"Kau sangat terlihat sekali jika malas bersekolah, kau harus tau jika sekolah itu menyenangkan."

Tian mengulum bibirnya "itu untuk beberapa orang, tidak semua anak merasakan senang saat bersekolah."

"Apa yang kau katakan? Bersekolah memang menyenangkan, tapi aku tidak membahas tentang kasus pembullyan, aku hanya berkata jika sekolah itu menyenangkan."

"Jika mendapat teman." Lanjut Tian.

Kalandra menatap serius ke arah Tian "lalu kau kenapa malas untuk bersekolah? Apa ada anak yang membullymu? Atau tidak ada yang ingin berteman dengan dirimu?"

Tian bergerak hingga dia duduk dan menyandarkan tubuhnya pada dinding "aku siapa?"

"Manusia."

"Maksudku aku anak siapa?"

"Pemilik sekolah ini?" Ujar Kalandra tidak yakin, pertanyaan Tian yang tidak jelas membuat pertanyaan dengan jawaban yang bercabang.

Tian mengangguk "kau ingin berteman denganku karena itu?"

Kalandra menggeleng "apa kita berteman? Aku rasa aku tidak pernah mengajakmu berteman."

"Kau benar juga, aku juga yang mendekatimu tapi kau menjauh."

"Jadi apa?"

"Sulit mendapat teman seperti Teana, tidak memandang aku siapa dan tidak memanfaatkan nama orang tua ku. Banyak yang ingin menjadi temanku tapi hanya karena ayahku, lalu jika aku bukan anak dari seorang pemilik sekolah ini, apakah mereka juga gencar mendekati aku dan memintaku sebagai teman?"

Kalandra tak bisa menjawab, dia juga terkejut dengan sekolah yang ia pijak saat ini, terlalu memandang bulu hingga tidak rukun. Berbeda dengan sekolahnya yang menerima perbedaan, mereka semua sama rata dan Kalandra selalu mendapat teman.

"Kau pasti terkejut setelah masuk sekolah ini bukan?"

Kalandra mengangguk "ya, sedikit."

"Aku selalu meminta pada ayah atau bunda untuk memindahkanku sekolah, tapi mereka selalu menolak, alasan yang aku terima karena aku anak tunggal."

Kalandra hanya mengangguk "jadi kau akan tetap mengikuti kelas?"

"Iya, aku sudah membaik. Terimakasih merawatku hingga menungguku untuk sadar, seharusnya kau bisa meninggalkanku."

"Sudah tugasku merawat yang sakit."
.
.
.
Upacara telah usai dilakukan dan Tian baru saja keluar dari ruang UKS, sedangkan Kalandra sebelumnya berpamitan untuk kembali pada lapangan.

Kelas Tian telah ramai dengan murid-murid kelas, dan hal yang paling Tian tidak sukai adalah disaat mereka tengah berkeringat karena upacara, lalu mereka segara berdiri tepat di depan pendingin ruangan, sirkulasi udara yang dihasilkan oleh pendingin udara selalu berputar, itu terkadang membuat bau badan mereka juga tercium pada hiding mereka.

Kelas Tian rusuh itu sudah biasa, banyak anak yang tengah bernyanyi tak jelas, berdiri di atas meja hingga seluruh tubuhnya benar-benar terkena pendingin ruangan, ada yang meletakkan kepalanya pada meja dan memjamkan matanya. Memang pemandangan biasa sebelum sepuluh menit kemudian masuk untuk memulai pelajaran.

Tian duduk di kursinya, di sampingnya telah ada Teana yang tengah menatapnya dengan curiga "apa?" Tanyanya, dia tidak mengerti kenapa Teana menatapnya seolah dirinya adalah pencuri.

"Kau memiliki hubungan apa dengan Kalandra?"

"Kenapa kau bertanya?"

"Aku mengingat dengan perjanjian kita sebelumnya, jika aku memiliki hubungan dengan Kalandra, kau pihak bawah atau pihak atas?"

"Atas."

Mulut Teana membulat tak percaya "maaf, mataku ini masih jelas untuk melihat, tidak ada seorang pihak atas berkelakuan seperti pihak bawah, dan kau." Jarinya menunjuk ke wajah Tian dengan tubuh yang dicondongkan, "aku melihat bagaimana kau berada di gendongan Kalandra sedangkan Kalandra berlari dengan wajah yang khawatir, bahkan sebelumnya dia juga khawatir saat tau dirimu terkena alergi, kau ingin menutupi jika kau memiliki hubungan dengan Kalandra karena kau menjadi pihak bawah?"

"Tidak ada, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Kalandra, kami hanya teman."

"Kau ingin menyerah?"

"Apa?"

"Tentang taruhan kita."

Tian terdiam memikirkan ucapan Teana, sulit untuk mendekati Kalandra apalagi membuatnya menjadi pihak bawah, tapi dia juga tidak kau menyerah dalam tantangan dengan mudah padahal dia menekankan jika dirinya adalah pihak atas "aku tidak tau." Lirihnya.

"Hahaha, kau itu harus sadar jika dirimu adalah pihak bawah Tian, astaga kemana otakmu itu."

Bersambung...

KalandraWhere stories live. Discover now