Janetta.
Hanya Janetta.
Gadis dua puluh satu tahun yang mempunyai seribu satu impian dalam hidupnya. Salah satu dari ribuan impiannya adalah tersenyum setiap hari. Konyol memang.
Tapi inilah Janetta, ia ingin menebarkan hal positif kepada semua orang-orang yang ada dalam rumah ini.
Rumah ini, rumah yang dimaksud janetta. Adalah rumah yang hangat tempat ia berkerja, suasana indah didalamnya dan tiap- tiap tempat yang pernah ia jamah benar-benar sesuatu. Segala furniture mewah serta klasik yang menghiasi setiap sudut ruangan dan jangan lupakan lukisan mahal yang di pajang di dinding ini sangat memanjakan mata. Sayang sekali, rumah ini tidak sehangat pemiliknya. Ia adalah orang yang ditakuti di rumah ini, Jika Janetta ingin menebarkan aura positifnya pada semua orang, maka pemilik rumah ini adalah pengecualian. Janetta cukup ngeri jika harus tersenyum lebar didepan Tuannya, bisa-bisa ia ditendang bulat-bulat.
Tapi Tuan tidak sesadis itu sih, Sejauh berkerja disini Ia merasa aman-aman saja. Meski orang-orang mengatakan pria itu adalah orang yang kejam bukan berarti Tuannya semena-mena dalam memperlakukan. Terutama bagi pelayan sepertinya. Karena itu Janetta sangat nyaman bekerja disini. Ia menyukai pekerjaannya terumata dalam hal membersihkan. Bersih-bersih adalah hal yang paling menyenangkan untuk Ia kerjakan karena dengan begitu, dirinya bisa mengamati dan mengagumi lebih dekat hiasan dan barang yang ada dirumah ini. Tenang saja, dia tidak akan mencuri kok, paling cuma dipegang dikit, hihi. Satu hal yang harus kalian ingat, Janetta berbeda. Ia selalu ingin tahu.
"Janetta"
Janetta menoleh kearah suara yang memanggilnya, disana Anura yang sedang menata serba serbi persiapan sarapan Tuannya.
"Kau sudah membuat kopi untuk Tuan?" Tanya Anura menatap Janetta aneh.
"Sudah" jawab Janetta tersenyum lebar, berbalik menuju tempat ia meletakkan kopi yang ia buat untuk tuannya. Janetta lalu meletakkan kopi itu sambil tersenyum lebar.
"Aku benar-benar takut mulutmu akan sobek jika terus tersenyum lebar seperti itu Janetta" Anura menatap ngeri, gadis itu benar-benar tiada hari tanpa tersenyum lebar.
Anura bukannya tidak menyukai Janetta. Gadis itu baik dan juga periang, hanya saja tingkahnya yang diluar prediksi selalu membuatnya pusing hampir tiap hari. Janetta dengan senyuman manisnya yang tak pernah luput dari wajahnya. Saking seringnya tersenyum, Anura tak lagi melihat sebagai senyuman manis tapi senyum lebar ala Janetta. Kendati demikian, Janetta adalah anak baik yang menggemaskan dengan segala tingkah absurd yang dimiliki gadis itu.
"Aku Janetta dari desa kecil tapi mimpiku besar, dan senyuman ku ini akan membawa hal-hal baik bagi kita semua" Ucap janetta dengan amat sangat positif, jangan lupa senyuman lebarnya.
Lihat? Huh.
"Tidak hanya mimpimu yang besar tapi suaramu juga" balas Emma menatap tidak suka kearahnya.
Anura memberi kode pada Janetta untuk tidak membalas ucapan Emma. Janetta tahu, Emma memang tidak menyukainya sejak awal. Tapi hoho, hal itu tentu tidak akan mempengaruhi Janetta dan tidak akan menghentikan senyum mautnya ini.
"Kalian semua diam dan ambil posisi masing-masing. Tuan akan segera turun" Perintah Bibi Hasra. Dia adalah pelayan paling tua dan paling lama dirumah ini, bisa dibilang dia adalah ketua pelayan. Semua pelayan memanggilnya Bibi Hasra.
Anura, Emma, Loly, Lista, Darna, Hasra, Neha dan Janetta, Mengambil posisi masing-masing berdiri didekat meja makan untuk menyambut tuan besarnya.
Suara derap langkah kaki terdengar dari tangga. Langkah lebar yang teratur menciptakan suasana tegang. Bunyi sepatu beradu dengan lantai marmer yang dingin mengisi keheningan dibelantaran rumah luas itu. Rumah ini memang hanya dihuni oleh beberapa pelayan dan juga tukang yang bekerja disini. Saat Tuannya mendekati meja makan, mereka semua kompak membungkukkan badan menyambut dengan hormat Tuan mereka.
YOU ARE READING
Janetta
RomanceMature Content!! "Janetta" "Iya Tuan?" "Aku menyukai videomu." Setelah mengucapkan kalimat tersebut. Zath lalu melangkah pergi meninggalkan Janetta yang terdiam ditempatnya. Zath sempat menatap sekilas gadis itu sebelum pergi. Janetta hanya menatap...
