Prolog

4 0 0
                                        

Venus mengerjapkan matanya saat merasakan tepukan pelan di bahunya.

"Kamu denger gak?! Ditanya tuh jawab, Venus!"

Venus menatap linglung kedua orangtuanya, ia seperti ... dejavu. Kejadian ini jelas pernah terjadi dua tahun lalu, dimana ia baru saja keluar dari pondok pesantren dan Ayahnya bertanya apa maunya sekarang.

"Ngomong yang tegas! Mau lanjut sekolah aja, atau mau apa kamu?!" Kini Ayah tirinya yang bertanya dengan tegas menatap Venus.

Venus menghela nafas dalam, apakah Tuhan sedang berbaik hati padanya? Sehingga dia bisa kembali ke masa lalu untuk menata kembali masa depan? Jika iya, Venus sungguh beruntung.

Kejadian yang pernah Venus lewati selama dua tahun jelas bukan mimpi, Venus masih mengingat dengan detail bagaimana keseharian ia dulu.

Dan kini untuk merubah masa depannya, Venus sudah memutuskan jawaban yang sangat tepat.

"Sekolah. Venus mau sekolah," jawab Venus dengan sungguh-sungguh, tidak ada keraguan di matanya.

"Yasudah, besok kamu daftar jadi murid pindahan. Di SMA Galaksi," ucap Ayah.

Setelah itu Venus kembali ke kamarnya, ia menghela nafas panjang, bibirnya terus merapalkan rasa syukur. Meskipun ini diluar nalar manusia, tapi Venus percaya keajaiban itu ada.

"Terimakasih Tuhan, semoga dengan ini Vee bisa merubah semua yang terjadi di masa depan."

Venus melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ia merebahkan tubuhnya di kasur dan kembali mengingat scene-nya di masa depan.

Dulu Venus tidak berfikir kedepannya bagaimana, ia hanya memikirkan agar ia terbebas dari rumah yang dirasa penjara ini. Venus dulu sangat labil dan implusif, wajar saja ia hanya gadis kecil lima belas tahun yang dipaksa dewasa oleh keadaan.

"Aneh, tapi Vee sangat bersyukur," gumam Venus lalu tak lama matanya terpejam.

Back to pastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang