Tak ada yang tahu persis peristiwa apa yang membuatnya takut dengan hujan, dan tak ada juga yang mengetahui mengapa ia sangat menyukai pesisir lautan
"Jika di dunia takdirku memang tak pernah bahagia, maka letakkan saja aku dalam dekapmu, tuhan.."
K...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Vote And Commend Happy Reading!
*****
"Penjelma langit yang turun saat bumi telah hancur, seperti yang pergi tak akan kembali, dan yang datang hanya membawa lebam"
___Sealuana Rainqara___
*****
Di keindahan yang diciptakan oleh tuhan, saat dia melihat luasnya laut dengan ombak yang pergi serta datang, gadis itu terdiam dengan kepala yang menunduk lelah, membendung luka, duka, dan trauma yang selama ini berusaha ia redamkan
Tenang, ombak tak seberisik pikirannya, gadis yang tengah duduk di atas pasir yang menjadi pesisir lautan itu hanya termenung, menangkap semua alur yang telah di laluinya dahulu. Alur yang cukup melelahkan dan menguras begitu banyak energi
Tak lama, ia tak bisa berlama lama disini, masanya sudah habis, dia, seseorang yang menjadi alasannya untuk bertahan sudah pergi seutuhnya. Saatnya Luana yang beranjak, tempat ini terlalu sakit bagi gadis penuh kasih sepertinya, Luana berhak bahagia
Ia bangkit, menegakkan tubuh dari duduknya. Menyusuri pepasiran seraya menghampiri ombak tanpa alas "Ini yang terakhir, yang aku mau masih sama, jika ada harapan aku ingin kamu kembali kesini, temui aku di tempat ini" Katanya tak menemui lawan bicara, melainkan lautan yang luas, Luana berbicara dengan bayangan
"Tapi apapun yang buat kamu kembali, aku udah nggak disini, aku akan pegi" Ia berucap kembali. Tolong tanyakan pada Luana bagaimana perasaannya detik ini. Ia hancur, tempat ini adalah rumah keduanya, rumah cinta kasihnya. Dan perihal janji yang tak akan meninggalkan tempat ini, Luana mengingkari. Nyatanya Luana akan pergi
Gadis itu mengepal erat tangannya, mencoba meredamkan tangis yang meminta jalan untuk meluapkan kesedihan yang mendalam. Nyatanya ia tak bisa berbohong, matanya memerah dengan rintihan yang amat dalam, gadis itu tertunduk, terisak dengan lirihan yang sangat perih
"Selamat tinggal, someone and the sea.." Ia berbalik, mempercepat langkahnya menuju pulang seraya menyerkah air mata yang selalu mengalir indah di pipinya yang memerah
Satu pesan darinya saat menjumpai obak. Tadi, Luana sempat menghanyutkan sebotol kaca berisi pesan yang ia rangkai sedemikian rupa eloknya, berharap jika itu akan sampai ke orang yang tepat, ke manusia yang menjadi dahannya sedari kecil
Detik telah berlalu menjadi menit, begitu pula jam yang telah menggantikan waktu. 12.500 MDPL. Tangan cantik itu mengukir sebuah Narasi indah tentang dirinya