Bonjour à tous ! Bumang kembali dengan cerita baru. Semoga kalian semua suka, ya❤️
🌹Happy Reading🌹
"Ngapain kamu?" tanya pria dengan stelan semi formal.
"Aku aja yang bawa mobilnya, sekalian aku pinjem buat jalan-jalan. Cepetan masuk!" balas gadis yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Gak ada! Kamu itu kalau nyetir suka ugal-ugalan. Keluar sekarang!" Si pria menarik tangan adiknya.
"Abang Ferriganku tercinta, tolong kerja sama sekali ini aja. Aku janji bakalan hati-hati." Si gadis mengeluarkan jurus rayuan andalannya. "Yaudah kalau Abang gak mau, aku bawa mobil ini sendiri."
"Enak aja, ini mobilku kenapa jadi kamu yang ngatur?" Rigan akhirnya mengalah dan masuk ke dalam mobil.
"Dari tadi kan cepet," gumam gadis yang akrab disapa Sera.
"Hati-hati nyetirnya! Ini mobil kesayanganku." Rigan memperingati sambil memasang sabuk pengamannya.
Awalnya Sera membawa mobil dengan kecepatan normal, tapi semakin lama ia semakin menambah kecepatannya. Rigan yang was-was dengan cara mengemudi adiknya hanya bisa berteriak memperingati dan menguatkan pegangannya. Sementara Sera tak peduli dengan kondisi mengenaskan pria di sampingnya.
"Mampus, nabrak!" umpat Sera setelah dirinya ngerem mendadak.
"Minggir, Dek!" perintah Rigan yang langsung dituruti oleh Sera. "Abang bilang juga Abang aja yang nyetir!" Rigan keluar untuk melihat kondisi mobil yang Srra tabrak.
"Kalian bisa berkendara atau tidak?" tanya seorang pria yang turut menepi setelah mobilnya ditabrak oleh Sera.
"Maaf, Om, adik saya tadi mungkin gak fokus karena saya bawel. Maaf sekali, Om. Untuk kerugian Om biar saya yang tanggung," jelas Rigan dengan raut tak enak hati.
"Suruh adikmu keluar! Dia yang sudah menabrak dan harus belajar bertanggung jawab."
"Mma-maaf, Om." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sera karena ia ketakutan dan terpesona di waktu yang bersamaan.
"Kamu punya SIM?" Pria itu langsung bertanya pada Sera dengan nada tak bersahabat tapi jauh lebih pelan dibanding kepada Rigan tadi.
"Punya, Om."
"Lalu kenapa kamu mengemudikan mobil ugal-ugalan seperti itu? Untung tidak ada korban jiwa. Kamu merasa punya kepentingan? Semua orang juga sama dengan kamu. Jangan kamu pikir di dunia ini hanya kamu yang sibuk!" Pria itu terus menasehati Sera yang hanya bisa menunduk.
"Maaf, Om. Saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Sera penuh penyesalan.
"Jangan sampai saya bertemu kamu dengan kasus yang sama lagi!" Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Sera dan Rigan.
"Habis kamu anter Abang, kamu urus mobil ini. Abang gak mau tau mobilnya harus mulus seperti semula!" Rigan mengambil alih kemudi.
Setelah mengantar kakak tercintanya ke kantor, Sera menemui kedua temannya yang sudah menunggu di cafe. Gadis itu duduk tanpa ada beban sama sekali. Padahal di luar, mobil yang ia gunakan meminta diurus.
"Janjian jam berapa, Neng?" tanya seorang gadis berambut coklat.
"Livia dan Anya sahabat terkasih, tercinta, tersegalanya, gue itu harusnya gak telat. Bang Rigan aja berisik banget di mobil jadinya nabrak."
"WHAT?" kedua sahabat Sera kompak terkejut mendengar ucapan Sera.
"Nabrak apaan lo? Korbannya gak apa-apa kan?" Anya bertanya dengan gaya hebohnya.
"Gue udah keburu ngerem tapi ya mobilnya senggolan lah. Gue juga gak liat jelas mobil dia gimana soalnya gue lebih fokus sama orangnya. Sumpah ya dia tuh ganteng dan berkharisma banget, Nya. Gue rasa dia jodoh gue, deh." Sera membayangkan wajah pria yang tadi ia temui.
"Yeu malah salah fokus lo, onta!" Livia mendorong pelan bahu Sera dan dibalas dengan decakan oleh gadis itu.
"Kalau dia jodoh lo, Damian mau lo kemanain?" tanya Anya.
"Hai, Babe! Kamu di sini juga ternyata. Kebetulan ada yang mau aku omongin." Sosok yang baru saja Anya sebut tiba-tiba muncul di hadapan mereka. "Liv, Nya, gue pinjem Sera sebentar, ya."
