Hilangnya Gadis-gadis

319 29 8
                                        

"Ada gadis yang hilang lagi!"

"Sudah berapa kali dalam seminggu ini? Ini gila!"

Riuh terdengar samar dari balik musik yang tengah kudengar. Mengernyitkan keningku, kulepaskan earphone dari telinga, menoleh ke keramaian. Sorakan panik terdengar dari arah stasiun. Wajah-wajah orang di sekitar menegang, menoleh ke segala arah.

Aku ikut menoleh. Sekilas, hanya terlihat kerumunan. Tapi sorot mata mereka tak bisa bohong. Ketakutan. Sama seperti tadi malam. Sama seperti tiga malam sebelumnya.

"Apa yang terjadi pada kota ini?" Helaan napas panjang lolos dari bibirku. "Sepertinya aku akan lembur lagi malam ini."

Melangkah melewati keramaian, kurapatkan mantelku kala kurasa angin musim gugur berembus. Saat itulah, ponsel di saku berdering tiba-tiba. Kurogoh ke dalamnya, melihat nama familiar di sana.

"Aku mulai bekerja besok."

Tanpa basa-basi, Naomi mendeklarasikan keputusannya. Ia bahkan tak membiarkanku menyapanya.

"Jangan bercanda. Untuk apa kau bekerja?" tanyaku sedikit marah. Naomi masih terlihat seperti anak kecil di mataku meski kami hanya terpaut beberapa tahun. Mana mungkin kuizinkan adikku satu-satunya itu untuk bekerja? "Apa kau tak tahu bahwa gadis kecil sepertimu sedang dalam bahaya?"

Dengusan terdengar dari seberang sana. "Aku sudah 20 tahun! Sampai kapan kau menganggapku anak kecil?" gerutunya terdengar sangat kesal. "Aku akan tetap bekerja. Titik. Dan Nii-chan tidak berhak melarangku!"

Lalu panggilan diakhiri sepihak. Helaan napas panjang lolos dari bilah bibirku. Percuma melarang gadis itu, aku pun sudah tahu. Keras kepala sudah mendarah daging di keluarga kami, mengalir di darah-darah kami.

"Aku akan periksa tempat kerjanya nanti," gumamku seraya kembali melangkahkan kaki kembali ke kantor polisi Kota Takasaki.

-----

Kantor polisi Kota Takasaki sangat sibuk sore itu. Bak sekumpulan karnivora yang tengah menunggu mangsanya, para wartawan masih berkumpul di depan pintu dengan wajah mengiba, memohon untuk secercah informasi mutakhir akan penyelidikan kasus menghilangnya para gadis.

Dengan sebatang cerutu terselip di dua bilah bibirku, kulangkahkan kaki menerobos kerumunan untuk kesekian kali. Tak kupedulikan tarikan pada lengan baju kanan dan kiri, tetap berjalan lurus hingga melewati pintu kaca kantor polisi.

"Kau selamat melewati mereka rupanya, Satoo-san." Tepukan di bahu membuatku menoleh, mendapati seniornya kini berdiri di sisi. "Kasus itu akan ditangani tim-mu, kan?"

Kendikan bahu kulakukan untuk menjawab tanya yang terlontar. "Sepertinya akan begitu," ujarku. "Atau kau mau mengambil kasusnya, Kenjiro-san?"

Kenjiro tergelak mendengar kalimat yang kuungkapkan. "Tidak, tidak. Aku tahu kau menikmati menyelesaikan kasus seperti ini." Lagi, ia tepuk bahuku, kali ini berulang kali dan lebih keras dari sebelumnya. "Ganbatte, Satoo-san*."

Kepergian Kenjiro terasa seperti angin segar untukku. Jengah sebetulnya dengan sikap sok baik seniorku yang satu itu. Aku tak sebodoh itu untuk tak menyadari bahwa yang dikatakan oleh Kenjiro semata-mata hanya untuk mencibirku yang menjadi saingannya selama setahun ini.

"Malam. Apa ada temuan baru seputar kasus para gadis?" tanyaku selepas kulangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.

Beberapa detektif muda sontak berdiri menyadari kehadiranku. Mereka tergesa mengambil beberapa berkas lalu bergegas menghampiriku yang sudah duduk di tempatku.

"Para korban memiliki kesamaan. Mereka berusia 20-an dan bekerja sebagai pelayan," Iwamura menyerahkan beberapa lembar kertas bertuliskan profil para gadis yang menghilang. "Semuanya disalurkan oleh agensi ini. Sepertinya kita harus menyelidikinya."

Angguk diberikan sebagai balasan dari penjelasan para anak buah. Kutepuk bahu keduanya pelan. "Kalau begitu, mari selidiki mereka."

Jariku mengetuk meja, tepat di atas profil dari agensi bernama Sakura.

-----

Catatan:

- Ganbatte: Semoga berhasil

Mansion Fourty-Four [END]Where stories live. Discover now