001 : TOLONG, SADAR!

9.2K 218 6
                                        

Dear, my dearest.

Enjoy!

****

Taneesha, sepenggal kata, berjuta makna. Namanya memang hanya tiga suku kata- Tanisya, nama yang luar biasa indah.

Mulai menghidupi diri disaat usia nya yang baru menginjak 12 tahun, tidak membuat nya patah semangat akan kehidupan. Sulit, namun ia bersedia untuk terus bertahan.

Baginya, kehidupan bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang bagaimana cara untuk menghadapi keji nya dunia.

Ia bukan manusia super yang tidak akan sedih bila kehilangan sesuatu yang disayang. Siapa yang tidak sedih ketika di tinggal orangtua untuk selama lama nya? Menjadi ranting yang kehilangan identitas pemilik nya, tidak tahu dari pohon yang mana.

Hidup sebatang kara ternyata bukanlah suatu opsi yang dapat orang orang pilih, seenaknya.

Nyatanya walau tidak memilih pun, Taneesha tetap merasakannya.

Ya begitulah hidup, tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginan, akan seperti itu, selalu.

"Cia kok melamun, nduk?"

Taneesha- gadis yang lebih sering di sapa Cia itu tersentak. Tangan nya yang semula mengaduk makanan bersantan, khas Indonesia, bergetar terkejut.

"Ah engga papa, Bi." Balas Cia, tersenyum sopan kepada Bi Inem, kepala asisten rumah tangga keluarga majikannya ini.

"Jangan ngelamun atuh, nanti kolak nya gosong." Tegur Bi Inem. Wanita yang sudah berumur itu menurut Cia sangat pengertian, ia bagai seorang ibu untuk Cia.

Cia tertawa kecil, tak enak hati. "Hehe, iya, Bi. Ini engga ngelamun lagi, kok."

"Yaudah, Bibi ngangkat jemuran dulu, ya." Pamit nya, yang langsung meninggalkan dapur dan Taneesha.

Cia mengambil sendok makan, kemudian ia celupkan ke panci, mengambil sedikit kuah manis gurih yang hendak ia cicipi sebelum dihidang.

Belum sampai sendok itu mendarat di mulut nya, tangan seseorang tiba tiba saja mencekal pergelangan tangan Cia, dan mengarahkan sendok itu beralih ke mulut nya.

Cia terperangah. "Kak Arvie?!"

"Apa?" Tanya laki laki itu usai mencecap rasa masakan Cia.

"Maaf kak, Cia cuma kaget..." Ia sadar, tadi sempat meninggikan nada bicara. Jujur, Ia selalu tidak bisa menebak tindakan tindakan Arvie yang selalu berhasil mengejutkan nya, membuat jantung nya berdebar tak karuan.

"Enak, gue mau, ambilin." Bukannya menunggu Cia mengambilkan untuknya, laki laki itu malah beranjak dari tempat ia berdiri, dan berjalan menjauh menuju ruang keluarga.

Cia menurut, ia mengambil mangkuk, dan mulai mengambil seporsi kecil kolak pisang, sebab ia tahu jika Arvie baru saja makan diluar bersama teman teman nya.

Setelah itu, Cia tak lupa mengambil segelas mineral untuk ia sajikan kepada tuan muda nya.

Cia menghampiri Arvie, menyajikan semangkuk kolak dan air mineral itu tepat di meja— di hadapan Arvie.

"Ini, Kak. Cia pamit mau bantu Bibi ke belakang." Menurut Cia, tidak sehat untuk hatinya, jika terus terusan berdiam diri disamping Arvie, bahaya.

Itu bisa menghancurkan dinding pertahanan nya sendiri, bak bom bunuh diri.

Tetapi belum sempat melangkah, pergelangan tangannya kembali dicekal, Cia menatap tangan nya yang dengan mudah ditangkap telapak tangan besar, milik Arvie.

"Duduk, suapin gue dulu." Titah Arvie.

