Suara ketikan dari keyboard yang menyeruak halus dalam keheningan perpustakaan kampus ini menjadi agenda rutin pria yang sedang sibuk menyelesaikan tugasnya.
Universitas ternama yang diinginkan oleh banyak incaran para calon mahasiswa baru menjadi tempat Erlan menimba ilmu. Pria yang mengambil jurusan Teknik ini menekuni bidangnya dengan baik karena memang hal tersebut yang menjadi gairahnya.
Sudah lewat sore menuju petang, namun dirinya masih belum beranjak. Garis dahinya semakin dalam mengerut kala matanya mulai merasakan lelah, tapi hanya sedikit lagi untuk selesai. Maka dari itu dia masih bertahan walau badan sudah ingin rebah di kasur nyaman.
Seorang pria lain menghampiri dan duduk di bilik sebelahnya. "Belum kelar juga?"
"Dikit lagi."
"Terus mau kemana abis ini?"
"Balik, menurut lo aja." Matanya masih tertuju pada layar di hadapannya.
"Gak mau temenin gue apa?"
Kepalanya baru menoleh saat mendengar suara memohon dari sahabatnya itu. "Kemana?"
"Jemput adek gue, dia baru kelar ekskul."
"Biasanya juga balik sendiri dia."
"Lagi kena hukum Nyokap, gak boleh pulang sendiri." Lalu helaan napas keluar dari mulutnya. "Ketawan mabok, pulang dianterin temen cowoknya."
"Kian? Mabok? Sejak kapan?"
"Baru itu, makanya nyokap marah."
Erlan segera menutup laptopnya meski tugasnya belum sepenuhnya selesai. Mendengar adik dari sahabatnya itu mulai mencicipi dunia malam, ada kekhawatiran juga karena Kian sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
Begitu pun dengan Wikan yang mana sudah dia kenal sejak awal masuk SMA, berteman baik hingga sekarang. Sudah dianggap seperti saudara seumuran baginya.
..
Mereka berdua keluar dari area kampus menjelang maghrib, langit sudah berwarna jingga menuju gelap. Motor yang dikendarai Erlan mengikuti kendaraan di depannya dimana Wikan melaju cukup cepat menuju sekolah Kian.
Sesampainya disana, memang tersisa murid-murid dari ekskul cheerleader yang baru saja selesai latihan. Kian masih mengenakan seragamnya menghampiri kakaknya yang menunggu di depan gerbang, masih duduk di atas motornya.
"Gak ganti baju?" Tanya Wikan.
"Gue boleh nginep gak?"
Tanpa basa-basi, memberi salam atau sekedar menyapa sang kakak yang sudah rela menjemputnya, Kian malah langsung menembak keinginannya untuk menginap malam ini.
Wikan sejujurnya agak lelah menghadapi adiknya yang mulai menginjakan kaki di masa remaja ini, dimana banyak hal yang mau dia explore dan sulit untuk mengaturnya agar tetap sesuai jalur.
"Pulang, Ki." Erlan bersuara.
"Besok kan tanggal merah, Kak."
"Emang udah ijin Nyokap?"
"Belum sih, pasti gak dibolehin."
Kepalan tangan Wikan mendarat di kening adiknya. "Udah tau gak boleh kenapa masih maksa."
"Cewek-cewek semua kok, lagian mau bahas gerakan buat lomba bulan depan."
"Telfon nyokap dulu aja sekarang." Suruh Erlan.
Dan Kian pun sebenarnya lebih mendengar perintah Erlan dibanding kakaknya sendiri, entah ada aura yang mendominasi ketika dia berbicara. Dimana kita sebagai orang yang mendengar perintah atau ucapannya menjadi segan. Padahal tidak ada unsur paksaan dari semua yang dilakukan Erlan, dia hanya berbicara dengan nada rendahnya yang dalam tapi mampu membuat kita menurut.
STAI LEGGENDO
Nayanika
Teen FictionMenerima, sebuah kata yang mungkin sederhana tapi bermakna. Semula biasa saja tapi ketukan pelan itu membuat semuanya terbuka. Merasakan hal yang sebelumnya janggal, namun enggan ditinggal. Tatapan, gerakan, sentuhan, seolah memaksa untuk bertahan...
