Baru pindah rumah, Hilya harus bertetangga dengan lelaki aneh bernama Dimitri. Bagian anehnya, Dimitri sering mencampuri urusan Hilya. Kerjaannya menggoda dan menghasut, mana kata-katanya menyebalkan dan kerap tidak sopan. Jangan lupakan tatapan mat...
Angin halus menembus celah jendela kamar milik seorang pria. Dimitri memeluk Hilya dari belakang hingga rapat. Menekan punggung wanita itu dengan dada dan perutnya, mendekap tubuh itu dengan hangat, menghirup semerbak aroma indah dari tengkuk dan rambut sang puan. Hati lelaki itu kian bergejolak, bergetar bak disengat. Ia lalu beringsut, mengecup puncak kepala Hilya dan menghirupnya. Turun ke belakang telinga, lalu mengecup pipinya. Menghirup leher beraroma sabun sederhana, lantas mengecupnya basah. Turun ke lengan, mengecupnya juga hingga napas lelaki itu terdengar gemetar.
Mata Hilya mengawang. Tak sama dengan Dimitri yang sudah gemetar napas menahan gelora kasih dan hasrat. Namun sekejap kemudian, rasa haru miris menyabet perasaan. Manik puan berambut sebahu itu memanas, menatap kosong jendela kontrakan Dimitri yang ditutupi gorden jaring-jaring saja. Kian panas, hingga mengeluarkan air mata.
Yang lelaki sudah diam, tak lagi mencumbui Hilya. Memeluk saja ia, menutup mata, merilekskan diri dan gemuruh rasa. Mendung sore damai, menenangkan sekujur sel-sel badan. Terlebih Hilya ada di dekapan, menghangatkan kesepiannya yang kadang dingin menusuk tulang.
Namun, mata Dimitri terbuka manakala merasa tubuh Hilya bergetar. Terdengar pula tarikan napas menahan sesak. Ciri orang yang sedang menangis, tapi tak mau isaknya keluar.
"Ya?" panggil lelaki itu, memendekkan nama Hilya.
Sang puan tak merespons apa-apa.
"Sayang, kenapa?" Lelaki itu membuka pelukan, menopang badan dengan sikunya, menilik wajah Hilya yang menyamping tak bersuara.
"Nggak apa-apa, Dim." Hilya menyeka mata.
"Bohong." Dimitri menukas.
Perempuan itu diam sejenak, sebelum menghela napas dalam, mengembuskannya penuh beban. Dimitri menatap itu dengan rasa kasihan. Ia merendahkan kepala, mengecup kembali lengan perempuan yang bukan kekasihnya itu sejenak.
"Tell me, Sayang. Dua puluh empat jam pun siap saya dengarkan kamu...."
"Lo horny, kan?" Hilya menoleh setengah.
Dimitri kaget, tapi tak punya ekspresi kaget seperti orang kebanyakan. "Yes, I am. Tapi saya nggak mau kalau kamu nggak horny balik ke saya. Saya cuma mau dengarkan kamu curhat. Ayo curhat, Sayang."
Hilya kembali menyampingkan badan. Mengambil bantal guling Dimitri yang lembek untuk ia beri pelukan, alih-alih memeluk lelaki di belakang punggungnya.
🍍🍎🍍🍎
● Dimitri Arnavian Marsello (Dimitri)
● Asteria Hilya Maharani (Hilya)
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
. . .
CATATAN:
⚠️Gambar-gambar hanya visualisasi untuk memudahkan penulis berimajinasi. Silakan bayangkan visual lain jika tidak berkenan dengan visualisasi yang disediakan😉
⚠️Cerita ini murni buatan purpleliyy jika ada kesamaan dalam hal apa pun, itu hanya sebuah kebetulan😊 Jangan lupa VOTE kalau kamu suka dengan ceritanya & KOMENTAR apa saja agar seru dan ramai💜
🍍Haiii, Liya kembali dengan cerita baru. Rencananya akan update setiap seminggu sekali atau dua kali atau tiga kali jika banyak ilham, hihi. Silakan save di library jika berminat membaca kelanjutan ceritanya Dimitri dan Hilya🍎