Kecuali beberapa hari ini, aku merasa dia sedikit berbeda. Makin lama kusadari wajahnya semakin tak terlihat jelas ketika umur kami bertambah.
dan kemarin, dia memanggil namaku. "Hai, lo Selena kan?"
Dari mana dia tau nama lamaku?
memikirkan hal itu membuatku sedikit takut untuk tidur malam hari ini, tapi mataku lelah. Rasanya tak kuat menahan rasa kantuk ini.
"kayanya gua mau tidur" aku bergumam.
***
hai, ini aku lagi. Jemima.
mimpiku kali ini hanyalah ruang putih tak berujung. Maklum, karena aku tidak merencanakan apa apa di dalam mimpiku hari ini, aku hanya akan duduk sambil menunggu waktu pagi tiba, dan aku akan bangun selayaknya manusia normal pada umumnya.
dan seperti biasa, dia datang lagi. Kali ini kursi polos yang aku gunakan berubah menjadi kursi halte bis, lalu kulihat sebelah kiri ada bis merah menuju ke arahku.
mungkin aku akan merasa bosan jika menunggu sampai pagi hanya dengan duduk- duduk saja, setelah bis itu berhenti di depanku tak membutuhkan waktu lama aku langsung masuk ke dalamnya, dan seperti biasa kulihat pria itu duduk di kursi bagian belakang.
Ku susul dia dikursi bagian belakang, aku memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya.
"boleh ngga, gua duduk di sebelah lo?" Cowo itu bahkan nggak menoleh sama sekali disaat aku sedang mengajaknya berbicara.
"oh, oke. Gue anggep itu jawaban iya." tukasku lalu bergegas duduk di sebelahnya.
ku coba melihat wajahnya. Ya, walaupun itu akan sia sia karena aku akan melupakan wajahnya kala bangun tidur besok pagi. tanpa kusangka cowo itu pun balik melihat kearahku.
"Selena, please berperilakulah selayaknya NPC pada umumnya. Kamu sedang berada di mimpiku"
Ucapannya membuatku terkejut, "maksud Lo apa?!" cowo itu kembali terdiam, " ini mimpi gua, Lo yang masuk kemimpi gua."
cowo itu tidak menjawab sampai akhirnya ketika aku ingin menyentuhnya, kurasakan kedua kaki dan tanganku terikat. Aku bingung, panik, dan takut tercampur menjadi satu yang membuatnya semakin membingungkan lagi adalah ketika kulihat cowo disampingku sudah tidak ada.
ruang putih tak berujung berubah menjadi jalanan gelap. membuatku semakin takut lalu aku berteriak karena bus yang aku tumpangi terjun bebas kedalam jurang.
***
"Jema, bangun. Jemima lo kenapa?" Natalie menepuk-nepuk pipi Jema pelan, memastikan kalau Jema tidak apa-apa. Jema perlahan membuka matanya, keringatnya bercucuran amat deras dan nafasnya pun ngos ngosan.
"Jema, mimpi buruk lagi?" tanya Natalie sembari memberikan air minum kepada Jema.
Jema mengangguk pelan sesekali melirik ke arah jam digital di atas nakasnya. Pukul 00.28, ternyata dia belum tidur terlalu lama.
"gua mimpi cowo aneh itu lagi." jawab Jema seadanya.
Natalie Fransiska, adalah satu satunya teman Jemima yang tau tentang semua hal aneh yang dia alami. Natalie menepuk bahu Jema pelan pelan.
"sebelum tidur baca doa dulu Jema." nasihat Natalie, "Jangan tidur lewat jam sepuluh malem kalo gamau mimpi yang aneh-aneh lahir." Jema mengangguk.
"Nat, anu. Boleh ngga gua malem ini tidur di kamar lo? gua takut."
kebetulan Jema dan Natalie tinggal di asrama kampus, karena jarak rumah Jema yang sangat jauh, dan karena Natalie adalah anak beasiswa dari panti asuhan Candra Kirana.
mereka berteman akrab karena dulu saat ospek mereka mendapatkan challenge berkenalan dengan anak yang berbeda prodi, sejak saat itu mereka menjadi sangat dekat.
"Boleh, kebetulan ada Mona juga dikamar. lagi ngerjain laprak tadi, gua tinggal bikin popmie bentar eh udah tidur." balas Natalie tak luput dengan senyuman manis yang ada di wajahnya.
"makasih ya Nat, maaf kalo gua bisanya ngerepotin lo mulu." Jema mengambil selimut dan bantalnya.
Mereka lalu keluar dari kamar Jema, berjalan dilorong asrama menuju ke kamar 007, Kamar milik Natalie.
Asrama putra dan putri Universitas Soedjapati hanya bersebrangan, dari tempat Jema dan Natalie berdiri susah terlihat lobby dari asrama putra karena kamar asrama dua orang itu berada di lantai paling bawah.
setelah menutup pintu kamar Natalie, Jema lalu merebahkan badannya di atas kasur lantai yang lumayan besar milik Natalie, mencoba memejamkan matanya sembari melafalkan kalimat-kalimat doa.
setelah mengucapkan selamat malam kepada Natalie dan memeluk Mona, Jema lalu tertidur pulas sampai sinar mentari pagi membangunkannya.
🧶
______________________________________________
Hai semuanya, terimakasih karena sudah membaca karya sederhana saya yang satu ini.
semoga saja akan saya tulis sampai selesai walaupun tidak banyak yang membaca.
untuk para pembaca yang baru saja menemukan cerita saya, saya mengharapkan banyak kritik dan saran dari kalian agar saya semakin berkembang lagi.
selain itu saya juga meminta tolong untuk menekan tombol bintang yang ada dibawah ini, serta jangan lupa bagikan kepada teman teman anda agar cerita saya semakin dikenal meluas.
terimakasih 🌻
______________________________________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Red String Theory ||•On Going
Teen FictionJemima selalu memiliki mimpi yang terasa begitu nyata. Sejak kecil, ia terbiasa mengalami Lucid Dream, di mana ia bisa mengendalikan setiap detail dalam tidurnya. Namun, ada satu hal yang membuatnya resah-kehadiran seorang pria misterius yang selalu...
🧶 • fist
Mulai dari awal
