Bab 1. Malaikat Berseragam SMA

53 6 0
                                        

"Boleh juga," ucap Mireya yang melihat beberapa hasil foto studio kucing milik kakaknya.

Gadis itu menutup buku studio dan melangkah keluar bus saat kendaraan yang ia tumpangi itu berhenti. Dia keluar pelan, kakinya menapak di trotoar, matanya menyapu sekilas, menyaksikan banyak mobil lalu-lalang, motor berdesakan, dan suara klakson bersahutan seperti orkestra kacau.

"Seharusnya halte bus itu di depan gerbang sekolah," gumam Mireya memprotes.

Bus yang ia tumpangi untuk berangkat sekolah harus terhenti di pemberhentian bus yang berjarak sekitar 600 meter dari gerbang sekolahnya. Bus tidak bisa sembarangan berhenti di depan gerbang sekolahnya karena bisa menyebabkan jalanan macet yang tak berkesudahan.

"Yah anggap saja olahraga pagi," katanya menyemangati diri sendiri.

Di tengah hiruk pikuk jalanan, Mireya sibuk memasukkan buku studio kecil ukuran A3 ke dalam tasnya. Fokusnya penuh di resleting tasnya, sama sekali tidak sadar kalau kakinya sudah menginjak aspal jalanan.

"Kreeeetttt!" suara rem motor melengking tepat di sebelahnya.

Mireya baru sadar ketika sebuah tangan hangat meraih lengannya dan menariknya menjauh. Tubuhnya hampir menabrak dada seseorang-tegak, kokoh, dengan aroma sabun yang samar.

"Lo nggak apa-apa?" suara cowok itu terdengar dalam, tapi bukan marah. Lebih seperti memastikan.

Mireya mendongak, matanya langsung terkunci pada tatapan teduh sepasang mata gelap. Wajah cowok itu terlalu bersih, seragamnya rapi nyaris sempurna, dan rambut hitam pekatnya berkilau terkena cahaya matahari pagi.

"G-gue," Mireya tercekat, masih syok.

Cowok itu melepaskan lengannya perlahan, memastikan dia berdiri stabil.

"Lo harus hati-hati. Nyebrang jangan sambil bengong. Motor bisa gila kalau udah ngebut."

Nada bicaranya tenang, seperti kakak yang menasihati seorang adik yang ceroboh. Ada senyum tipis di sudut bibirnya-samar, tapi cukup untuk bikin Mireya merasa aman.

"Maaf," balas Mireya dengan nada lirih.

"Ya udah. Lain kali jangan diulangi ya," balas cowok itu singkat, lalu menepuk pelan bahunya sebelum melangkah pergi.

Mireya masih terpaku di tempat. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena hampir tertabrak, melainkan karena, tatapan hangat itu.

Seolah-olah dia baru saja diselamatkan malaikat berseragam SMA.

Sejak kapan SMA Grahanusa punya orang setampan dan sebaik hati dia? batin Mireya.

***

Sejak pagi, pikiran Mireya masih melayang pada sosok pria yang menolongnya. Biasanya, perhatian Mireya memang mudah teralihkan. Entah perkara sepatu baru temannya, lagu viral di TikTok, atau bahkan kucing liar yang tidur di depan gerbang sekolah. Mireya memang gampang kagum pada hal-hal kecil, dan sering kali perasaan itu hilang secepat munculnya.

Tapi kali ini berbeda. Tatapan teduh cowok itu masih terpatri di kepalanya. Setiap kedipan mata, seolah sosok itu masih ada, menariknya menjauh dari bahaya.

Di kantin, sahabatnya Alira duduk di depannya dengan mata berbinar.

"Reyaaa! Tau nggak? Ada gosip panas!"

Mireya mengerutkan alis. "Gosip Golden Brain lagi? Biasa aja, lah."

Mireya sudah sangat hafal gelagat Alira yang selalu menghujaninya dengan berita terbaru dari para Golden Brain. Julukan Golden Brain diberikan oleh admin broadcast sekolah di awal semester kemarin, itu adalah julukan untuk mereka yang tidak hanya jenius tapi juga kaya raya dan kemudian disatukan dalam satu kelas di kelas A. Anak gubernur, donatur, mentri dan pejabat lainnya memenuhi kelas itu.

Your CrushviaStories to obsess over. Discover now