#1

51.5K 1.5K 29
                                        


Halo, rekan-rekan reader .... 🫠✨ 

Sebelum lanjut baca cerita ini, aku mau kasih sedikit "peringatan halus" dulu ya .... Jadi, tema cerita ini bakal fokus ke perjalanan seorang protagonis yang ... ya ... bisa dibilang sangat cacat secara moral di masa lalunya. 😭 

Di awal-awal bab, nanti bakal ada tema tentang pengabaian keluarga dan ketidaksetiaan, yang jadi pemicu utama perkembangan karakternya. Aku ngerti banget kok ... nggak semua orang nyaman sama tema kayak gini. Apalagi kalau nyangkut soal peran ayah, suami, dan hubungan keluarga. Kadang bisa sangat sensitif atau agak "berat" buat dibaca. 🫠

Jadi, kalau semisal kalian ngerasa, "kayaknya tema ini gak sesuai sama aku  ...." itu gapapa banget kok. Serius. Lebih baik kalian cari bacaan yang bikin kalian nyaman daripada maksa lanjut tapi malah bikin hati nggak nyaman dan tenang, 'kan? 😔✨

Dan ... terima kasih banyak buat pengertiannya ... dan buat yang tetap lanjut, makasih juga sudah mau bertahan di cerita ini. 🫶🌱

Salam hangat dari rekan writer ini,
Hannyy.


Gemuruh tawa meledak dari sayap timur kediaman Levoire, menggema hingga ke lorong-lorong marmer dingin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gemuruh tawa meledak dari sayap timur kediaman Levoire, menggema hingga ke lorong-lorong marmer dingin. Caelum Levoire mengangkat piala anggur merah, mata abu-abu kelamnya berkilat di bawah cahaya lilin emas. Para bangsawan di sekeliling pria tiga puluh tujuh tahun berparas tampan itu tertawa lepas, wajah mereka memerah karena minuman dan kegembiraan palsu.

"Untuk kemenangan politik terbesar tahun ini!" Caelum berseru suaranya berat penuh kepuasan.

Piala-piala lain terangkat menanggapi, menciptakan dentingan kristal merdu. Di sampingnya, Mirelle Vaudra tersenyum menawan, jemari lentik si Wanita mengelus lengan sang Duke seolah memilikinya.

Wanita berambut pirang platinum itu memiringkan kepala, mata biru esnya menatap Caelum intens. "Kau memang jenius, Sayang. Siapa lagi selain Duke Levoire yang bisa mengalahkan usulan Pangeran Theren di sidang kemarin?"

Caelum meneguk cairan anggur dalam-dalam, merasakan kehangatan alkohol mengalir ke dadanya. Kemenangan memang terasa manis, terutama ketika berhasil mengalahkan sang Putra Mahkota dalam arena politik. Namun entah mengapa, di sudut hati Caelum, ada rasa hampa merayap perlahan.

"Dimana Lady Eléana malam ini?" tanya Duke Friedrich, bangsawan paruh baya dengan jenggot keperakan. "Bukankah beliau biasanya menemani Anda di acara sepenting ini, Duke Levoire?"

Caelum mengangkat bahu acuh. "Istriku sedang ... sibuk, sibuk sendiri. Kita tidak perlu menunggunya. Lagi pula, dia harus mengurus anak-anak ku."

Mirelle tertawa renyah, suaranya seperti lonceng perak. "O ... Lady Eléana memang terlalu ... alim untuk acara seperti ini. Dia lebih cocok duduk di kapel, lalu berdoa untuk anak-anak yatim."

Gelak tawa kembali pecah. Caelum ikut tersenyum, namun ada sesuatu mengganjal di dadanya. Eléana ... kapan terakhir kali mereka berbicara? Kapan terakhir kali dia melihat senyum lembut istrinya?

Twilight Oath : Forsaken OathCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang