29• Seriously?

5.1K 387 52
                                        

3K vote+3K komentar untuk membuka chapter 30 Our Perfect Chaos!

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

3K vote+3K komentar untuk membuka chapter 30 Our Perfect Chaos!

Spam "🖤" di sini!!🖤

***

Beberapa hari berlalu, namun waktu di kamar rawat Rey seolah berhenti pada detik Anessa terseret menjauh di koridor.

Bau antiseptik yang dulunya terkikis oleh kehadiran gadis itu, kini kembali merajai ruangan. Di sudut meja, amplop tebal pemberian Galangga masih tergeletak utuh-tak pernah disentuh, menjadi simbol hinaan terbesar yang terus melubangi dada Rey setiap kali matanya tak sengaja menatap ke arah sana.

Kondisi fisik Rey berangsur membaik; memar di wajahnya mulai memudar menjadi memar kekuningan, dan jahitan di kulitnya mengering. Namun, raga yang pulih itu terasa kosong. Tidak ada lagi pesan singkat yang masuk, tidak ada telepon, dan sosok Anessa benar-benar lenyap seolah digulung bumi.

Sore itu, jendela kamar terbuka sedikit. Angin dingin merembes masuk, memainkan ujung tirai. Rey duduk di tepi brankar, mengenakan pakaian kasualnya. Tangannya mengikat tali sepatu dengan gerakan lambat.

"Rey, lo gila?"

Suara langkah kaki tergesa memecah keheningan. Vino-berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, menatap Rey saat melihat pemuda itu sudah tidak mengenakan baju pasien.

"Gue udah boleh pulang," jawab Rey datar.

"Boleh pulang bukan berarti lo bisa langsung nekat!" Vino melangkah masuk. Matanya menatap Rey penuh kekhawatiran yang tertahan. "Lo mau ke mana, hah? Rumah Anessa? Lo bahkan nggak bakal lolos dari gerbang depan dengan kondisi tulang rusuk yang baru menyambung begitu."

Rey tidak menjawab. Ia tetap berdiri, meski refleks memegangi dada kirinya saat rasa ngilu kembali merambat.

"Dia nggak pernah balik, Vin," gumam Rey rendah, pandangannya terkunci pada lantai keramik. "Udah Lima hari."

"Dan lo pikir dengan lo ke sana, Anessa bakal keluar?" Vino menaikkan nadanya, gemas sekaligus sesak melihat Rey yang selalu nekat hancur. "Lo dengerin gue. Rumahnya kosong dari kemarin lusa. Orang-orang bilang keluarga besar mereka berangkat ke luar negeri. Anessa... udah dibawa pergi."

Rey membeku. Jemarinya yang menahan tepi meja mencengkeram kayu begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Udara mendadak hilang dari paru-parunya.

"Luar negeri?" desis Rey, menatap Vino dengan mata yang memerah dan menyala oleh keputusasaan.

"Relain dia, Rey..." suara Vino memelan, sarat kepasrahan. Ia mendekat, menepuk bahu Rey yang tegang. "lo bakal makin hancur kalau terus melawan keluarga itu."

Our Perfect Chaos [Hey, Enemy Season 2]Stories to obsess over. Discover now