Cia menenggak air liur nya, susah. Kelakuan Arvie selalu saja seperti ini, memang ia sudah biasa, namun tetap saja hal hal seperti ini mengikis dinding pertahanan nya, yang lama kelamaan bisa rapuh.

Arvie seolah kejutan yang selalu mengejuti nya dengan berbagai jenis kelakuan, tidak dapat ditebak.

Bibir nya kelu untuk menolak, lantas Cia beralih duduk di sebelah Arvie, menurut untuk menyuapi tuan muda nya itu.

Belum semenit sendok itu mendarat di mulut Arvie, laki laki itu dengan panik mengipas ngipasi mulut nya, HEI KOLAK ITU BARU SAJA MATANG!

"Panas, Ciaaaa!" Protes Arvie setelah berhasil menelan kolak pisang itu dan menenggak mineral, menetralisir.

"M— maaf, Kak... Cia gak tau." Cicit gadis itu takut.

Sepertinya bukan tidak tahu, ia terlalu fokus ke Arvie yang menurut nya sangat tampan, ya itulah alasan yang sebenarnya.

Sedangkan Arvie hanya menatap gadis itu sebal, lidah nya terbakar gara gara Taneesha!

"Mm... Gimana kalo makan nya nanti aja, Kak? Tunggu dingin." Ucap Cia yang tidak lagi mendapat ocehan dari Arvie.

Kedua nya sudah kenal dari kecil, namun Cia tetap saja masih canggung kepada Arvie, ia terus terusan memberi batas diantara kedua nya.

"Gak, gue mau sekarang!" Ucap Arvie kesal, ia menatap Cia yang sudah berdiri disamping nya.

"T—tapi..."

"Bisa ditiup, kan?"

****
Arvie Ezequiel, nama yang sering kali salah dilafalkan oleh orang orang yang melihat namanya. Padahal semudah Arvi Ezkiel saja, kenapa repot menyebutnya Ezekuiel?

Malam hari nya, Arvie merebahkan tubuh nya di kasur yang ada dikamar nya. Senyum nya terpatri dengan indah, menatap langit langit kamar, membayangkan wajah polos nan lugu milik Taneesha.

Kalau ditanya, kapan dirinya jatuh hati ke gadis pembantu itu, ia tidak tahu pastinya, namun ia bisa menjamin jika dirinya benar benar sudah jatuh hati ke Cia.

"Gemes, pengen pacarin." Gumam Arvie tersenyum senyum sendiri.

Tok tok tok

Arvie menegakkan tubuh nya, bangun dari tidur nya. "Masuk."

Knop pintu itu turun sejenak sebelum pintu bercat coklat itu terbuka. Didepan sana, menampilkan seorang wanita yang sudah cukup berumur, namun dengan penampilan modis nya.

"Mama mau kemana?" Tanya Arvie, mengernyitkan dahi nya bingung.

Adena— Mama dari Arvie itu tersenyum lebar. "Malming ini loh, Mama mau jalan jalan sama Papa."

Arvie memutar bola mata nya. "Terus ngapain kesini?"

"ART pada pulang, tinggal Cia dirumah—

Senyum Arvie kian mengembang, jadi ia bisa bebas bermesra mesraan nih?

hush! Jangan macem macem kamu!" Sambung Mama Dena ketika melihat putra nya tersenyum penuh arti.

"Aman aja, Ma." Ucap laki laki itu enteng.

"Cia lagi gak enak badan, jangan kamu usilin!"

Senyum nya hilang begitu saja. "HAH? Sakit apa, Ma? Perasaan tadi sore masih bisa nyuapin Arvie."

"Kecapekan ngurusin bayi kaplak!" Seru Mama Dena.

"Hah, emang pernah Cia ngurus bayi? Perasaan dirumah ini gak ada bayi." Balas Arvie menatap Mama Dena penuh tanda tanya.

"Lah emang kamu apa kalo bukan bayi kaplak?"

"MA?!!!!"

****

TANEESHA Opowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz