Prolog

12 3 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim.

Halo, Sampurasun sadayana!!
Kenalin, aku Sinan penulis baru disini. Dann ini cerita pertamaku.
Sebenarnya ini cerita pernah aku publish di awal tahun, cumaa yaa aku ragu dan malu mau kenalin cerita ini ke semua orang, jadi ya aku tarik lagi.
Dan yaa setelah bergelut dengan pikiranku sendiri, akhirnya sekarang aku beranikan buat publish lagi ceritanya. Karena.... Yaa mau aja, hehe.
Maaf klo ada penulisan kata yang salah atau kurang. Aku minta tolong bantu tandai jika terdapat kesalahan dalam penulisan. Oh ya minta juga pendapat kalian tentang cerita ini.

Gatau mau nulis apa lagi, intinya semoga kalian suka dengan karya pertama saya.

Happy reading

(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠✧⁠*⁠。

Langit sore hari ini tidak sekadar mendung, ia tampak lebam, seolah menanggung beban rahasia yang terlalu besar untuk disimpan sendirian. Saat rintik pertama menyentuh aspal, dunia mendadak berubah menjadi panggung kelabu yang buram. Saat itulah dunia mendadak kehilangan suaranya, dan digantikan oleh simfoni riuh hujan yang menghantam payung-payung orang yang berlalu-lalang. Suara klakson dan deru mesin perlahan tenggelam, digantikan oleh suara jutaan jemari air yang menghantam bumi dengan ritme yang menuntut.

Namun, berbeda dengan seseorang yang lebih memilih tanpa perlindungan. Di pinggir jalan itu, ia berjalan dengan ritme yang patah, dengan kecepatan yang menyakitkan untuk dilihat.

Baginya, hujan deras ini adalah tempat persembunyian yang paling jujur, di mana ia tak perlu menjelaskan pada siapa pun bahwa wajahnya yang basah bukan hanya karena air langit, melainkan karena badai yang lebih hebat yang sedang berkecamuk di balik dadanya.

Ia terus bejalan di tepi trotoar, tanpa tujuan yang pasti. Tatapan hampa, seperti tidak ada binar kehidupan di kedua matanya. Mengabaikan tubuhnya yang kedinginan dan suara-suara bising dari irama air yang turun juga akar yang selalu menyala di atas langit.

"Kenapa?" lirihnya.

"Kenapa, Tuhan?"

"Segitu percayanya engkau padaku, sampai menibankan berbagai cobaan yang begitu banyaknya padaku?"

"Aku lelah, Tuhan." Suaranya bergetar menahan isakan.

Langkah kakinya membawa kearah kursi yang berada di taman tak jauh dari sana.

Dibawanya duduk, ia mengangkat kedua kakinya naik keatas dan memeluk kedua lututnya.

Hujan semakin deras, namun ia abaikan. Tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya terpejam menahan sesuatu yang menusuk dari dalam sana.

"Sakit..."

"Ini terlalu sakit, Tuhan." Kepalanya ia tenggelamkan di kedua lututnya.

Perlahan, pundaknya bergetar disertai dengan suara isakan tangis yang menyakitkan, yang kalah terendam oleh suara hujan dan guntur.

Napasnya mulai memburu, tangan yang mengepal beralih meremas dadanya kuat. "Sa-sakitt."

Membuka kembali matanya saat tak merasakan tetesan air mengenai tubuhnya. Dapat ia lihat sepasang kaki yang tengah berdiri di depannya. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap kearah seseorang yang tengah memegangi payung. Memayungi dirinya dan membiarkan tubuh orang itu basah.

Orang itu menatapnya, tanpa mengeluarkan suara apapun.

Ia menatap orang itu dengan pandangan yang buram. "Tolong."

"Tolong, bawa aku pergi dari belenggu ini."

Selesai mengatakan itu, kesadarannya terenggut. Tubuhnya ambruk kesamping yang langsung dengan sigap ditangkap oleh orang itu.

(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠✧⁠*⁠。

Selamat tahun baru. Terimakasih sudah mampir dan membaca!

Tolong kasih aku support untuk melanjutkan cerita ini. Ekhem kalo boleh sekalian klik Star yang ada di pojok kiri bawah, yaa😄

Salam hangat dari aku❤️

Kamis, 01 Januari 2026
(Publish pertama. Rabu, 26 Maret 2025)

nabastalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang