"Amoora, dengarkan aku! Pulanglah sekarang juga!"
Suara panik keluar dari panel hologram tipis yang melayang di udara, tak mengusik fokus Amoora. Ia tetap sibuk memanggang ikan besar di atas bara, aroma rempah dan bawang menguar harum.
"Aku tahu kau bisa jaga diri, tapi tempat itu dekat markas perompak!"
Amoora tetap diam. Matanya tajam, wajahnya dingin.
"Mereka kejam, Amoora! Bisa membunuh atau melecehkan siapa saja. Apalagi kau sendirian-"
"Aku akan pulang," potong Amoora, jemarinya menekan ikon transparan di udara.
"Setelah kudapatkan apa yang kucari."
Seketika hologram itu padam. Ia menggeser panel kontrol kecil ke mode tidur lalu melemparnya ke dalam tenda.
"Gadis berisik," desisnya.
Di dalam tenda tadi, Amoora sempat mengenakan pakaian panjang berwarna gelap-terbuat dari kain tebal, cukup hangat untuk menahan udara hutan malam. Tapi hawa dalam tenda terasa pengap dan membuat kulitnya lengket oleh keringat. Dengan malas ia menanggalkan lapisan itu, lalu menggantinya dengan piyama tipis hitam, hanya agar tubuhnya lebih leluasa bergerak dan bernapas.
Kini, saat ia duduk di depan bara api, angin malam merayap di kulitnya. Meski pakaian itu nyaris tak melindungi tubuhnya, Amoora tak menggigil. Hutan ini seperti halaman belakangnya sendiri.
Tapi malam telah berganti rupa.
Burung hantu bersuara. Awan menggulung, menutupi bulan.
Hutan jadi dingin, basah, dan kelam.
Amoora menambahkan ranting pada bara. Saat hendak mengambil teko, ia mendengar suara langkah pelan di tanah berdaun kering. Matanya menyipit. Jantungnya tetap stabil, tapi ototnya mulai bersiap.
Tiga pria muncul dari balik bayangan. Mengepungnya.
Mereka beringas. Tatapan liar. Tato-tato mencolok. Ikat kepala tengkorak. Tampang bajingan kelas berat.
"Lihatlah! Keberuntungan tengah memihak kita malam ini," gumam salah satu pria dengan ikat kepala, menatap Amoora seperti serigala kelaparan.
"Kita akan makan besar! Hahahaha!"
"Seorang wanita? Sendirian? Di tengah hutan? Bukankah kau tahu tempat ini berbahaya, Nona?" Pria dengan bekas luka panjang di pelipis tergelak tawa. Disambung tawa temannya yang lain. Terlihat sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menertawakan sesuatu yang dianggap telah menjadi milik mereka.
"Atau jangan-jangan kau memang menunggu kami?" timpal pria lain sambil menyeringai.
"Pergilah!" terang Amoora singkat. Ia menatap perompak itu dengan dingin.
"Pergi... tanpa menyentuh kulit seputih itu? Betapa ruginya kami," ujar pria yang berdiri paling dekat.
"Mana mungkin kami pergi, tanpa lebih dulu menikmati suguhan seindah ini."
Gadis dengan terusan hitam itu mulai menatap tak suka. Terlebih ketika ia mencium aroma gosong dari ikan yang tadi dipanggangnya.
"Sial!" gumamnya pelan.
"Cukup bicaranya! Tubuhmu terlalu menggoda untuk hanya dipandangi."
Salah satu mencoba menarik lengannya.
Kesalahan besar.
CRACK!
Sikut Amoora menghantam wajah pria itu-tulang hidungnya patah.
Darah memuncrat. Dua lainnya langsung bergerak cepat, tapi Amoora sudah siap.
BUGH! BUGH!
Pukulan telak menghantam perut dan rahang. Amoora berputar, melompat, dan menendang lutut salah satu pria hingga berbunyi retak.
Pria itu tumbang, meraung kesakitan. Tapi yang lain menarik tali tambang dan melemparkannya, membelit pergelangan tangan Amoora.
Ia tersentak. Tapi tak kehilangan kendali.
Dengan satu tarikan dan langkah cepat ke depan, ia menyikut perut pria yang memegang tali. Lalu menggigit kabelnya, menyentak keras, membuat si pria tersungkur.
