rumah temen." pintanya.
Kafi sempat diam sebentar, masih memasang tampang waspada. Tapi karena permintaannya terdengar sangat... normal, ia akhirnya mengangguk cepat.
"Siap! Siap, Mah."
Tanpa menunggu lama, ia langsung menapak naik ke tangga, berharap tak ada pertanyaan tambahan.
Sintya hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Ia tahu sekolah Kafi sedang mengadakan libur lima hari berturut-turut karena cuti bersama hari besar Keagamaan juga Hari libur nasional. Dan ia tahu juga, libur panjang sering kali jadi ajang anak-anak menghilang diam-diam dengan dalih 'belajar bersama.' Makanya, kali ini ia punya rencana sendiri. Sebelum Kafi punya ide ngilang ke mana-mana, mending dibawa aja sekalian, pikirnya sambil membereskan meja makan. Toh, sekali-sekali anak bujangnya itu bisa juga jadi ojek pribadi.