Biasa Aja, Tapi Kok Beda ?

60 7 4
                                        

"Tinggg..."

Suara notifikasi ponsel memecah keheningan. Han yang tengah ngerokok sambil menatap indahnya langit malam yang agak mendung, sontak melirik layar. Sekilas, ia mengira itu hanya pesan biasa, sampai matanya menangkap nama pengirimnya.

|Mei: Hai, masih bangun?|

Mei, Nama yang masih terasa asing, tapi belakangan sering muncul di pikirannya. Mereka baru kenal belum genap sebulan, dipertemukan di tempat PKL yang sama. Satu sekolah, tapi beda jurusan, sebelumnya bahkan tak pernah saling sapa.

Jari-jarinya melayang di atas layar. Balas atau abaikan? Tidak ada alasan untuk merasa gugup, tapi entah kenapa, pesannya lebih dari sekedar "Hai".

Ah, nagapin mikir lama-lama? Toh, cuma nyapa doang.

Jarinya akhirnya bergerak mengetik.

|Han: Masih, kenapa?|

Begitu pesannya terkirim, Han menarik napas dalam. Ini pertama kalinya dalam hidup ada cewek yang chat duluan bukan nanya tugas. Entah kenapa, rasanya sedikit... berbeda.

Tak butuh waktu lama, mei langsung membalas.

|Mei: Besok bisa jemput aku gak? Berangkat bareng ke tempat pkl ?|

Alis Han sedikit terangkat. Jemput? Memang rumah Mei searah, tapi... tidak benar-benar searah. Sedikit melencemg dari rute biasanya, cukup buat nambah beberapa menit perjalanan.

Tangannya kembali melayang di atas layar. Sebenarnya, dia bisa saja menolak dengan alasan rutenya agak jauh. Tapi... entah kenapa, ide menghabiskan perjalanan pagi bareng Mei terdengar menarik.

|Han: Boleh, Tapi rumah kamu dimana?|

beberapa detik berlalu sebelum ponselnya kembali bergetar.

|Mei: Aku kasih share loc aja besok|

Han menatap pesan itu, lalu tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ada cewek yang chat duluan bukan buat nanya tugas dan sekarang, dia bahkan siap mejemput seseorang yang rumahnya saja belum jelas dimana.

|Han: Oke. Jam berapa?|

|Mei: jam setengah tujuh aja, biar gak buru-buru.|

|Han: Siap.|

Han meletakkan ponselnya dan menghela napas kecil. Entah kenapa, meskipun ini cuma urusan jemput, tiba tiba besok pagi terasa sedikit lebih menarik.

Esoknya, Han bangun lebih awal dari biasanya. Alarmnya bahkan belum berbunyi, tapi dia sudah terjaga dengan mata yang langsung segar. Setelah mandi seadanya dan mengenakan seragam praktik, dia mengambil jaket dan kunci motor.

Begitu melangkah keluar kamar, barulah dia sadar sesuatu dia lupa sarapan.

Ah, biarin.

Tapi satu hal yang nggak boleh kelewatan: rokok, Han merogoh sakunya, memastikan bungkus rokoknya masih ada sebelum akhirnya duduk di teras. Motor sudah siap, tapi dia belum bisa berangkat sebelum Mei mengirimkan share location.

Dia menghembuskan napas pelan, lalu membuka satu batang rokok dan menyalakannya. Sambil menghisap pelan, matanya terus menatap layar.

"Jangan bilang dia ketiduran..." gumamnya.

Tepat saat itu, ponselnya bergetar.

|Mei: Nih share loc-nya. Btw, Kamu udah siap?|

Han tersenyum tipis. Tanpa pikir panjang, dia segera membalas.

|Han: Udah. Otw.|

Rokoknya ia buang ke asbak, lalu memasang helm dengan gerakan cepat. Pagi ini, akhirnya dia punya tujuan lain selain sekedar berangkat PKL seperti biasa.

Mengalah sendiri, kalah berduaStories to obsess over. Discover now