Pagi ini, di SMA Abdi Bangsa yang notabene adalah sekolah dengan siswa-siswi segudang prestasi dan tentunya populer, berhamburan masuk ke arena sekolah yang katanya untuk "menimba ilmu", tapi lebih tepatnya sih bertemu sama teman-teman, I guess. Seperti hari biasa, ada si paling tertib yang sudah berdiri dekat pintu gerbang sama guru piket untuk cek kelengkapan seragam siswa. Ada si paling rajin yang ke sekolah selalu bawa tas lebih dari satu karena isinya semua buku-buku yang diborong dari perpustakaan buat dibaca. Ada si cewek genius dan gengnya yang selalu dikejar-kejar one and only fans ke mana pun perginya. "Ve.... My love, mau aku bawakan tasnya? Ke kantin, yuk, aku traktir makan. Pasti belum sarapan, kan?"
Ada si paling populer, kumpulan cewek anggota Cheerleader di pinggir lapangan basket dan Abas "Anak Basket" super cakep yang sedang men-dribble bola. Semua cewek-cewek entah yang di kelas atas, bawah, tengah, samping bersorak-sorak kesetanan saat lihat Kak Brian yang tinggi, putih, keturunan Jogja - Belanda, pun ketua basket yang selalu bisa memasukkan bola ke ring terutama dari three point line. Jangankan cuma itu, apa pun yang Kak Brian lakukan pasti pada teriak. Usap keringat aja juga pada teriak.
Bola basket yang seharusnya bisa Kak Brian masukkan ke dalam ring, kali ini meleset dan berhenti di kaki sosok asing. Sosok berseragam dibalut jaket jeans biru, berkacamata Aviator, model rambut layered bowl cut ala aktor Korea, berparas tampan khas ras Kaukasoid Mediterania versi Indonesia, warna kulit putih kecoklatan, dan tas punggung yang hanya disematkan di bahu kanan. Sosok itu mengambil bola dan hendak memberikannya kepada salah satu pemain. Tetapi, Kak Brian menghentikannya.
"Hai! Jangan dilemparkan! Coba lo shoot dari titik three point line itu." Kak Brian menunjuk lokasi sosok itu yang berdiri tepat di salah satu three point line. Tas yang tadinya disematkan di bahu kanan, kini disematkan dikedua bahu. Dengan mata fokus ke arah ring, ia lemparkan bola itu ke arah ring dengan mantap, dan ..... "Yeay!!!!!" Semua teriak kagum karena bola itu masuk dengan mulus tanpa ada benturan di papan maupun badan ring. Semua mata tertuju sama sosok itu dan para pemain pun langsung memeluk dan ada yang mengajaknya salaman untuk mengucapkan selamat seakan sudah kenal lama.
Kak Brian dan The Abbas -Abdi Bangsa Basketball Society- mengantar sosok anak baru itu ke jalan menuju ruang kepala sekolah. "Bro, lo harus mau jadi anggota tim basket sekolah ini, ya? Pasti semakin menggunung piala yang bakal kita dapat kalau ada lo!" Itu kalimat yang aku dengar saat mereka berjalan melewati aku dan anggota Veminisme yang lainnya. Tak ada jawaban, hanya anggukan dari anak baru yang menandakan ia setuju. Kenapa aku tahu dia setuju? Terlihat dari anggukan kepalanya yang kulihat walaupun hanya dari belakang punggungnya.
Pertanyaannya adalah dia bakal jadi penghuni kelas mana dan kelas berapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
March Meets Venus
Teen FictionMarch si bulan ketiga masehi bertemu dengan Venus si planet cantik. Bagi March, Venus adalah kompetitor sempurna untuk dia si paling visioner dan membara seperti planet Mars. Tapi bagi Venus, March adalah Tom sedangkan Jerry adalah dirinya. Venus di...
