Minggu-minggu pertama setelah Rony kembali ke luar negeri terasa aneh bagi Sandra. Biasanya, ponselnya ramai dengan notifikasi dari lawan main, manajer, atau teman-teman sesama artis. Kini, ada satu nama baru yang sesekali muncul, memicu rasa penasaran sekaligus geli. Rony Wijoyo. Interaksi mereka masih sebatas pesan formal: "Sudah makan?", "Selamat pagi," atau "Ada jadwal syuting hari ini?". Dingin, tetap dingin.
Sandra memutuskan untuk mengambil inisiatif. Ia mulai menelepon Rony di sela-sela syuting, kadang saat istirahat makan siang, kadang pula di malam hari setelah lelah bekerja. Awalnya, Rony menjawab teleponnya dengan nada kaku, seolah sedang berbicara dengan klien penting. Tapi Sandra tidak menyerah. Ia tahu cara membuat suasana cair.
"Halo, calon suamiku," sapa Sandra suatu sore, suaranya dibuat semanja mungkin. Terdengar helaan napas dari seberang.
"Ada apa, Sandra?" Rony bertanya, nada suaranya sedikit jengkel.
"Ih, kok ada apa? Aku kan kangen. Masak tunangan sendiri nggak boleh telepon?" Sandra terkekeh. "Kamu lagi apa? Sibuk banget, ya?"
"Aku sedang memeriksa denah proyek," jawab Rony singkat. "Ini penting."
"Lebih penting dari aku?" Sandra memajukan bibir, meskipun Rony tidak bisa melihatnya. "Awas ya kalau gitu. Nanti aku godain cowok-cowok di sini!"
Terdengar jeda. Lalu Rony berdeham. "Jangan aneh-aneh, Sandra."
"Nah, gitu dong. Berarti kamu peduli kan?" Sandra tertawa. Ia suka melihat Rony yang sedikit terusik. Perlahan tapi pasti, ia bisa merasakan ada retakan kecil di dinding es yang mengelilingi
pria itu.
Di media sosial, Sandra semakin gencar bermain teka-teki. Sebuah foto dirinya sedang tersenyum menatap layar ponsel, dengan caption, "Obrolan malam yang bikin hati hangat." Atau video singkat dia sedang memasak, dengan keterangan, "Belajar masak buat masa depan. Kira-kira siapa yang beruntung ya?" Reaksi penggemar sungguh di luar dugaan. Mereka membuat teori konspirasi, mencari tahu siapa pria misterius di hidup Sandra. Hashtag
#SandraMysteryMan bahkan sempat trending.
Rony sesekali melihat unggahan Sandra di media sosial, atau mungkin ada karyawannya yang memberitahu. Ia tidak punya media sosial, atau setidaknya, Sandra belum pernah melihatnya aktif. Namun, ia tahu Rony mengawasi. Salah satu buktinya adalah saat Sandra mengunggah foto dirinya dengan crop top yang sedikit terbuka.
Rony mengirimkan pesan singkat,
"Pakaianmu terlalu minim."
Sandra tersenyum geli membaca pesan itu. "Cie, cemburu ya?" balasnya.
Tidak ada balasan. Sandra tahu itu berarti ia berhasil memancing reaksi. Ia semakin yakin, dibalik sikap dinginnya, Rony memiliki sisi lain yang belum terungkap. Sisi yang mungkin saja
bisa ia taklukkan dengan pesona dan tingkah lakunya yang manja.
LDR ini, alih-alih menjadi penghalang, justru menjadi ajang bagi Sandra untuk melancarkan serangan-serangan kecil,
meruntuhkan sedikit demi sedikit pertahanan Rony. Permainan ini baru saja dimulai.
YOU ARE READING
Business Engagement
General FictionRony Wijoyo. Sang arsitek jenius dengan reputasi dingin, teratur, dan kaku. Baginya, hidup adalah deretan rumus, desain presisi, dan logika tak terbantahkan. Emosi? Itu hanya variabel pengganggu. Hingga perjodohan bisnis yang absurd mempertemukannya...
