"Sembilan Tahap dalam jalan kultivasi Lamina dapat dipandang sebagai proses pertumbuhan Pohon Kehidupan. Pohon itu senantiasa hidup karena disirami dan dipelihara dengan Lamina Energi yang diserap dari alam semesta.
Perjalanan dimulai dari Benih (Seed) yang ditanam, lalu berkembang menjadi Akar (Root) yang menghunjam dalam. Dari sana lahirlah Poros (Axis) sebagai batang utama, diikuti Cabang (Branch) yang menjulur ke segala arah, sementara Kulit (Shell) melindungi keseluruhan tubuhnya.
Pada akhirnya terbentuk Buah (Core) sebagai inti kekuatan, yang kemudian bermekaran menjadi Bunga (Soul). Dari bunga itu terpancar pengaruh luas sebagai Grand Domain, dan pada puncak tertinggi… Sang praktisi menjelma menjadi Lamina Abadi (Eternal), Pohon Kehidupan yang menyatu dengan hukum langit dan bumi.” — Blazing Sun Eternal Lamina
_______________________________________________
Langit malam di atas Pegunungan Kencana Biru diliputi awan kelabu.
Kabut tebal turun perlahan dari puncak gunung, menutup hutan pinus yang menjulang bagai tombak hitam menusuk langit.
Di kejauhan, gelegar petir sesekali menyambar, memperlihatkan siluet tebing terjal yang seolah tak berujung. Angin gunung melolong, membawa aroma tanah basah bercampur darah segar.
Namun di tengah kegelapan itu, terdengar langkah tergesa.
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun, wajahnya pucat dengan darah menetes dari pelipis, berlari terseok-seok di jalur berbatu. Matanya merah, sorotnya bagaikan binatang terpojok, namun tetap memancarkan tekad keras. Tubuhnya kurus berotot, pakaian hitamnya compang-camping. Dari balik kain robek di dadanya, samar terlihat cahaya ungu redup berdenyut.
Dialah ‘19’, salah satu anggota muda Bayangan Merah, organisasi pembunuh paling ditakuti di benua tengah. Seorang assassin dingin yang sejak kecil hidup dengan pedang di tangan dan darah di wajah. Namun malam ini, ia bukan lagi pemburu-ia adalah buruan.
"Keparat... segel ini terus bereaksi," gumamnya lirih, wajah terdistorsi oleh rasa sakit.
Di bahu kirinya, sebuah tanda merah berbentuk mata berkilau samar. Segel itu adalah Blood Shadow Seal, lambang pengikat Bayangan Merah-alat kejam yang memungkinkan setiap gerakan anggota mereka bisa dilacak. Biasanya segel itu jinak, hanya simbol loyalitas. Tetapi sejak kekuatan inheritance bangkit di dalam dirinya, segel itu bergetar, retak, dan bersinar seperti obor di kegelapan malam.
'19' mengerang, tangannya mencengkeram erat kristal ungu yang menempel di dadanya. Kristal itu berdenyut pelan, seperti jantung kedua.
Itulah Inheritance Eternal Lamina, peninggalan seorang penguasa kuno yang pernah mengguncang benua.
Ia mendapatkannya secara kebetulan, dalam sebuah misi pembunuhan yang gagal. Saat masuk ke reruntuhan kuil kuno, roh penjaga warisan memaksakan warisan itu padanya. Dalam prosesnya, energi Eternal Lamina memurnikan tubuhnya sekaligus membakar Blood Shadow Seal yang selama ini mengekangnya. Sejak saat itu, organisasi menganggapnya pengkhianat yang harus dimusnahkan.
Di balik kabut yang semakin tebal, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Tak hanya satu, melainkan puluhan. Bayangan hitam melompat di antara pepohonan, menimbulkan deru angin yang menusuk telinga. Mereka adalah pemburu-sesama anggota Bayangan Merah-saudara seperguruan ‘19’, yang kini datang untuk menghabisinya.
"Target di depan. Jangan beri celah," suara dingin seorang pria tua menggema di antara pepohonan.
‘19' menggertakkan gigi. Ia mengenali suara itu-Pengawal Darah Tua Lin, instruktur yang dulu mengajarinya cara menusuk jantung tanpa suara, cara menjerat mangsa dengan bayangan. Orang yang dulu ia hormati, kini berdiri di barisan depan untuk mencabut nyawanya.
ESTÁS LEYENDO
NUSANTARA SPIRIT REALM SERIES: NISKALA
AcciónNote: Bukan Terjemahan Di hamparan luas Nusantara Spirit Realm, tidak ada nama yang lebih ditakuti selain Bayangan Merah-organisasi pembunuh dari benua tengah yang menjual nyawa dengan harga. Mereka hidup tanpa belas kasih, tanpa ikatan, hanya tundu...
