Dengan penuh keberatan hati, Saras meletakkan sepucuk surat di atas meja dengan mata yang mengembun.
"Maaf mas, hati ini sangat terasa sakit jika aku terus berada disampingmu. Selamat berbahagia dengan wanita yang kamu cintai, dan aku memilih mundur." Ucap Saras menderai air mata menahan sesak.
Ia pun segera mengait tangan anak lekakinya dan koper yang berada di samping. Ia dapat melihat tatapan polos penuh dari sang putra, hingga tak kuasa menahan tangis yang kian tak membendung.
"Ayo sayang."
Saras pun segera menarik kopernya. Taksi yang telah ia pesan, telah menunggu. di depan rumahnya. Sekejap, ia meneliti ke segala sisi arah rumah yang penuh kenangan itu.
"Selamat tinggal, Mas Angkasa."
***
SAH
Senyum demi senyuman menghiasi sebuah ruangan. Gema suara kalimat "Sah" mengisi ruangan tersebut, dengan sepesang pria dan wanita yang tampak serasi duduk bersebelahan. Sang wanita tampak bahagia, di banding dengan pengantin pria yang tampak menahan kegelisahan.
Satu persatu tamu undangan menghampiri kedua mempelai dan mengucapkan kata selamat. Sementara itu, di sebelah pengantin wanita, terdapat seorang anak laki-laki yang menatap datar ke arah depan.
"Mas."
Tepukan bahu dari sang istri meyadarkan pengantin pria. "Iya?!."
"Kamu kenapa?" Tanya wanita itu, dibalas gelengan singkat oleh suaminya.
***
Setelah memarkirkan mobilnya, Angkasa berlari dengan langkah tergesa-gesa memasuki rumahnya.
Sepi.
Tak ada anak dan istrinya yang menyambutnya. Dengan langkah gontai ia mencari sang istri dan anak di seluruh sudut rumah. Setelah satu jam ia mencari dan menunggu, tak ada tanda kedatangan istrinya itu ia lantas duduk di ruang makan rumahnya itu. Netra matanya tak sengaja menatap sebuah surat dan kotak yang terbungkus rapi disana.
Dadanya kian mendebar, prasangka demi prasangka ia terka. Tangannya bergetar meraih surat dan kotak tersebut. Segera ia meraih surat itu, dan membacanya. Seketika matanya memerah dan air matanya luruh. Bergantian, ia pun meletakkan surat tersebut dengan perlahan dan meraih kotak itu. Dibukanya kotak itu, dan tubuhnya seketika membeku melihat sesuatu yang ada di dalam sana.
"Maaf kan aku Saras."
***
"Selamat ya, aku turut bahagia." Ucap seorang gadis dengan tatapan luka.
Tatapan luka yang dilayangkan padanya, membuat seorang lelaki menatap penuh bersalah ke arah kekasihnya itu. Tangannya semakin erat menggemgam tangan mungil itu.
"Aku cinta sama kamu."
"Aku tau."
Senyuman tuluss itu ia layangkan pada pria dihadapannya ini. Tangan putih pucat itu mengusap tangan besar milik pria itu yang masih setia menggemgam sebelah tangan miliknya.
"Amora, aku mohon untuk kita berjuang sekali lagi." Ucap pria itu, dibalas gelengan singkat dari gadis yang ia panggil "Amora" itu.
"Mas,--"
"Please Mora, kita berjuang sekali lagi. Aku mohon sama kamu. Cuma kamu, yang aku cinta, bukan dia."
Senyuman itu luntur seketika, digantikan dengan raut datar. "Mas, aku juga memohon sama kamu. Tolong mengerti keadaan kita saat ini, aku juga cinta sama kamu. Tapi, aku juga tak ingin bersama kamu tanpa restu dari orang tuamu. Kalau restu orang tuamu hanya untuk perempuan itu, aku ikhlas."
"Nggak Amor, aku nggak bisa."
"Aku yakin kamu bisa."
Tatapan lembut yang Amora layangkan pada membuat sesak kian mendera di hati. Ia pun menudukkan kepalanya, dirinya sudah terlalu malu kala menatap wajah ayu gadis yang ia cintai itu. "Maaf Mora." ucap Gavin lirih.
Dengan penuh ketegaran hati, lantas Amora menjulurkan tangannya itu kearah Gavin, dan dibalas raut wajah bingung dari sang empu. "Meskipun hubungan kita telah usai, bukan berarti kita harus menjauh kan?."
"Mor---"
"Mari menjadi teman?!"
***
09\06\2024
YOU ARE READING
TE AMO
Teen Fiction"kita itu hanyalah keadaan yang tak seharusnya terjadi." -Amora Katya Kisah ini berawal dari putusnya hubungan yang terjalin diantara Amora dan Galuh yang merupakan seorang kekasih yang sudah mantap untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. N...
