Kerumunan terpecah. Decak kesal dan gumam protes dari wajah-wajah yang menatap pria paruh baya berwajah khas Asia Timur. Ia hanya membalas dengan lambaian tangan dan senyum bebas. Pada layar informasi umum berukuran tiga kali empat meter, terpampang jelas bahagianya akan udara bebas.
Tak lain, Yogi meremat erat handle koper di tangan kanannya. Pria di layar, dengan sumringah bertutur dengan wartawan—mau tak mau menghentikan langkahnya sejak keluar dari pintu otomatis yang terbuka. Seolah penundaan penerbangan beberapa jam lalu belum cukup membuatnya menahan marah.
Segera memakai topi dan menyeret koper—sebelum keberadaannya menarik perhatian publik yang masih berlalu lalang di areal bandara malam itu.
"Gimana Bali, Mas Yogi?" sapa ramah Pak Eza, membuka pintu mobil.
Tersenyum seadanya, Yogi langsung masuk setelah menyerahkan kopernya.
"Bagus, Pak."
"Udah lihat berita, Mas?"
Pak Eza sudah membelah jalan dari parkiran bandara. Ia merasakan atmosfir dingin dari kursi belakang. Raut lelaki itu sudah menjawab pertanyaannya.
"Mas Yogi mau langsung ke apartemen?"
"Tolong bilangin ke Pak Roger ya Pak." jawab Yogi, tangannya memijat pelipisnya.
"Delay panjang ya, Mas."
"Iya. "Yogi mengusap wajahnya, lalu menatap Pak Eza melalui spion depan. "Pak, fokus aja nyetirnya."
Dibalas anggukan mantap Pak Eza.
Berita sudah melebar sejak kemarin. Liem Bernardo kembali menghirup udara bebas setelah kasus korupsi miliaran. Pria paruh baya itu merampas hak ratusan buruh perusahaan pabrik tekstil.
Yogi tak begitu tertarik dengan kasus Liem Bernardo pada masanya. Dan kekesalan lainnya bahwa Yogi terlambat membencinya. Tak bisa dibayangkan pria berusia hampir empat puluh tahun itu akan kembali menjalani hidup normal. Setelah merampas kebahagiaan orang lain, termasuk—hidupnya.
Takdir memukul keras. Entah kemungkinan apalagi yang muncul setelah kembalinya Liem Bernardo.
YOU ARE READING
SLAM THE DESTINY (END)
RomanceKisah melodrama tentang takdir yang tak pernah bisa ditebak, tentang perasaan yang tumbuh dari penolakan, dan tentang cinta yang datang sebagai ujian, bukan jawaban. Yogi tak pernah membayangkan bahwa Vie, teman SMA yang dulu tak pernah ia sukai, j...
