[2030] Lucia dan Ethan

35 1 0
                                        

Lucia dalam masa sepinya selalu memberikan afirmasi positif dalam kesehariannya. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk seseorang yang selalu ia doakan agar senantiasa berada di dekatnya. 

Meskipun dunianya selalu tak berjalan sesuai dengan apa yang ia angankan, ia senantiasa berjuang dan menantikan hari di mana ia akan meraih kebahagiaan yang selama ini ia dambakan.

2 tahun sudah ia menyandang gelar sebagai istri dari seorang lelaki yang selama ini ia curi pandang diam-diam dalam keseharian sekolahnya. Namun, selama itu pula ia belum pernah merasakan kerekatan ikatan pernikahan seperti apa yang pernah mereka janjikan di depan Tuhan dan seluruh keluarga yang hadir di hari suci pernikahannya.

Lucia tak pernah mendesak suaminya untuk selalu memberikan apa yang ia inginkan, Lucia tak pernah menolak apa yang suaminya katakan, Lucia tak pernah membantah apa pun yang suaminya larang, Lucia selalu menuruti segala yang suaminya inginkan. 

Lucia berusaha menjadi istri yang baik dan menurut terhadap suaminya. Walau selama itu pula, ia memiliki suara berisik yang selalu membuatnya bertanya, apakah suaminya bahagia menikah dengannya? Apakah suaminya merasa ia tidak salah memilih seorang wanita untuk dijadikan sebagai istri? Apakah Lucia memang seseorang yang suaminya harapkan akan menemani masa tuanya?

Berbagai kegiatan Lucia lakukan untuk memecah sepi yang selama ini melingkupi hidupnya. Ia pikir dengan memiliki keluarga sendiri ia akan terbebas dari sepi yang selama ini ia benci. Namun, memang seharusnya Lucia tak pernah menaruh begitu banyak harapan kepada orang lain, toh selama ini ia selalu bisa memecah sepi dan berteman dengan kesendirian kan?

Tapi, hari itu tampaknya seluruh jiwa Lucia menjerit. Tercabik dengan kenyataan yang selama ini ia takutkan. Angannya pudar, pikirannya berkabut, memaksa segala kenyataan buruk yang ia dapatkan untuk pergi dan tak pernah datang kepadanya. 

Orang lain akan melihat Lucia sebagai wanita yang tenang, yang tak pernah mereka kira di dalamnya jiwanya tengah tercabik dan terurai berkeping-keping.

"Ibu Luci, jangan terlalu di pinggir nanti jatuh!"

Lucia melihat ke samping tempat ia bersandar, air laut yang begitu biru seolah berbicara padanya. Birunya begitu pekat, ia menyukainya. Ia sangat menyukai warna biru, tenang, bebas, dan penuh dengan harapan. Jika ia jatuh dalam biru terdalam apakah ia akan abadi dalam ketenangan?

Akalnya runtuh, Lucia sudah tidak memiliki daya untuk menghadapi kenyataan hidup yang untuk kesekian kalinya menghancurkannya. Biru begitu memikat akalnya, membisikkan beribu kata penenang yang ia butuhkan, menariknya untuk jatuh dan tenggelam dalam ketenangan abadi yang selama ini ia elukan.

-

Ethan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, lebih cepat dari yang biasanya ia berani lakukan. Jalanan di depannya terlihat seperti garis panjang yang tak berujung, kabur oleh kecemasan yang memenuhi pikirannya. 

Ia mencengkeram kemudi dengan erat, berusaha menjaga kendali, meski tangannya gemetar hebat. Napasnya terengah-engah, dada terasa sesak, dan keringat dingin membasahi tubuhnya, membuatnya terasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Telepon singkat yang diterimanya tadi masih terngiang-ngiang di telinga, memacu detak jantungnya hingga terasa menyakitkan. Kata-kata dari suara di seberang sana, panik, tergesa-gesa, dan tanpa penjelasan yang memada cukup untuk membuatnya jatuh ke jurang kepanikan. 

Ethan menggigit bibirnya, mencoba menahan gejolak emosi yang hampir meledak. Hanya ada satu hal yang terus-menerus ia ulang dalam pikirannya, 

Aku harus segera sampai. Aku harus menemukannya.

Ketika akhirnya ia tiba di tempat tujuan, Ethan bahkan tidak mematikan mesin mobilnya dengan benar. Ia keluar dengan tergesa-gesa, hampir tersandung saat melangkah. 

DRIFTWhere stories live. Discover now