We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Kejadian awal.

854 14 1
                                        

Follow terlebih dahulu sebelum membaca..

Terima kasih sudah mampir yaa 🙌😌
Maaf bila ada kesalahan dalam menulis, karena manusia tidak luput dari tempatnya salah 🙏🏻

Jangan lupa follow akun TikTok: @author_imut ❤
Instagram: @wp_whiteteaa25

Memberikan vote dan komen adalah bentuk apresiasi serta semangat untuk author! 😍

⚠️ DILARANG KERAS PLAGIAT CERITA INI! ⚠️
Plagiat adalah contoh yang buruk dan tidak menghargai karya orang lain.
______________________________________

Gadis itu terus saja menatap wajah laki-laki di hadapannya tanpa berpaling. Entah mengapa, ada rasa nyaman yang menjalar setiap kali ia memandangnya berlama-lama. Laki-laki yang sedari tadi sadar sedang diperhatikan itu mendadak salah tingkah. Sebuah senyum sumringah terbit sekilas di bibirnya, meski ia tak berani membalas tatapan sang gadis.

"Ekhmm... Arkha lagi fokus belajar nih. Apalagi hari kelulusan masa putih-biru kita bakal berakhir," ucapnya, berusaha menahan diri agar tidak terlihat gugup.

Dengan jahil, gadis itu semakin mendekatkan wajahnya ke arah Arkha yang tengah pura-pura fokus membaca buku. "Kha," panggilnya seraya tersenyum manis dengan mata berkedip-kedip.

"Hmm?" Arkha menaikkan satu alisnya, lalu buru-buru mengalihkan perhatian ke arah lain. "Ada yang aneh, ya?" tanya Arkha kaku.

"Gak, cuman hari ini kamu kelihatan lebih keren aja!"

Gombalan itu sukses membuat Arkha terpaku. Jantungnya berdetak hebat. Ia memegang dadanya erat seraya membatin. "Kha, jantungku gak aman nih! Rasanya mau meledak!"

Shayla mulai menjauhkan diri, memberikan ruang agar laki-laki itu mau menatapnya kembali. "Pasti Arkha gak suka sama Shayla. Makanya natap yang lain," keluhnya dengan suara pelan.

"Sini lihat Shayla, masa ngobrol lihat arah lain!" kesal gadis itu melihat sahabatnya malah membuang muka.

Arkha berusaha menoleh. Wajahnya sudah memerah sempurna, menampilkan senyuman kaku yang sangat kentara.

Shayla malah menatapnya bingung. Rasa khawatir menjalar saat melihat wajah Arkha yang memerah, ditambah tubuh laki-laki itu yang sedikit tremor. Tanpa aba-aba, Shayla mendekat lalu memeluknya erat, mengelus rambut Arkha yang sedikit berkeringat.

"Kha, badanmu hangat. Kamu sakit?"

Arkha yang terbawa suasana perlahan membalas pelukan itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma familier dari rambut Shayla yang begitu dekat dengannya. Tak berselang lama, Shayla melepaskan pelukannya. "Heh! Kok malah diam?"

"Hmm?" Arkha bingung harus menjawab apa.

Shayla kembali duduk di tempatnya. Raut wajahnya berubah serius saat melontarkan pertanyaan yang belakangan ini mengganggu pikirannya. "Jika suatu hari Shayla pergi jauh, gimana?"

"Lala mau pergi kemana? Arkha bakalan ikut." Laki-laki itu meraih tangan Shayla dan menggenggamnya erat. Jawaban itu seketika membuat hati Shayla menghangat.

Namun, sore itu setelah mengobrol panjang dengan sahabatnya, Shayla memilih pulang sendirian. Dengan seragam SMP yang masih melekat di tubuhnya, ia berjalan dengan tatapan kosong menatap aspal jalanan.

******

Kehilangan kabar. Semua orang panik mencari keberadaan anak perempuan yang sampai jam sekarang belum juga sampai di rumah. Shayla menghilang entah ke mana.

Setelah dua jam lebih mencari dengan rasa cemas yang membakar, Arkha akhirnya menemukan titik terang.

"Lalaaa...!"

Twenty five (the khatya) EndStories to obsess over. Discover now