Accismus adalah istilah spesifik mengacu pada keadaan psikologis di mana seseorang berpura-pura tidak menyukai atau menolak sesuatu, padahal ia sebenarnya sangat menyukai atau menginginkannya.
---
Eren dan Berlin yang mengalami perasaan tersebut se...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"EREN KADIEU HELA!" [Eren kesini dulu!]
Melihat tiga orang lelaki yang melewati dirinya, Asep langsung memanggil salah satu lelaki diantara mereka.
Berlin sedang bersama Asep di depan luar kelasnya sekarang, tangannya terlipat di dada dan tubuhnya bersandar pada pintu kelas, gaya nya seperti ingin memalak adik kelas saja.
Berlin sekarang sudah kelas 12, agit katanya. Menjadi kelas 11 saja dirinya sudah petantang petenteng dan songong begitu, apalagi jika sudah menjadi agit begini?
Asep merangkul lelaki yang dipanggilnya tadi, menunjukkannya kepada Berlin.
Wajah lelaki yang sedang dirangkul oleh Asep sangatlah tidak asing, tetapi Berlin tidak ingat pernah melihatnya dimana.
"Saha ieu?" [Siapa ini?] Tanya Berlin dengan bahasa sunda nya yang sering diajarkan oleh Asep. Matanya melirik ke arah lengan seragam lelaki tersebut, ternyata kelas 10.
Kembali menatap ke arah lelaki yang Asep panggil dengan nama Eren itu, Berlin tidak menyangka masih kelas 10 tetapi sudah setinggi ini. Wow, Berlin menyukai lelaki tinggi tetapi tidak menyukai berondong.
"Ini teh si Eren Lin, masa kamu lupa? Waktu kamu ke rumah saya kan ketemu si Eren, yang sempaknya diangkat sama kamu."
Berlin meringis malu, ia mengingatnya sekarang. Saat kelas 11 dulu, ia pernah ikut ke rumah Asep yang berada di Bandung karena ada kepentingan tugas.
Saat dirumah Asep, hujan tiba-tiba saja turun dengan deras, semua orang yang berada dirumah Asep panik karena belum mengangkat jemuran. Dan karena Berlin ingin membantu, ia membantu mengangkat jemuran yang berada di rumah Asep.
Terlalu panik karena hujan semakin deras, Berlin tanpa sadar mengambil celana dalam yang entah milik siapa, ia tidak tahu.
Lalu setelah ia membawa pakaian yang dijemur tersebut ke dalam rumah, datang bocah SMP yang bertanya mengenai jemuran nya.
Bocah SMP tersebut melirik ke arah Berlin, tepatnya ke arah tangan Berlin yang memegang sempak spiderman.
Bocah SMP tersebut berteriak heboh karena celana dalamnya berada di tangan seorang perempuan.
"SEMPAK SPIDERMAN AKU!!"
Berusaha mengusir rasa malu nya, Berlin berdehem. Dengan ekspresi songongnya, Berlin mengulurkan tangannya ke arah Eren.
"Hai adek, kenalin gue Berlin. Panggil Kakak Berlin ya." Berlin mengedipkan matanya genit.
Berlin pikir, bocah tersebut akan tersenyum malu-malu, tetapi ternyata Eren menampilkan ekspresi geli.
Eren menyambut uluran tangan Berlin dengan tak kalah songongnya. "Salam kenal Berlin. Kenalin Eren si paling ganteng se Bandung." Eren juga membalas kedipan genit Berlin.