Yang satu lagi mengayunkan batang kayu. Amoora menunduk, kayu itu meleset, dan ia menyapu kaki pria itu dengan tendangan rendah.
Tubuh pria itu menghantam tanah keras.
"Aku belum selesai," desis si pemimpin yang kini mengayunkan pisau lipat.
Pisau itu menggores lengan kanan Amoora. Luka menganga, darah menetes.
Mereka tertawa.
"Bajumu robek. Aku bisa melihat kulit mulusmu..."
Amoora tak bicara. Ia hanya menatap darahnya sendiri. Kemudian-ia bergerak.
Lututnya menghantam rahang pria itu begitu kuat hingga gigi tumpah.
Pria itu terguling. Amoora menyambar kayu tajam dari bekas bara, lalu menusukkannya ke telapak tangan perompak yang hendak bangkit.
Teriakannya memecah malam.
Salah satu dari mereka mencoba melilitkan ranting berduri ke leher Amoora. Ia berbalik, mencengkeram lengan pria itu, lalu menghantam pelipisnya dengan batu.
BUGH! BUGH!
Dua pukulan telak menghantam kepala. Lalu satu tendangan keras ke selangkangan.
Yang terakhir mencoba menyeret Amoora dari belakang-tapi ia melepaskan diri, berguling ke depan, lalu menusuk kakinya dengan pisau kecil yang ia sembunyikan.
Pria itu menjerit. Amoora mengambil pisau satu lagi, melemparkannya ke leher pria lain. Tepat di nadi.
Darah menyembur.
Tersisa satu. Amoora mendekat perlahan.
Pria itu merangkak mundur, panik, tubuhnya gemetar.
"Jangan... jangan... aku minta maaf..."
Amoora berlutut di hadapannya.
"Maafmu tak cukup."
Ia menancapkan pisau ke dadanya. Lurus. Dalam.
Nafas pria itu berhenti.
Petir menyambar. Awan mencabik langit.
Rambut Amoora tergerai liar, wajahnya berlumur darah. Nafasnya tenang.
Ia berdiri.
"Oh tidak... sepertinya aku yang makan besar malam ini."
Dia, Amoora Anjani-perempuan berhati dingin.
Mencari masalah dengannya, artinya mencari mati.
****
Makasih udah mampir di cerita baruku.
Aku pengen punya tokoh wanita yang lebih berani dari Hanum. Jadi terciptalah tokoh Amoora ini.
Jika di novel sebelumnya banyak romantisme, konflik batin, air mata, kecemburuan dll, di novel ini akan aku potong separuh bagian yang seperti itu.
Konsepnya lebih matang, dewasa, serius, dan mencekam. Tapi pasti ada selipan alur yang juga santai, jadi nggak akan melulu serius setiap chapter.
Semoga kalian suka, ya.
Oh ya, ini genre action-misteri-fantasi
Seperti di novel sebelumnya juga, tapi lebih dibulatkan lagi secara keseluruhan.
Aku ga suka kalau ada yang komen "Emang ada di dunia ini begini begitu, gak masuk akal, gak nyambung dll"
Coba di baca ulang deskripsi cerita. Fantasi! Kayaknya gak perlu jelasin ulang gimana konsep genre fantasi itu. Dan tingkat fantasi setiap buku juga beda-beda. Ada yang ringan, sedang, sampai yang tinggi. Tergantung imajinasi penulis dan sasaran pembacanya. Jadi mohon untuk tidak membanding-bandingkan tulisan penulis satu dengan lainnya.
Aku menulis karena hobi. Membuat karangan imajinasi untuk diriku sendiri, baru setelah itu orang lain. Jadi kalau suka aku ikut senang, kalau ga suka, tolong ga perlu ninggalin komentar negatif.
Kita sama-sama menghargai karya aja, ya.
Makasih sekali lagi udah mau membaca kerandoman isi pikiranku.
Semoga kalian selalu sehat🖤💜
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Anjani (I Am Not Your Queen!)
AksiyonCOMPLETED ✅ Action-Misteri-Fantasi🖤 Memiliki tanda bulan sabit di leher kiri artinya mempunyai sumpah untuk menjadi manusia yang tak pernah ingkar akan ucapan yang telah terlontar. Janji adalah hutang. Janji menjadi harga mati. Kebiasaan itu telah...
