Bab1. Sirius.

5 0 0
                                        

[Jakarta, Capital City of Indonesia.]

  Diantara puluhan gedung beton pencakar langit yg menjulang tinggi di angkasa ibukota, cahaya matahari terlihat semakin rendah di barat sana,hari kian menyenja.Burung-burung walet berpulangan, terbang rendah melintasi garis cakrawala.

  Di salah satu balkon apartemen termewah di ibukota, seorang Dava pangestu tengah duduk melamun di kursi lipat sambil menyeruput secangkir kopi hitam hangat dan mendengarkan lagu Somebody pleasurenya Azis hendra di platform spotify.

  Lelaki berambut belah tengah itu benar-benar sedang menikmati hakikat sesungguhnya anak Indie di temani semburat oranye di lembayung angkasa nan tinggi di atas sana, diantara gerombolan-gerombolan awan yg saling mengikat.

  Hari ini Minggu sore, tanggal 13 Juni 2024, dua bulan setelah kelulusannya dari Sma. Dava merasa jauh dari dalam lubuk hatinya yg terdalam, dia masih teringat akan sosok paling berkesan mewarnai hati dan hidupnya yg monoton selama ini, setiap hari dalam 356x2,5 tahun.

  Seorang gadis berlesung pipit termanis yg pernah ia kenal, senyuman cantik menawannya bagaikan cahaya rembulan di gelapnya malam yg gelap gulita nan sunyi, rambut hitam panjangnya yg tergerai dan harum adalah candu bagi Dava.

  Tubuh mungil gadis itu sering di gendong Dava ketika gadis mungilnya sedang merajuk kepadanya. Gadis itu memang satu-satunya sumber kebahagiaan bagi Dava, dan gadis itu adalah Sirius.

Sang bintang cemerlang yg paling bersinar di jagat semesta namun juga paling cepat redup di bandingkan bintang yg lain. Dava pangestu rindu akan Siriusnya.

             ***

[2,5 tahun yg lalu/930 hari yg lalu.]

 

  Bangunan SMA Nusabangsa bergaya khas kolonial tua masih terlihat tegak tak termakan usia. Cat berwarna putih gadingnya bersinar diterpa cahaya matahari pagi di hari kamis.

  Minggu pertama di bulan Juni, burung-burung gereja berkicau ceria diatas genteng sekolah. Suasana koridor masih lumayan sepi dari eksistensi siswa dipagi ini.

  Seperti biasanya dan sudah menjadi rutinitas seorang Dava si ketua klub basket Nusabangsa untuk datang ke sekolah sepagi ini, lalu ia akan langsung ke kelas untuk melanjutkan tidurnya sampai lonceng bel masuk kelas berbunyi.

  Semenjak dirinya menjabat sebagai ketua klub basketball di SMA Nusabangsa, dia jadi sering terlambat pulang dan harus kesekolah lebih pagi ketimbang yg lain, ya setidaknya dia juga memiliki alasan lain dibalik semua itu.

  "Lo baru sampai, Dav?"Tanya Adrian, atau panggil saja Drian, teman dekat Dava sekaligus salah satu anggota klub basket, si paling iseng di lapangan dan tongkrongan.

  "Ya,baru aja, kalau, Lo?"Ucap Dava, cowok itu menatap malas ke Drian, kok bisa sih pagi-pagi begini Drian yg notabenenya sering telat sudah berada disekolah, lah tumben, pikirnya.

  "Sama, gue dipaksa Sasha buat dateng kesekolah sepagi ini lah dianya masih dirumah, agak laen emang doi"

  'Lah?Lo nya aja yg bucin banget' batin Dava.

  Dava merogoh kantung celananya untuk mengambil smartphone. Lebih baik ngedengerin playlist album Arctic Monkey di Spotify ketimbang dengerin curhatan bucin unfaedah Drian tentang kisah cintanya dengan Sasha, si anggota Cheerlader sekolah.

  Ngomongin tentang  klub cheerlader, dulu Dava juga pernah menjalin hubungan dekat dengan ketua personel cheerlader, namanya Amanda. Gadis itu mantan pacar Dava yg paling lama memiliki hubungan dengannya. Tetapi hubungan mereka harus kandas akibat hadirnya orang ketiga.

  "Ngab, tadi gue pas di jalan gue ketemu sama cewek cantik baik hati, doi ngebantuin anak-anak SD nyebrang jalan, dan Lo tau doi anak baru di SMA kita, coba aja gue gak punya pacar..."celutuk Varrel tiba-tiba nongol dari balik pintu kelas.

  Varrel si cowok playboy anak klub basket dan juga teman dekat Dava dan Drian. Konon katanya Varrel pernah macarin sekaligus 3 gadis dari anak SMA yg berbeda, benar-benar tipikal the real playboy.

  "Hati-hati Lo Rel, kalo pacar Lo denger bisa merajuk doi" Drian menopang dagunya menggunakan telapak tangan kirinya.

  'Ngomongin cewek aja pada cepet, njir' batin Dava, cowok berambut belah tengah itu menelungkupkan kepalanya keatas meja, not interested dengan topik pembicaraan mereka berdua.

  Lalu kepala itu kembali mendongak, manik netra sekelam malam itu menatap keluar jendela, memandangi langit berwarna biru luas diatas sana, membayangkan betapa membosankannya kehidupannya selama ini.

   Karena Dava yg mereka kenal disekolah hanyalah cangkang untuk menyembunyikan sifat brutal dan kejam ketika berada diluar sana. Dava sang langit kelam di Angkasa nan tinggi.

             ***
To be continue, maaf ya author sering ga bisa update soalnya aku masih kuliah mau persiapan magang hehe, terus support karya aku ya biar aku makin semanggat bikin up ceritanya tolong di vote dong hehe, makasih aku sayang kalian semua, sampai jumpa lagi di bab selanjutnya hahahahaha

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 25, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SIRIUSWhere stories live. Discover now