We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Harry and Sirius

714 38 0
                                        

London — Pagi Hari

Langit kota masih basah oleh sisa hujan semalam. Kabut tipis menyelimuti jendela apartemen lantai lima di kawasan elit West Kensington. Di dalamnya, aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi udara.

"Ayo bangun, profesor."
Suara bariton itu terdengar dari dapur. Nada bercanda, tapi ada sentuhan bangga di baliknya.

Harry mendengus pelan dari sofa tempatnya tertidur semalam. Buku-buku pelajaran dan catatan rencana pelajaran berserakan di meja kopi. Ia mengerjapkan mata, rambutnya kusut parah, dan hoodie abu-abunya sudah melorot ke bahu.

"Aku belum siap jadi guru," gumamnya pelan, tapi bangkit juga sambil mengucek mata.

Di dapur, Sirius Black sudah rapi dengan kemeja hitam dilapisi jas panjang. Rambut gelapnya diikat ke belakang, wajahnya tajam dan tampak lebih muda dari usianya. Di satu tangan, ia membawa dua gelas kopi; satu untuknya, satu untuk keponakan kebanggaannya.

"Tenang aja," katanya sambil menyerahkan kopi pada Harry. "Sekolah itu harusnya takut kamu yang datang, bukan sebaliknya."

Harry terkekeh pelan. "Kau bilang begitu karena kau nggak kenal anak-anak kaya yang penuh attitude."

Sirius mengangkat alis. "Aku tahu terlalu banyak soal mereka. Makanya kupilih pensiun dini dari detektif swasta dan buka firma sendiri. Kurang attitude apa mantan klien-ku yang anak menteri menyuruhku cari pacarnya yang kabur dengan guru piano?"

Harry tertawa lagi, dan kali ini lebih lepas. Percakapan pagi seperti ini jadi rutinitas kecil mereka—hangat dan penuh sindiran.

"Jadi... ini hari pertamamu di Albemarle Academy," kata Sirius kemudian, lebih pelan. Ia duduk di ujung meja makan sambil menatap Harry dengan pandangan penuh pertimbangan. "Kamu yakin nggak mau ambil tawaran jadi guru di sekolah umum aja?"

"Aku mau coba," Harry menyesap kopinya. "Aku nggak bisa selamanya lari dari tempat elit cuma karena mereka pakai jas lebih mahal."

Sirius diam sejenak, lalu mengangguk. "Kalau mereka macam-macam... kasih tahu aku."

Harry tersenyum. "Akan kuingat." Dan begitulah, pagi itu dimulai—dengan kabut tipis, kopi yang masih hangat, dan seorang pemuda bernama Harry Potter yang bersiap menghadapi hari pertamanya sebagai guru baru di sekolah paling prestisius di Britania.

Albemarle Academy, pukul 08.45

Begitu pintu gerbang utama terbuka otomatis, Harry langsung paham kenapa sekolah ini disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan paling prestisius se-Britania. Bahkan mungkin se-Eropa.

Gedung utamanya berdiri megah dalam balutan arsitektur neo-klasik, dengan tiang-tiang marmer putih tinggi menjulang dan dinding kaca patri yang memantulkan cahaya pagi seperti permukaan danau. Di tengah taman depan, air mancur berlapis emas menyembur anggun dari mulut singa batu. Rumputnya dipangkas sempurna, jalan setapaknya bersih tanpa satu daun pun yang berani jatuh sembarangan.

Semua terlihat... terlalu sempurna. Mobil-mobil hitam berlapis kaca gelap berhenti satu-satu di area drop-off. Sopir berbaju formal turun dan membukakan pintu untuk anak-anak berseragam blazer biru tua dengan emblem perak yang dijahit tangan. Tas kulit mahal tergantung di bahu mereka, sepatu mengilap seperti cermin, dan ekspresi mereka? Dingin. Percaya diri. Tak ada yang bicara sembarangan.

Harry menarik napas pelan sambil menyesap sisa rasa kopi di lidahnya. Sial. Ini bukan dunia yang pernah ia tinggali sebelumnya.

Seorang wanita berdiri menunggu di tangga masuk. Rambut pirangnya disanggul rapi, blazer hitamnya fit sempurna seperti dijahit khusus. Ia menyambut Harry dengan senyum tipis.

That beautiful male teacher is mine Stories to obsess over. Discover now