"Hai, Sayang!" balas Sera dengan heboh. "Ayo, kita ngobrol di meja itu aja!"
"Sera udah gila sih gue rasa." Anya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya.
"Emang aneh itu anak. Baru aja dia bahas cowok korban tabrakan itu jodohnya, eh langsung nyamperin Damian. Punya kepribadian ganda sih kalau kata gue," tambah Livia sembari mengaduk minumannya
Sementara di tempat lain, seorang pria bernama Dewandra baru saja sampai di perusahaannya. Raut wajah kesal masih terpampang nyata membuat seluruh karyawan segan menyapa sang atasan. Lain halnya dengan pria yang bekerja di depan ruangan Dewa. Pria itu tersenyum lebar menyambut atasan sekaligus sepupunya.
"Pagi-pagi gak boleh cemberut, Wa! Nanti jodohnya dipatok ayam kalo kata Ibun." Pria itu semakin membuat mood Dewa buruk.
"Gak usah banyak ceramah, mending kamu urus mobil saya."
"Emang mobilmu kenapa?"
"Ditabrak bocah ugal-ugalan." Dewa langsung masuk ke dalam ruangannya di ikuti oleh pria bernama Tama yang bekerja sebagai asistennya.
"Udah sebulan lebih masa masih lupa cara ngehubungin bengkel, Wa." Tama mencibir pria di depannya membuat Dewa memberikan tatapan tajamnya.
"Saya tidak menerima protes, Gautama. Bacakan jadwal saya setelah itu urus mobilnya!" Dewa menyimpan kunci mobilnya dengan cukup kencang hingga membuat Tama terkejut.
"Santai dong, Bos. Ini juga mau dibacain kok jadwalnya." Tama menggulir layar ipad yang ia bawa. "Oh, pesan penting dari Ibu--"
"Tidak, saya tidak mau kencan buta hari ini. Lebih baik kamu aturkan pekerjaan lain di luar kota."
"Oke, harusnya sih saya ke Surabaya besok. Kalau Bapak Dewandra yang mau ambil alih boleh-boleh aja. Kebetulan saya mau quality time sama anak istri." Tama menekankan kata anak dan istri untuk menyinggung bosnya.
"Aturkan hotel untuk saya di Surabaya. Nanti sore saya berangkat biar Ibun gak bawel," ucap Dewa yang langsung dicatat oleh Tama. "Apalagi selain itu?"
"Nanti siang kita meeting internal buat proyek Villa di Lombok," jawab Tama.
"Oke, kamu boleh keluar. Oh, tolong mintain kopi pahit satu!"
"Pantesan hidupmu pahit, minumnya kopi pahit terus, sih." Lagi-lagi Tama mendapat tatapan tajam dari bosnya.
Begitu sampai di ruang kerjanya, Tama langsung disambut dengan deringan ponsel. "Kenapa, Cil?"
"Om, tolong angkutin mobil Bang Rigan, dong. Sekalian bilang ke Papa kalo Om yang pake mobilnya, ya."
"Lah, kok jadi Om?"
"Kalau Papa tau aku yang penyokin nanti aku dikurung. Besok aku mau staycation sama Anya sama Livia. Kita udah booking hotelnya masa batal cuma gara-gara mobil penyok."
"Ya kamu ngapain bawa mobil Rigan sampe penyok?"
"Bang Rigan 'tu bawel jadinya aku gak fokus. Aku udah bilang Bang Rigan kalo nanti Om yang kabarin ke Papa dan benerin mobilnya. Om mau kan bantu aku? Plis, Om. Pulang dari staycation aku teraktir, deh."
"Yaudah, nanti Om ambil dimana mobilnya?"
"Di rumah Anya, Om. Nanti Om kabarin mau ambil jam berapa, ya. Ini aku masih di luar soalnya."
"Om bisa ke sana pas jam makan siang. Kamu jangan kemana-mana jam segitu!"
"Oke, Om. Makasih banyak Om Tama ganteng. I love u so much."
"Giliran ada maunya aja muji-muji." Tama menyimpan ponselnya dengan kasar.
🌊TBC🌊
Cek ombak dulu apakah ada yang minat genre ini? Kasih komen yang banyak buat sikap Sera dan Dewa, ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Marélique (Ombak yang tak pernah sama)
RomansaPertemuan tanpa sengaja antara Dewandra dan Seraphina membawa keduanya dalam bencana. Rencana Dewa untuk menulis lembaran baru harus terjeda. Garis takdir membawanya pada masa lalu yang berkaitan dengan masa depannya. Lalu bagaimana lembaran baru De...
