Prolog

2.3K 113 77
                                        

Pagi di Jakarta Selatan biasanya dimulai dengan suara klakson kendaraan yang saling bersahutan, namun di Kost Buk Rini, pagi selalu dibuka dengan lengkingan suara Jessie yang oktafnya mengalahkan penyanyi seriosa mana pun.

​"Heh, koplok! Ini handuk kalau habis mandi itu dijemur di luar, jangan ditaruh di pintu WC, ogep! Basah semua ini lantai!" teriak Jessie sembari mengangkat selembar handuk lembap dengan ujung jarinya, seolah benda itu adalah limbah beracun.

​Yuyun, sang pemilik handuk, yang sedang asyik selonjoran di sofa ruang tamu sembari menonton gosip pagi, hanya menoleh sekilas tanpa dosa. Di sampingnya, Gendis sedang sibuk dengan laptopnya, dunianya sudah berpindah ke dimensi anime.

​"Ya elah, Jess. Gitu doang sewotnya kayak emak-emak kontrakan sebelah. Jemurin dong, mumpung lu lagi berdiri, cantik deh..." balas Yuyun dengan nada Jaksel-nya yang khas, tanpa melepaskan pandangan dari layar TV.

​"Ah! Elu mah kebiasaan! Tangan gue jadi bau apek nih!" Jessie menghentakkan kakinya kesal, namun tetap melangkah menuju jemuran depan dengan mulut yang tak berhenti mengomel dalam bahasa Sunda yang tidak dimengerti siapa pun kecuali dirinya sendiri.

​Gendis, yang merasa ketenangannya terusik saat sedang melihat aksi Eren Yeager, akhirnya bersuara. "Aduh, kalian ini ya, jangan teriak-teriak mulu. Nanti kalau kedengeran Buk Rini, bisa dikasih kuliah subuh kita sejam."
​
​Inilah mereka, penghuni tetap Kost Buk Rini yang dikenal sebagai "Tiga Serintil":

​Jessie Arsita (21 tahun): Si cewek Bandung dengan potongan rambut bob yang bar-bar. Tingginya hanya 158 cm, tapi suaranya bisa meruntuhkan plafon. Dia jago melukis, tapi lebih jago lagi kalau sudah main Mobile Legends sambil maki-maki lawan (dan kawan).

​Yunita Anggraini alias Yuyun (22 tahun): Cewek Jaksel yang bekerja di salon. Badannya yang 160 cm tergolong proporsional, atau menurut Jessie: "semok aduhai tapi otak agak geser". Yuyun adalah paket lengkap: jago menyanyi, gitar, makeup, hingga masak. Rambutnya cokelat alami, kulitnya putih, dan centilnya bukan main.

​Gendis Fitriana (19 tahun): Si bungsu asal Semarang yang kuliah jurusan Akuntansi. Paling tinggi di antara mereka (162 cm) tapi paling pendiam—kecuali kalau sudah bahas anime. Dia adalah Wibu garis keras yang merasa sudah sah menikah dengan Eren Yeager.

​Tak lupa sang penguasa wilayah, Buk Atmarini (52 tahun). Seorang janda baik hati yang ditinggal suaminya meninggal dunia. Anaknya bekerja jauh di Surabaya, jadi ia menganggap ketiga anak kostnya ini seperti anaknya sendiri—sekaligus cobaan hidup bagi kesabarannya.
​
​"Anak-anak..." panggil Buk Rini yang tiba-tiba turun dari lantai dua.

​Ketiganya langsung diam. Jessie yang baru masuk dari jemur handuk langsung duduk manis di samping Yuyun, sementara Gendis menutup laptopnya sedikit.

​"Nanti bakal ada yang ngekost di sini, satu kamar kosong di bawah sudah ada yang mau isi," ucap Buk Rini.

​"Cewek apa cowok, Buk? Kalau cowok ganteng boleh deh," celetuk Yuyun sembari membetulkan rambutnya.

​Tok... Tok... Tok...

​"Nah, itu mungkin orangnya sudah datang," ujar Buk Rini sembari beranjak membuka pintu.

​Tiga serintil itu langsung gercep. Mereka mengintip di balik tembok ruang tamu, saling tumpuk kepala untuk melihat siapa penghuni baru itu. Begitu pintu terbuka, nampaklah seorang gadis jangkung dengan rambut panjang tergerai, memakai celana jeans pendek dan menenteng koper serta beberapa kardus.

​"Masuk, Nak. Masuk..." ajak Buk Rini ramah.

​Yuyun melongo. "Itu badan apa tiang listrik? Tinggi amat."

Kost Rempong (End) Stories to obsess over. Discover now