Bel istirahat berdering nyaring, membebaskan kelas dari kungkungan rumus fisika yang menyesakkan. Mentari, seolah mendapatkan energi baru, langsung melonjak dari kursinya. Hari ini adalah hari yang dinantikannya—kedatangan siswa baru yang dikabarkan memiliki pesona mematikan.
"Mau ke mana, Tar?" tanya Rara, sahabatnya yang selalu setia menjadi penonton tingkah polah Mentari.
"Menyambut pangeran baru, Ra! Siapa tahu dia adalah jawaban dari doa-doaku selama ini," jawab Mentari, dengan kedipan mata yang jenaka.
Rara hanya menggelengkan kepala, sudah terbiasa dengan semangat membara Mentari, bahkan untuk hal-hal yang absurd sekalipun.
Dengan langkah ringan, Mentari bergegas menuju ruang guru, tempat siswa baru itu berada. Dari kejauhan, ia sudah bisa menangkap sosok seorang cowok yang berdiri membelakanginya. Rambut hitam legamnya tampak kontras dengan kemeja putih yang dikenakannya. Bahunya yang lebar memberikan kesan kokoh, namun aura dinginnya terasa menusuk hingga radius lima meter.
"Oke, Mentari, saatnya beraksi!" bisiknya pada diri sendiri, mencoba membangkitkan keberaniannya.
Dengan langkah mantap, Mentari mendekat dan mengulurkan tangannya. "Hai! Aku Mentari, siswi paling ceria di sekolah ini. Selamat datang di SMA Merah Putih!"
Cowok itu berbalik, dan Mentari langsung terpaku. Matanya setajam elang, menyorot dengan intensitas yang membuat jantungnya berdebar. Hidungnya mancung sempurna, dan bibirnya... ah, bibir itu tampak begitu memesona. Sayangnya, ekspresinya datar, sedatar jalan tol di tengah malam.
Cowok itu menatap tangan Mentari tanpa niat sedikit pun untuk membalas uluran itu. "Aksa," jawabnya singkat, padat, dan menusuk.
Mentari sedikit menurunkan tangannya, namun senyumnya tetap merekah. "Aksa? Nama yang keren! Kamu pindahan dari mana?"
Aksa tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan Mentari menggantung dalam ketidakpastian.
"Eh, Aksa, kamu suka pelajaran apa? Aku paling suka sejarah, soalnya banyak cerita seru. Kamu tahu nggak, dulu di sini ada kerajaan yang..."
Mentari terus berceloteh, berusaha mencairkan suasana yang membeku. Namun, Aksa tetap membisu, seperti patung es yang tak terpengaruh oleh panasnya Mentari.
"Aksa, kok diem aja sih? Kamu nggak suka ya aku ajak ngobrol? Atau kamu lagi sariawan?" tanya Mentari dengan nada khawatir yang tulus.
Aksa menghela napas panjang, seolah menahan kejengkelan. "Bisakah kamu diam sebentar saja?"
Mentari terdiam. Baru kali ini ada cowok yang menyuruhnya diam. Biasanya, orang-orang justru menikmati celotehannya yang menghibur.
"Maaf," cicit Mentari, merasa sedikit malu dan tidak enak hati.
Aksa menoleh padanya, tatapannya sedikit melembut. "Tidak perlu minta maaf. Aku hanya tidak suka basa-basi."
"Oh... gitu," jawab Mentari, merasa sedikit kecewa, namun pantang menyerah. Ia yakin, di balik sikap dingin Aksa, pasti ada sesuatu yang menarik untuk digali.
"Oke, Aksa. Aku mengerti. Tapi, aku nggak akan menyerah untuk berteman denganmu!" kata Mentari dengan senyum yang kembali merekah, seolah tidak ada yang bisa memadamkan semangatnya.
Aksa hanya menatap Mentari dengan tatapan yang sulit diartikan. Apakah itu heran, jengkel, atau mungkin... sedikit tertarik?
Mentari tidak peduli. Ia sudah memutuskan untuk menjadikan Aksa sebagai temannya, bagaimanapun caranya.
"Kalau gitu, aku duluan ya! Sampai jumpa di kelas!" kata Mentari sambil melambaikan tangan dengan ceria.
Ia berjalan keluar dari ruang guru dengan semangat yang tetap membara. Di kepalanya sudah terbayang berbagai rencana untuk mendekati Aksa.
"Aksa, tunggu saja! Aku akan membuatmu tersenyum!" gumam Mentari dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
###
TBC
Binuang, 07 Desember 2025
YOU ARE READING
Jejak Senja di Hati Mentari
Teen FictionMentari adalah seorang siswi SMA yang selalu merasa hidup dalam bayang-bayang adiknya, Bulan. Bulan, dengan kecantikan, kecerdasan, dan popularitasnya, selalu menjadi kebanggaan keluarga. Sementara itu, Mentari yang merasa kekurangannya tak sebandin...
