✷ Villains ✷
・Chapter 00 : "Awal sebuah penyesalan."・
***
Tahun ke 2 memasuki jenjang SMA biasanya para muda mudi menikmati masa itu. Masa dimana mereka bisa menggali bakat dan minat mereka, bersenang-senang dan merangkai kenangan indah bersama orang-orang yang mereka sayangi.
Jalan raya mulai ramai, setelah libur sekolah usai kini para muda mudi yang masih mengemban ilmu kembali berangkat ke sekolah. Ada yang heboh pagi-pagi sudah bersiap dengan tas baru, sepatu baru atau mungkin motor baru. Tak lupa dandanan wajah mereka yang makin tebal hingga menarik perhatian. Semuanya terlihat bersemangat pagi ini.
Meskipun begitu, ada yang berharap hari libur di tambah. "Ugh, gue masih ngantuk," ucap siswi yang berjalan di trotoar. Wajahnya tampak tak bersemangat mengingat ia harus kembali belajar di sekolah.
Siswa di sampingnya terkekeh kecil. "Baru juga hari pertama, semangat dikit napa."
Siswi itu lantas menoleh. "Lu juga, kenapa harus bangunin gue sepagi ini? Kan ini masih jam enam lewat lima puluh menit," keluhnya.
"Emang elo kira kita masuk jam sembilan? Itu mah lo yang baru bangun tidur jam sembilan!" ujar siswa itu yang membuat lawan bicaranya memutar bola mata.
Siswi berambut panjang yang mengenakan almamater warna hitam khas sekolahnya itu bernama Angelina Bulan Maurella, siswi tahun ke 2 yang bersekolah di Starlight High School. Sementara siswa di sampingnya bernama Aiden Nevano Akash.
Mereka adalah teman masa kecil dari masa taman kanak-kanak sampai kini SMA. Entah kenapa bisa selalu satu sekolah bahkan kini mereka satu kelas. Tapi mereka tidak memperdulikan itu.
"Kenapa sistem sekolah kita gak diacak sih kelasnya?" Tanya Bulan.
"Hmm? Emang kenapa?"
"Males ketemu lo sama tiga tuyul jahanam," celetuk Bulan masih dengan wajah lelahnya.
Aiden tersenyum sinis. "Pindah sekolah sono kalo bosen ketemu gue," balasnya, seketika bulan menoleh.
"Orang gue duluan yang daftar." Aiden terkekeh atas pernyataan bulan.
"Kalo gue pindah lo mau sama siapa hah?" Tanya Aiden yang seolah membungkam mulut Bulan.
Melihat lawan bicaranya yang terdiam tak bisa menjawab, Aiden menyunggingkan senyum kemenangan. Ya. Sebenarnya kebetulan mereka selalu satu sekolah ini membuat Bulan tidak sendiri. Aiden menjadi teman yang baik dan selalu bersama Bulan saat gadis itu sendirian.
Bulan mendengus, Aiden memang mengerti kelemahannya. Bulan berjalan lebih cepat hingga mendahului Aiden. Melihat hal itu Aiden ikut mempercepat langkahnya. Semakin melangkah indra penglihatannya menangkap sesuatu.
Aiden menghentikan langkahnya begitu juga Bulan. Pejalan kaki yang tadinya berjalan santai kini berjalan lebih cepat menuju suatu tempat. Gerombolan orang-orang itu berkumpul membentuk setengah lingkaran di samping jalan.
"Pada nontonin apa sih?"
Pertanyaan itu tak lekas terjawab. Hingga terdengar sirena polisi yang meraung-raung di jalanan. Mobil polisi itu berhenti tepat di tempat dimana banyak orang yang berkumpul. Petugas berseragam biru itu keluar dari masing-masing mobil. Tak lama ambulans juga tiba di sana.
Merasa penasaran, Bulan berlari menuju tempat itu diikuti Aiden. Setelah sampai di sana Bulan langsung menerobos gerombolan manusia itu. Tak peduli berapa banyak teguran yang ia dapat, Bulan tetap melangkah dengan rasa penasaran yang semakin meningkat.
YOU ARE READING
VILLAINS
RandomTahun ke 2 memasuki jenjang SMA biasanya para muda mudi menikmati masa itu. Masa dimana mereka bisa menggali bakat dan minat mereka, bersenang-senang dan merangkai kenangan indah bersama orang-orang yang mereka sayangi. Namun, di balik semua kesena...
