•
Sekarang, di rumah yang terasa kosong ini, Alea duduk di pojok dinding sambil memeluk lututnya. Tidak ada makanan, perutnya terasa lapar, dan tak ada sisa sedikit pun di dapur. Hingga pukul 22.00 malam, Alea mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia membuka pintu tanpa mengetuk atau memberi salam, menunggu pintu itu terbuka dengan tatapan datar.
“Aku tidak peduli jika itu maling,” pikirnya. Alea merasa percaya diri, karena ia bisa saja membunuh mereka dengan pisau kecil yang selalu ia simpan di sakunya. Namun, perkiraannya ternyata salah; yang muncul adalah pamannya.
"Yo, Alea! Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan nada datar sambil menatap ke arah Alea.
Alea berdiri dan membalas tatapannya. "Aku baik."
"Ikutlah bersamaku."
"Kemana?"
"Pulang. Kau akan tinggal di rumahku. Apa kau mau sendirian di sini, hm?" Ucapnya sambil mendekat dan memeluk pinggang Alea.
"Tch, kau bajingan gila! Jangan menyentuhku!" jawabnya sambil berusaha mendorongnya sekuat tenaga.
Anta melepaskan pelukannya sambil tersenyum. "Cepatlah."
"Ya, tunggu di sini. Aku menyiapkan barang-barangku dulu," lanjut Alea.
Alea pun berjalan menuju kamarnya. Ia membuka lemari, mengambil beberapa pasang baju, dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, Alea keluar dan menghampirinya.
Saat sampai di luar, Alea sama sekali tidak melihat Anta. Ia sudah mencari di dalam ruangan lain, tetapi tetap saja ia tidak ada di mana-mana. Akhirnya, Alea keluar dan melihat mobilnya masih terparkir di depan.
"Kau mencariku?" ucapnya tiba-tiba muncul dari belakang.
"Huh! Bikin kaget saja, sialan. Ayo pergi, aku ngantuk," jawabnya sambil mengelus dada dan berjalan ke arah mobil.
"Hoi, kau belum menutup pintunya!"
Alea melempar kunci pintu rumah ke arahnya dan masuk ke dalam mobil. Dia tersenyum kecil melihat Anta yang tampaknya sedang memaki pintu itu karena sulit ditutup. "Hm, dasar bodoh"
_________
Terjadi keheningan di sepanjang perjalanan. Alea sudah mencoba memejamkan matanya, tapi tidak bisa karena perutnya terasa sakit.
"Kau sudah makan?" tanya Anta memecahkan keheningan.
"Belum," jawabnya jujur.
"Kau mau makan apa?"
"Apa saja."
"Hm, baiklah."
Alea melirik ke arah Anta yang sedang fokus ke jalanan. Tanpa disadari, ternyata dia juga melirik ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Anta.
Alea menggelengkan kepala.
"Wajahmu merah, apa kau sakit?" Anta memberhentikan mobil dan menempelkan telapak tangannya ke dahi Alea.
"T-tidak, aku baik-baik saja," jawabnya sambil memalingkan wajah dan menatap keluar jendela.
Dia melirik dagu Alea pelan. Saat Alea berbalik, dia kaget melihat wajah Anta yang begitu dekat tanpa menyisakan jarak.
Alea segera mendorong Anta, tetapi tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Alea bingung harus bagaimana. Dia memutuskan untuk memejamkan mata, dan Anta malah mengecup bibirnya sekilas, lalu kembali menjauh.
Alea langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya yang mungil. "Kau gila," ucapnya.
"Haha, bersikaplah lebih sopan pada pamanmu ini," jawab Anta sambil mengacak rambut Alea dan kembali melajukan mobilnya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
MR. OBSESSION || 18+
FantasiaFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!! Banyak adegan 18+ (di mohon bijak dalam membaca) No plagiat
